Kradenan, Krajan.id – Kelompok KKN 225 Universitas Sebelas Maret (UNS) mengenalkan teknik seni lukis Chui Hua kepada siswa kelas 4 dan 5 SD Kradenan 01, Desa Kradenan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Semarang, Senin (4/8/2026).
Kegiatan bertajuk 吹画 CHUI HUA (Cipta Hembus Unik Inspirasi) tersebut mengajak siswa menghasilkan karya seni melalui teknik hembusan tinta atau cat. Berbeda dari aktivitas menggambar menggunakan pensil atau kuas, siswa memanfaatkan hembusan napas untuk mengarahkan tinta sehingga membentuk pola yang kemudian dapat dikembangkan menjadi berbagai objek sesuai imajinasi.
Penanggung jawab program KKN 225 UNS, Lutfia Nias Maharani, mengatakan teknik tersebut dipilih karena sederhana, menarik, dan belum umum dilakukan oleh siswa. Selain itu, Chui Hua dinilai tidak menuntut kemampuan menggambar yang tinggi sehingga siswa memiliki ruang lebih luas untuk bereksperimen.
Melalui teknik tersebut, siswa tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan gambar, tetapi juga didorong mengeksplorasi bentuk yang muncul secara spontan.
Pada awal kegiatan, sebagian siswa terlihat penasaran dengan teknik yang digunakan. Ketika mulai meniup tinta atau cat, antusiasme siswa meningkat. Beberapa siswa bahkan mencoba teknik tersebut berulang kali untuk melihat pola berbeda yang dapat dihasilkan.

Antusiasme itu juga terlihat ketika pola tinta yang semula tidak beraturan mulai dimaknai menjadi berbagai bentuk. Ada siswa yang melihat pola tersebut sebagai pohon, bunga, hewan, maupun objek lain.
Menurut Lutfia, hal yang menarik dari kegiatan tersebut adalah satu pola dapat dimaknai secara berbeda oleh setiap siswa. Perbedaan interpretasi itu kemudian mendorong siswa mengembangkan bentuk sesuai dengan imajinasi masing-masing.
“Setiap siswa dapat melihat bentuk yang berbeda dari pola yang sama,” kata Lutfia.
Kreativitas Tidak Diukur dari Hasil Akhir
Kelompok KKN 225 UNS tidak menjadikan bagus atau tidaknya lukisan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan kegiatan. Proses ketika siswa mencoba, mengeksplorasi, dan mengembangkan gagasan menjadi bagian penting yang diamati mahasiswa.
Dari sisi kreativitas, siswa terlihat mulai mencoba berbagai bentuk tanpa hanya mengikuti contoh yang diberikan. Sementara dari sisi imajinasi, siswa mampu memberikan makna tertentu terhadap pola tinta dan mengembangkannya menjadi objek berdasarkan pemikiran masing-masing.
Teknik Chui Hua juga memberikan pengalaman bagi siswa untuk mengatur posisi alat, jumlah tinta, serta kekuatan dan arah hembusan. Kemampuan mengendalikan berbagai unsur tersebut menjadi bagian dari latihan motorik siswa selama kegiatan.
Pendekatan tersebut membuat siswa tidak dibebani tuntutan untuk menghasilkan gambar yang sempurna. Mereka justru mendapatkan kesempatan untuk mencoba dan menemukan bentuk sendiri.
Perbedaan cara berekspresi juga terlihat antara siswa kelas 4 dan kelas 5. Siswa kelas 4 secara umum cenderung lebih spontan dan banyak mencoba tanpa terlalu memikirkan hasil akhir. Sementara sejumlah siswa kelas 5 terlihat lebih mempertimbangkan bentuk yang ingin dibuat dan berusaha mengembangkan pola hembusan menjadi gambar tertentu.
Namun, mahasiswa KKN menilai perbedaan tersebut tidak dapat dijadikan patokan mutlak. Setiap siswa memiliki tingkat kreativitas dan cara berekspresi yang berbeda.
Belajar Mengendalikan Hembusan
Di balik kegiatan yang terlihat sederhana, siswa menghadapi sejumlah tantangan ketika menggunakan teknik Chui Hua. Salah satunya adalah mengatur kekuatan dan arah hembusan.
Beberapa siswa pada awalnya meniup terlalu kuat sehingga tinta menyebar terlalu jauh. Sebaliknya, ada siswa yang meniup terlalu pelan sehingga pola tinta tidak berkembang secara maksimal.
Takaran tinta atau cat juga menjadi hal yang perlu diperhatikan. Penggunaan tinta yang terlalu banyak dapat memengaruhi bentuk karya yang dihasilkan.
Bagi mahasiswa pendamping, tantangan tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis. Mereka juga harus memastikan siswa mendapatkan bantuan ketika mengalami kesulitan tanpa terlalu mengarahkan hasil akhir karya.
Ketua Kelompok KKN 225 UNS Raka Arya Sadewa mengatakan pendamping perlu memberikan ruang kepada siswa untuk menentukan sendiri bentuk dan gagasan yang ingin dikembangkan.
Pendekatan tersebut penting agar siswa tidak sekadar meniru karya atau contoh yang diberikan, melainkan memiliki pengalaman dalam mengambil keputusan kreatif.
Siswa yang Semula Ragu Mulai Berani Mencoba
Kegiatan Chui Hua juga menunjukkan perubahan sikap pada sejumlah siswa. Pada awal kegiatan, beberapa siswa terlihat malu atau ragu untuk mencoba karena khawatir hasil karya mereka tidak bagus.
Setelah melihat teman-temannya mulai mencoba, siswa yang semula pasif kemudian ikut berpartisipasi. Kepercayaan diri mereka juga mulai terlihat ketika menunjukkan hasil karya kepada teman maupun mahasiswa pendamping.
Interaksi antarsiswa turut berkembang selama kegiatan. Beberapa siswa berdiskusi mengenai hasil karya yang dibuat, menanyakan pendapat teman, hingga membantu ketika ada siswa lain yang mengalami kesulitan menggunakan teknik hembusan.
Bagi Kelompok KKN 225 UNS, situasi tersebut menjadi bagian penting dari kegiatan karena seni tidak hanya menjadi sarana menghasilkan karya, tetapi juga membuka ruang bagi siswa untuk berinteraksi dan berani mengekspresikan gagasan.
Berdasarkan pengamatan mahasiswa, kegiatan seni memang memiliki ruang dalam aktivitas pembelajaran di sekolah. Namun, pelaksanaannya tetap disesuaikan dengan kegiatan dan materi pembelajaran.
Karena itu, Chui Hua dipandang dapat menjadi salah satu alternatif aktivitas seni yang praktis dan menyenangkan. Siswa dapat belajar melalui eksperimen tanpa dibebani keharusan menghasilkan gambar yang sempurna.
Guru Beri Tanggapan Positif
Guru SD Kradenan 01 memberikan tanggapan positif terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. Guru melihat siswa cukup antusias mengikuti kegiatan dan tertarik dengan teknik yang berbeda dari aktivitas menggambar pada umumnya.
Beragamnya hasil karya juga menunjukkan bahwa teknik sederhana dapat menghasilkan bentuk yang berbeda ketika dikembangkan oleh siswa dengan imajinasi masing-masing.
Kelompok KKN 225 UNS menilai kegiatan serupa masih memungkinkan dikembangkan oleh sekolah setelah program KKN berakhir. Pelaksanaannya dapat disesuaikan dengan waktu, fasilitas, serta kondisi siswa.
Agar tidak berhenti sebagai kegiatan satu kali, mahasiswa menyarankan adanya panduan sederhana yang dapat digunakan guru maupun siswa. Panduan tersebut dapat memuat bahan yang diperlukan, langkah-langkah teknik hembusan, serta contoh pengembangan karya.
Namun, contoh tersebut tetap perlu ditempatkan sebagai referensi, bukan batasan bagi siswa.
“Manfaat kegiatan tidak hanya berupa pengalaman membuat satu karya, tetapi juga dapat mendorong siswa untuk terus berkreasi dan berani mencoba bentuk seni yang baru,” ujar Lutfia.
Kegiatan 吹画 CHUI HUA menjadi salah satu bentuk kontribusi Kelompok KKN 225 UNS dalam menghadirkan aktivitas kreatif di lingkungan sekolah. Melalui pendekatan yang sederhana, siswa diajak memahami bahwa sebuah karya tidak selalu harus dimulai dari gambar yang sudah direncanakan.
Pola yang muncul secara spontan pun dapat dikembangkan menjadi karya ketika siswa diberi ruang untuk mengamati, menafsirkan, dan mengeksplorasinya.
Kelompok KKN 225 UNS terdiri atas Raka Arya Sadewa, Sakti Adi Wijaya Basuki Putra, Adelia Dewi, Lutfia Nias Maharani, Annisaa Dwi Septianti, Dieny Azmi Zainab, Shaila Azahra Adhelia, Hannove Kurniasih, Arina Al haq, dan Syahla Muti’ Ghina Athaya. Kelompok tersebut berada di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Khresna Bayu Sangka, SE, MM, Ph.D, CMILT.





