Dukung Kegiatan Perjusa, MKT Untidar Ikut Serta Dampingi  Siswa SMPN 13 Magelang

Sejumlah siswa mengikuti kegiatan Perkemahan Jumat-Sabtu (Perjusa) di SMP Negeri 13 Magelang, Jumat-Sabtu (14-15/8/2026). Dalam salah satu rangkaian kegiatan, peserta mengikuti aktivitas di luar lingkungan sekolah dengan didampingi pembina dan pendamping. (Dok. Pribadi/MKT Untidar SMPN 13 Magelang)
Sejumlah siswa mengikuti kegiatan Perkemahan Jumat-Sabtu (Perjusa) di SMP Negeri 13 Magelang, Jumat-Sabtu (14-15/8/2026). Dalam salah satu rangkaian kegiatan, peserta mengikuti aktivitas di luar lingkungan sekolah dengan didampingi pembina dan pendamping. (Dok. Pribadi/MKT Untidar SMPN 13 Magelang)

Magelang, Krajan.id – Kegiatan Perkemahan Jumat-Sabtu (Perjusa) di SMP Negeri 13 Magelang tidak sekadar menjadi agenda peringatan Hari Pramuka ke-65. Perkemahan yang digelar pada 14-15 Agustus 2026 itu menjadi ruang bagi 190 siswa kelas VII untuk mengenal kehidupan kepramukaan sekaligus belajar mandiri di luar suasana pembelajaran formal.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari rangkaian Penerimaan Tamu Penggalang (PTP) bagi siswa baru kelas VII. Melalui kegiatan itu, para siswa dipersiapkan untuk secara resmi menjadi bagian dari Gugus Depan (Gudep) SMP Negeri 13 Magelang.

Bacaan Lainnya

Mahasiswa Magang Kependidikan Terintegrasi (MKT) Universitas Tidar (Untidar) turut terlibat dalam pelaksanaan kegiatan. Sebanyak 13 mahasiswa MKT Untidar membantu mengawasi serta mendampingi peserta selama rangkaian Perjusa berlangsung.

Salah satu Pembina Pramuka SMP Negeri 13 Magelang, Pratiwi, mengatakan Perjusa dirancang bukan semata sebagai kegiatan tahunan untuk memperingati Hari Pramuka. Menurut dia, perkemahan menjadi sarana pembentukan karakter siswa melalui pengalaman langsung.

“Tujuan utamanya ialah sebagai wadah pembentukan karakter, kedisiplinan, dan kemandirian siswa, memperingati Hari Pramuka ke-65, serta melaksanakan prosesi Penerimaan Tamu Penggalang bagi siswa kelas VII agar resmi menjadi bagian dari Penggalang Gudep SMPN 13 Magelang,” ujar Pratiwi.

Kegiatan Perjusa tahun ini melibatkan berbagai unsur sekolah. Sebanyak 190 siswa kelas VII menjadi peserta utama. Mereka didampingi 62 siswa kelas VIII yang bertugas sebagai Panitia Dewan Penggalang serta 37 siswa kelas VIII dan IX yang menjalankan peran sebagai Dewan Penggalang senior dan koordinator.

Selain siswa, pelaksanaan kegiatan didukung 23 Pembina Pramuka bersama guru pendamping, 13 mahasiswa MKT Untidar, serta sembilan mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG).

Pembagian tugas dilakukan sesuai peran masing-masing. Pembina dan guru bertanggung jawab memberikan arahan sekaligus memastikan aspek teknis dan keamanan kegiatan. Sementara itu, Dewan Penggalang menjadi pelaksana kegiatan di lapangan, termasuk mendampingi adik kelas dan menjadi juri dalam sejumlah perlombaan.

Adapun siswa kelas VII diarahkan untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan serta menjaga ketertiban di dalam regu masing-masing. Dalam pelaksanaan di lapangan, mahasiswa MKT Untidar turut membantu pengawasan dan pendampingan peserta.

Keterlibatan mahasiswa MKT Untidar menjadi bagian dari proses pembelajaran kependidikan yang berlangsung secara langsung di lingkungan sekolah. Mereka tidak hanya berada di ruang kelas, tetapi ikut mengambil bagian dalam aktivitas siswa, termasuk kegiatan ekstrakurikuler yang membutuhkan pendampingan dan pengawasan.

Selama dua hari, berbagai kegiatan disusun untuk memberikan pengalaman yang beragam kepada peserta. Agenda dimulai dengan upacara pembukaan dan peringatan Hari Pramuka, kemudian dilanjutkan dengan lomba antaregu, memasak bersama, api unggun, pentas seni, renungan malam, ibadah berjamaah, senam pagi, hingga jelajah lingkungan atau outbound.

Pratiwi mengatakan variasi kegiatan tersebut sengaja disusun agar siswa memperoleh pengalaman yang lebih luas selama mengikuti perkemahan.

“Kegiatannya sangat beragam, diawali Upacara Pembukaan dan Peringatan Hari Pramuka, lomba antar regu, upacara api unggun dan pentas seni, renungan malam, ibadah berjamaah, senam pagi, hingga jelajah lingkungan atau outbound,” tuturnya.

Salah satu rangkaian yang menjadi perhatian peserta berlangsung pada malam hari. Setelah api unggun dan pentas seni, kegiatan dilanjutkan dengan sesi “jalan senyap” sekitar pukul 03.00 WIB.

Sejumlah siswa SMP Negeri 13 Magelang mengikuti kegiatan Perkemahan Jumat-Sabtu (Perjusa) dalam rangka memperingati Hari Pramuka ke-65 sekaligus Penerimaan Tamu Penggalang, Jumat-Sabtu (14-15/8/2026). (Dok. Pribadi/MKT Untidar SMPN 13 Magelang)
Sejumlah siswa SMP Negeri 13 Magelang mengikuti kegiatan Perkemahan Jumat-Sabtu (Perjusa) dalam rangka memperingati Hari Pramuka ke-65 sekaligus Penerimaan Tamu Penggalang, Jumat-Sabtu (14-15/8/2026). (Dok. Pribadi/MKT Untidar SMPN 13 Magelang)

Dalam kegiatan tersebut, peserta berjalan secara berurutan bersama regunya mengelilingi lingkungan sekolah dengan pendampingan kakak pembina. Peserta mengenakan setangan leher dan mengikuti arahan yang telah ditentukan panitia.

Setelah menyelesaikan rangkaian tugas, anggota regu kemudian dipisahkan untuk mengikuti sesi renungan malam. Dua mahasiswa MKT Untidar turut terlibat dalam pendampingan sekaligus pengisian kegiatan tersebut.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan tradisi yang menjadi bagian khas SMP Negeri 13 Magelang, yakni “Operasi Semut”. Kegiatan tersebut berupa aksi gotong royong membersihkan lingkungan sekolah sebelum upacara penutupan Perjusa dilaksanakan.

Bagi sekolah, rangkaian tersebut menjadi cara untuk menghubungkan kegiatan kepramukaan dengan pembentukan sikap siswa. Nilai yang ditanamkan tidak hanya disampaikan melalui materi, tetapi dipraktikkan secara langsung selama siswa berada di lingkungan perkemahan.

Pratiwi menjelaskan pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan kegiatan Perjusa tetap memiliki peran penting dalam pendidikan karakter.

“Karena PERJUSA memberi pengalaman langsung atau learning by doing yang tidak didapatkan di dalam kelas formal. Di perkemahan, siswa belajar bertahan hidup, beradaptasi dengan lingkungan luar, serta menguji ketangkasan mental dan fisiknya,” jelasnya.

Melalui aktivitas sehari-hari selama perkemahan, siswa juga dilatih mengurus berbagai kebutuhan secara mandiri. Mereka harus merapikan barang pribadi, menyiapkan pakaian, mengatur waktu ibadah dan makan, serta menjaga kebersihan lingkungan.

Menurut Pratiwi, proses tersebut menjadi bagian dari penerapan nilai-nilai Dasa Darma Pramuka dalam kehidupan sehari-hari. Siswa tidak hanya mengenal konsep kemandirian, kedisiplinan, gotong royong, kepemimpinan, dan kepedulian terhadap lingkungan, tetapi juga mempraktikkannya selama kegiatan.

“Ini secara alami menempa kemandirian dan kedisiplinan mereka,” ujar Pratiwi.

Untuk memastikan kegiatan berjalan sesuai rencana, persiapan dilakukan sebelum hari pelaksanaan. Panitia membentuk kepanitiaan, menerbitkan surat keputusan (SK), menyusun proposal dan Rencana Anggaran Biaya (RAB), melakukan pemetaan regu, memberikan pembekalan kepada Dewan Penggalang, serta melakukan sosialisasi dan perizinan kepada orang tua.

Peserta juga mendapat ketentuan mengenai perlengkapan yang harus dibawa. Perlengkapan pribadi antara lain seragam Pramuka, alat salat, alat makan, obat pribadi, senter, serta matras atau sleeping bag. Sementara perlengkapan regu mencakup kebutuhan memasak dan alas tidur.

Aspek keamanan dan kesehatan menjadi bagian lain yang dipersiapkan sekolah. Menurut Pratiwi, panitia menugaskan seksi keamanan untuk melakukan ronda secara bergantian selama 24 jam.

Sementara itu, seksi PPPK atau kesehatan disiagakan di posko medis. Posko tersebut dilengkapi obat-obatan dan berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan terdekat, termasuk Puskesmas atau rumah sakit, apabila terjadi kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Pelaksanaan Perjusa juga tidak sepenuhnya berlangsung tanpa kendala. Kondisi fisik peserta yang mudah lelah menjadi salah satu tantangan yang dihadapi panitia. Selain itu, banyaknya agenda dalam waktu yang relatif singkat membuat pengelolaan waktu harus dilakukan secara cermat.

Panitia mengantisipasi kondisi tersebut dengan menyiapkan rencana alternatif atau Plan B. Rekayasa waktu juga dilakukan secara fleksibel menyesuaikan kondisi di lapangan. Penyesuaian tersebut dilakukan tanpa menghilangkan esensi kegiatan yang telah dirancang sebelumnya.

Antusiasme peserta menjadi salah satu catatan dalam pelaksanaan Perjusa tahun ini. Bagi siswa kelas VII, kegiatan tersebut menjadi pengalaman perkemahan pertama mereka di jenjang SMP. Sementara bagi Dewan Penggalang kelas VIII dan IX, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk menjalankan tanggung jawab sekaligus melatih kepemimpinan.

“Sangat luar biasa dan penuh semangat! Bagi siswa kelas VII, ini adalah momen perkemahan pertama mereka di jenjang SMP. Sementara bagi Dewan Penggalang (kelas VIII & IX), mereka sangat antusias membimbing dan menunjukkan jiwa kepemimpinannya,” ungkap Pratiwi.

Keterlibatan mahasiswa MKT Untidar menambah unsur pendampingan dalam kegiatan tersebut. Bersama pembina, guru pendamping, Dewan Penggalang, mahasiswa PPG, dan warga sekolah lainnya, mahasiswa MKT membantu memastikan kegiatan berjalan tertib.

Kolaborasi berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa kegiatan kependidikan di sekolah tidak hanya berlangsung melalui pembelajaran akademik. Kegiatan ekstrakurikuler seperti Pramuka juga menjadi ruang pembelajaran yang memungkinkan siswa berlatih mengambil keputusan, bekerja sama, menjaga tanggung jawab, serta beradaptasi dengan situasi di luar kelas.

Bagi siswa kelas VII, Perjusa menjadi pengalaman awal untuk memahami kehidupan kepramukaan di lingkungan SMP Negeri 13 Magelang. Sementara bagi Dewan Penggalang dan para pendamping, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk menjalankan peran masing-masing dalam mendukung proses pembentukan karakter peserta didik.

Dengan rangkaian kegiatan yang melibatkan siswa, guru, pembina, mahasiswa MKT Untidar, dan mahasiswa PPG, Perjusa SMP Negeri 13 Magelang pada 14-15 Agustus 2026 menjadi bagian dari proses pendidikan yang berlangsung melalui pengalaman langsung. Nilai kemandirian, kedisiplinan, kepemimpinan, kerja sama, dan kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian yang dibangun selama dua hari kegiatan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *