KKN 241 UNS Ajarkan Ibu-Ibu PKK Sawo Manfaatkan Cangkang Telur Menjadi Tepung Pupuk

Kelompok KKN 241 Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Ibu PKK melakakukan dokumentasi bersama setelah pelaksanaan pelatihan memanfaatkan limbah cangkang telur di Desa Sawo, Sumberharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman. (Dok. Pribadi/KKN 241 UNS)
Kelompok KKN 241 Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Ibu PKK melakakukan dokumentasi bersama setelah pelaksanaan pelatihan memanfaatkan limbah cangkang telur di Desa Sawo, Sumberharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman. (Dok. Pribadi/KKN 241 UNS)

Sumberharjo, Krajan.id – Kelompok KKN 241 Universitas Sebelas Maret (UNS) mengajak ibu-ibu PKK Desa Sawo, Sumberharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, memanfaatkan limbah cangkang telur menjadi tepung yang dapat digunakan untuk tanaman. Pelatihan tersebut digelar pada (30/7/2026) sebagai upaya memberikan keterampilan sederhana dalam mengolah limbah rumah tangga menjadi sesuatu yang kembali bermanfaat.

Kegiatan menyasar ibu-ibu PKK RT 04, RT 05, dan RT 06. Pelatihan dilakukan melalui penyampaian materi dan praktik langsung pengolahan cangkang telur menjadi tepung menggunakan peralatan yang umum ditemukan di rumah.

Bacaan Lainnya

Nasya Falaqya, anggota KKN UNS Kelompok 241, mengatakan cangkang telur dipilih karena selama ini limbah tersebut umumnya langsung dibuang setelah telur digunakan. Padahal, cangkang telur masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali sebagai bahan pendukung pemupukan tanaman.

“Persoalan yang menjadi dasar kegiatan adalah masih adanya limbah rumah tangga berupa cangkang telur yang umumnya langsung dibuang setelah telur digunakan,” ujar Nasya.

Ia mengatakan kelompok KKN tidak melakukan penghitungan khusus mengenai jumlah cangkang telur yang dihasilkan setiap rumah tangga sebelum pelatihan. Karena itu, kegiatan lebih diarahkan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada masyarakat mengenai alternatif pemanfaatan limbah tersebut.

Demonstrasi pembuatan tepung cangkang telur yang diharapkan dapat membantu mendukung pertumbuhan tanaman. (Dok. Pribadi/KKN 241 UNS)
Demonstrasi pembuatan tepung cangkang telur yang diharapkan dapat membantu mendukung pertumbuhan tanaman. (Dok. Pribadi/KKN 241 UNS)

Melalui pelatihan, peserta diperkenalkan pada kandungan cangkang telur yang antara lain memiliki kalsium karbonat, fosfor, dan beberapa mineral. Materi juga mencakup potensi cangkang telur, manfaat tepung cangkang telur bagi tanaman, alat dan bahan yang dibutuhkan, hingga cara pengolahannya.

Peserta kemudian mengikuti praktik secara langsung. Cangkang telur dikumpulkan dan dibersihkan sebelum melalui proses perebusan. Setelah itu, cangkang dikeringkan, dihaluskan menggunakan blender, kemudian diayak hingga menjadi tepung dan disimpan untuk digunakan.

Menurut Nasya, proses pengolahan tersebut tidak menjadi bagian yang sulit bagi peserta. Peralatan yang digunakan relatif sederhana sehingga memungkinkan masyarakat menerapkannya sendiri di rumah.

“Tidak ada bagian tertentu sebagai tahapan yang paling sulit bagi ibu-ibu karena tahapan memang tergolong cukup simpel dan mudah,” katanya.

Ibu-ibu PKK sangat antusias menyimak materi yang disampaikan. (Dok. Pribadi/KKN 241 UNS)
Ibu-ibu PKK sangat antusias menyimak materi yang disampaikan. (Dok. Pribadi/KKN 241 UNS)

Kesederhanaan proses tersebut mendapat respons positif dari peserta. Ibu-ibu PKK menunjukkan antusiasme ketika mengikuti praktik pembuatan tepung cangkang telur karena bahan dan peralatan yang digunakan mudah ditemukan di lingkungan rumah.

“Respons ibu-ibu sangat antusias melihat cara membuat tepung kerabang ini, karena pembuatannya sangat simpel dan bisa dilakukan dengan bahan dan alat yang ada di rumah,” ujar Nasya.

Tepung cangkang telur dalam kegiatan tersebut diperkenalkan sebagai salah satu bahan pendukung pemupukan tanaman. Pemanfaatannya diharapkan dapat membantu mendukung pertumbuhan tanaman, termasuk memperkuat pertumbuhan akar dan pembentukan dinding sel serta membantu menetralkan tanah yang terlalu asam.

Setelah mengikuti pelatihan, sejumlah peserta juga menyatakan ketertarikannya untuk mengumpulkan dan mengolah cangkang telur secara mandiri. Pemanfaatannya tidak hanya diarahkan untuk tanaman, tetapi juga terdapat peserta yang berencana menggunakan hasil olahan untuk kebutuhan lain.

“Ada peserta yang menyampaikan akan mengumpulkan dan mengolah cangkang telurnya secara mandiri, dan digunakan untuk pakan ternaknya, bahkan ada yang akan digunakan untuk tanaman mereka seperti bunga anggrek,” kata Nasya.

Bagi kelompok KKN 241, respons tersebut menjadi salah satu indikasi bahwa pengetahuan yang diberikan mulai diterima masyarakat. Pelatihan tidak hanya bertujuan memperkenalkan manfaat cangkang telur, tetapi juga memberikan keterampilan yang dapat diterapkan tanpa teknologi khusus.

Nasya mengatakan keberlanjutan pemanfaatan cangkang telur sangat bergantung pada kemauan masyarakat untuk membiasakan diri memilah dan mengumpulkan limbah dari rumah.

“Keberlanjutan program sangat berkaitan dengan kemauan masyarakat untuk membiasakan pemilahan dan pengumpulan cangkang telur sejak dari rumah,” ujarnya.

Karena itu, masyarakat diharapkan tidak hanya mengetahui manfaat cangkang telur, tetapi juga mampu melakukan pengolahan secara konsisten. Dengan kebiasaan tersebut, cangkang telur yang sebelumnya menjadi limbah dapat dialihkan menjadi bahan yang memiliki manfaat bagi tanaman di lingkungan rumah.

Pelatihan cangkang telur ini juga menjadi bagian dari upaya KKN 241 UNS membangun kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan limbah rumah tangga. Setelah pelatihan tersebut, kelompok KKN melanjutkan edukasi lingkungan melalui program Sosialisasi, Edukasi, dan Pembentukan Kelompok Sedekah Sampah pada (13/8/2026).

Namun, Nasya menekankan bahwa keberhasilan program tidak semata diukur dari pelaksanaan kegiatan selama KKN. Pengetahuan yang diberikan diharapkan tetap diterapkan masyarakat setelah mahasiswa menyelesaikan pengabdian di Sumberharjo.

Dalam kaitannya dengan SDG 17 atau Partnerships for the Goals, pelatihan tersebut menjadi bentuk kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat. Mahasiswa memberikan pengetahuan serta keterampilan, sementara ibu-ibu PKK menjadi pihak yang diharapkan dapat menerapkan keterampilan tersebut secara mandiri.

“Program ini merupakan bentuk kemitraan berupa pemberdayaan masyarakat melalui edukasi dan pemanfaatan sumber daya yang tersedia di lingkungan desa,” kata Nasya.

Menurut dia, sebagian masyarakat Desa Sawo sudah mulai memilah sampah rumah tangga secara mandiri. Kondisi tersebut menjadi modal untuk mendorong pemanfaatan limbah yang lebih spesifik, termasuk cangkang telur.

“Sebagian masyarakat Desa Sawo sudah memilah sampah rumah tangga mereka sendiri, sehingga kolaborasi tersebut diharapkan akan memberikan perubahan untuk masyarakat Sawo dengan mengolah cangkang telurnya dan dimanfaatkan kembali,” ujarnya.

Melalui pelatihan ini, KKN 241 UNS berharap pemanfaatan cangkang telur dapat menjadi praktik sederhana yang terus dilakukan di tingkat rumah tangga. Dengan memanfaatkan limbah yang tersedia di sekitar, masyarakat tidak hanya mengurangi sampah yang dibuang, tetapi juga memperoleh alternatif bahan yang dapat digunakan untuk mendukung tanaman pekarangan.

Kelompok KKN 241 UNS terdiri atas Dyah Intan Maharani, Nurul Fadhillah, Rizqiana Wardahani, Nasya Falaqya Azzahra, Khrisna Putri Maharani, Dewi Mayasari, Fajarina Wahyu Rahmawati, Nawra Rahmafalah Dewandaru, Muhammad Yusuf Raihan, dan Dewangga Kusuma Tirta. Kelompok tersebut berada di bawah bimbingan DPL Dr. Tetri Widiyani, S.Si., M.Si.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *