Mahasiswa KKM 82 UNIBA Kenalkan Batik Lewat Kegiatan Mewarnai Totebag

Dokumentasi bersama setelah kegiatan mengenalkan batik kepada siswa Madrasah Diniyah Insanul Kamil, Desa Muncangkopong, Kecamatan Cikulur, melalui kegiatan mewarnai motif batik pada totebag. (Dok. Pribadi/KKM 82 UNIBA)
Dokumentasi bersama setelah kegiatan mengenalkan batik kepada siswa Madrasah Diniyah Insanul Kamil, Desa Muncangkopong, Kecamatan Cikulur, melalui kegiatan mewarnai motif batik pada totebag. (Dok. Pribadi/KKM 82 UNIBA)

Muncangkopong, Krajan.id – Pengenalan budaya kepada anak-anak tidak selalu harus dilakukan melalui pembelajaran di dalam kelas. Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 82 Universitas Bina Bangsa (UNIBA) Tahun 2026 mengenalkan batik kepada siswa Madrasah Diniyah Insanul Kamil, Desa Muncangkopong, Kecamatan Cikulur, melalui kegiatan mewarnai motif batik pada totebag.

Kegiatan yang menjadi bagian dari program bidang pendidikan tersebut berlangsung pada Rabu, (5/8/2026), pukul 14.00-16.00 WIB. Para siswa diajak mengenal batik sekaligus menuangkan kreativitas melalui kegiatan mewarnai totebag yang telah dilengkapi motif batik.

Bacaan Lainnya

Program tersebut menggunakan pendekatan yang berbeda dari kegiatan membatik pada umumnya. Mahasiswa KKM tidak mengajak siswa membuat pola batik dari awal, melainkan menyiapkan totebag yang telah dicetak dengan motif batik. Siswa kemudian diberikan kesempatan untuk menentukan warna dan memadukannya sesuai kreativitas masing-masing.

Pendekatan itu membuat kegiatan lebih sederhana untuk diikuti siswa, terutama mereka yang masih berada pada usia dini dan tingkat sekolah dasar. Di sisi lain, kegiatan tetap diarahkan untuk memberikan pemahaman awal mengenai batik sebagai bagian dari budaya Indonesia.

Mengenalkan Batik Sebelum Mengajak Siswa Berkarya

Sebelum mulai mewarnai, mahasiswa KKM memberikan pengenalan singkat mengenai batik kepada para siswa. Materi mencakup pengertian batik, motif yang telah tercetak pada totebag, serta makna atau filosofi yang terkandung di dalam motif tersebut.

Materi disampaikan dengan bahasa yang ringan dan disesuaikan dengan usia siswa. Cara penyampaian tersebut dilakukan agar pengenalan mengenai batik dapat diterima dengan mudah tanpa membuat kegiatan terasa seperti pembelajaran formal di ruang kelas.

Pengenalan motif menjadi bagian penting dari kegiatan karena siswa tidak langsung diarahkan untuk mewarnai. Mereka terlebih dahulu mendapatkan gambaran mengenai objek yang akan dibuat sehingga proses berkarya memiliki konteks budaya.

Dengan demikian, totebag tidak hanya menjadi media untuk menuangkan warna. Siswa juga diperkenalkan pada gagasan bahwa motif batik memiliki cerita dan nilai budaya yang melekat di dalamnya.

Pendekatan semacam itu membuat unsur edukasi dan praktik berjalan bersamaan. Siswa memperoleh pengetahuan mengenai batik sekaligus mendapatkan pengalaman mengolahnya menjadi sebuah karya yang dapat mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Siswa Bebas Memilih Warna

Setelah mendapatkan penjelasan, siswa mulai mengerjakan totebag masing-masing. Setiap siswa memperoleh satu totebag bermotif batik dan peralatan berupa cat kain serta kuas yang telah disediakan oleh mahasiswa KKM.

Dalam proses tersebut, siswa diberi kebebasan memilih dan memadukan warna sesuai selera serta imajinasi masing-masing. Tidak ada satu pilihan warna yang harus diikuti seluruh siswa sehingga setiap totebag dapat memiliki tampilan yang berbeda.

Kebebasan dalam menentukan warna menjadi salah satu bagian yang mendorong siswa untuk lebih aktif selama kegiatan. Mereka tidak hanya mengikuti instruksi, tetapi juga mengambil keputusan sendiri mengenai warna yang akan digunakan pada bagian-bagian tertentu dari motif.

Mahasiswa KKM bersama pihak madrasah mendampingi siswa selama proses pengerjaan. Pendampingan dilakukan ketika siswa mengalami kesulitan, termasuk saat mencampur warna atau ketika warna keluar dari garis motif.

Pendampingan tersebut sekaligus menjaga agar kegiatan tetap berjalan terarah. Siswa dapat bertanya dan memperoleh bantuan ketika menemui kendala, sementara proses mewarnai tetap memberikan ruang bagi mereka untuk bereksplorasi.

Antusiasme siswa terlihat saat kegiatan berlangsung. (Dok. Pribadi/KKM 82 UNIBA)
Antusiasme siswa terlihat saat kegiatan berlangsung. (Dok. Pribadi/KKM 82 UNIBA)

Antusiasme siswa terlihat selama kegiatan berlangsung. Mereka aktif mengerjakan totebag masing-masing dan menunjukkan hasil karyanya kepada teman-teman sebaya. Interaksi tersebut membuat kegiatan tidak hanya menjadi aktivitas individual, tetapi juga menciptakan suasana belajar bersama.

Kreativitas Menjadi Bagian dari Pembelajaran

Kegiatan mewarnai motif batik dirancang tidak hanya untuk mengenalkan budaya, tetapi juga memberikan pengalaman belajar melalui aktivitas kreatif. Dalam prosesnya, siswa berhadapan langsung dengan pola, warna, kuas, dan media kain.

Aktivitas tersebut mendorong siswa untuk memperhatikan detail motif agar warna yang diberikan tetap sesuai dengan pola yang tersedia. Mereka juga perlu menentukan kombinasi warna dan menyelesaikan karya secara bertahap.

Melalui proses tersebut, siswa diharapkan dapat mengembangkan kreativitas, ketelitian, kesabaran, dan kepercayaan diri. Hasil karya yang dapat dilihat secara langsung juga memberikan pengalaman bahwa sebuah pekerjaan dapat menghasilkan sesuatu yang bisa digunakan.

Bagi siswa, totebag yang telah selesai diwarnai bukan sekadar hasil kegiatan. Benda tersebut menjadi karya yang dibuat melalui pilihan warna dan kreativitas mereka sendiri.

Model pembelajaran berbasis praktik juga memberikan alternatif pengalaman belajar di luar kegiatan rutin madrasah. Siswa memperoleh kesempatan untuk belajar mengenai budaya sekaligus melakukan aktivitas seni secara langsung.

Hal itu menjadi salah satu nilai dari kegiatan KKM di bidang pendidikan. Materi mengenai budaya tidak hanya disampaikan melalui penjelasan, tetapi diterjemahkan ke dalam aktivitas yang dapat dilakukan siswa.

Batik Dikenalkan Melalui Aktivitas yang Dekat dengan Anak

Pemilihan totebag sebagai media kegiatan juga membuat pengenalan batik menjadi lebih dekat dengan aktivitas sehari-hari siswa. Berbeda dengan pengenalan budaya yang hanya berakhir pada materi atau penjelasan, siswa dapat membawa hasil karyanya setelah kegiatan selesai.

Melalui media tersebut, mahasiswa KKM berupaya membuat batik lebih mudah dikenali oleh siswa. Motif batik yang sebelumnya mungkin hanya mereka lihat sebagai bagian dari pakaian atau kain diperkenalkan melalui kegiatan yang melibatkan kreativitas mereka sendiri.

Cara tersebut juga memungkinkan siswa berinteraksi secara langsung dengan motif batik. Mereka mengamati pola, menentukan warna, kemudian menerapkannya pada permukaan totebag.

Pengalaman tersebut diharapkan dapat menumbuhkan ketertarikan siswa terhadap budaya Indonesia sejak usia dini. Pengenalan dilakukan melalui aktivitas yang sederhana sehingga siswa dapat memahami budaya tanpa merasa sedang mengikuti kegiatan yang terlalu formal.

Mahasiswa KKM berharap proses tersebut dapat menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran bahwa budaya Indonesia, termasuk batik, merupakan bagian dari kehidupan yang perlu dikenal dan dihargai.

Madrasah Sambut Positif Kegiatan

Pihak Madrasah Diniyah Insanul Kamil menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. Kehadiran mahasiswa KKM memberikan pengalaman baru kepada siswa melalui aktivitas edukatif yang berbeda dari kegiatan belajar mengaji yang biasa mereka jalani.

Kegiatan tersebut sekaligus mempertemukan unsur pendidikan, kreativitas, dan pengenalan budaya dalam satu aktivitas. Siswa memperoleh ruang untuk belajar dan berkarya dengan pendampingan mahasiswa serta pihak madrasah.

Pihak madrasah juga berharap kegiatan edukatif yang memiliki muatan budaya dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan. Harapan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan pengabdian tidak hanya dipandang sebagai aktivitas sesaat, tetapi dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar siswa.

Bagi mahasiswa KKM, keterlibatan dalam kegiatan pendidikan juga menjadi kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat. Program yang dilaksanakan tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga pada bagaimana materi tersebut dapat diterima dan dipraktikkan oleh siswa.

Mahasiswa KKM Dorong Pengenalan Budaya Sejak Dini

Salah satu mahasiswa KKM UNIBA mengatakan kegiatan tersebut ditujukan untuk mengenalkan budaya Indonesia kepada siswa dengan pendekatan yang menyenangkan.

“Melalui kegiatan mewarnai motif batik pada totebag ini, kami ingin mengenalkan budaya Indonesia kepada siswa dengan cara yang menyenangkan dan kreatif. Harapannya, siswa dapat mengenal, mencintai, dan ikut melestarikan budaya batik sejak dini,” ujar salah satu mahasiswa KKM 82 UNIBA.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan mewarnai tidak ditempatkan semata-mata sebagai aktivitas seni. Ada tujuan edukatif berupa pengenalan budaya sekaligus upaya membangun ketertarikan siswa terhadap batik.

Pendekatan melalui kegiatan kreatif juga memungkinkan siswa menerima materi secara lebih informal. Mereka belajar sambil melakukan aktivitas yang membutuhkan keterlibatan langsung sehingga pengetahuan mengenai batik tidak berhenti pada penjelasan.

Dalam konteks kegiatan pengabdian kepada masyarakat, model seperti ini menjadi salah satu cara mahasiswa menerjemahkan program pendidikan ke dalam aktivitas yang dekat dengan kebutuhan dan karakteristik peserta.

Ditutup dengan Dokumentasi dan Pameran Hasil Karya

Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, siswa, mahasiswa KKM, dan pihak madrasah mengikuti sesi dokumentasi bersama. Kegiatan juga diisi dengan pameran kecil hasil totebag yang telah diwarnai siswa.

Hasil karya tersebut menjadi bagian dari penutup kegiatan sekaligus menunjukkan proses yang telah dilalui siswa sejak mendapatkan pengenalan mengenai batik hingga menghasilkan karya masing-masing.

Bagi siswa, pengalaman tersebut memberikan kesempatan untuk melihat hasil kreativitas mereka dan membandingkannya dengan karya teman-teman lain. Perbedaan pilihan warna menjadi bagian dari keberagaman hasil yang muncul dari satu motif dasar yang sama.

Mahasiswa KKM UNIBA berharap kegiatan serupa dapat menjadi inspirasi bagi pelaksanaan program pengabdian masyarakat lainnya, terutama kegiatan yang berupaya mengenalkan budaya dan kearifan lokal kepada generasi muda.

Pengenalan budaya melalui aktivitas sederhana seperti mewarnai dapat menjadi salah satu alternatif pembelajaran yang menggabungkan pengetahuan dan praktik. Dengan pendekatan yang sesuai usia, siswa tidak hanya diperkenalkan pada suatu budaya, tetapi juga diberi kesempatan untuk berinteraksi langsung dengannya.

Kegiatan di Madrasah Diniyah Insanul Kamil tersebut pada akhirnya menempatkan siswa sebagai pelaku utama dalam proses belajar. Mahasiswa KKM berperan sebagai pendamping dan fasilitator, sementara siswa memperoleh ruang untuk memilih, mencoba, dan menyelesaikan karya mereka sendiri.

Melalui kegiatan itu, pengenalan batik dilakukan bukan sekadar dengan menjelaskan bahwa batik merupakan bagian dari budaya Indonesia. Siswa diajak mengenali motif, memahami nilai yang diperkenalkan, kemudian menerjemahkannya melalui pilihan warna pada totebag.

Cara tersebut membuat pesan pelestarian budaya hadir dalam bentuk yang lebih sederhana dan dekat dengan pengalaman anak. Dari sebuah totebag bermotif batik, siswa memperoleh kesempatan untuk belajar tentang budaya sekaligus menghasilkan karya yang lahir dari kreativitas mereka sendiri.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *