KKM 86 UNIBA Dorong Pengelolaan Sampah Plastik di Sekolah Warunggunung

Dokumentasi penyerahan alat press sampah plastik diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi ekosistem sekolah. (Dok. Pribadi/KKN 86 UNIBA)
Dokumentasi penyerahan alat press sampah plastik diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi ekosistem sekolah. (Dok. Pribadi/KKN 86 UNIBA)

Warunggunung, Krajan.id – Pengelolaan sampah plastik di lingkungan sekolah menjadi perhatian Tim Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 86 Universitas Bina Bangsa (UNIBA). Melalui program edukasi lingkungan, mahasiswa menyerahkan alat press sampah botol plastik kepada SDN 1 Warunggunung dan SDN 2 Warunggunung, Kabupaten Lebak, Kamis (20/8/2026).

Penyerahan alat tersebut tidak hanya ditujukan untuk membantu mengurangi volume sampah plastik, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi siswa mengenai kebiasaan memilah dan mengelola sampah sejak dini.

Bacaan Lainnya

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 WIB itu diikuti tim KKM 86 UNIBA bersama pihak sekolah. Alat press diserahkan secara langsung kepada sekolah, kemudian dilanjutkan dengan peragaan penggunaan kepada guru dan perwakilan siswa.

Penanggung jawab kegiatan, Angga Yuan Pratama, mengatakan persoalan sampah botol plastik masih menjadi salah satu masalah yang kerap ditemui di lingkungan sekolah.

“Limbah botol plastik sering kali menjadi masalah utama di lingkungan sekolah. Dengan hadirnya alat press ini, volume sampah plastik dapat direduksi dengan efisien sehingga memudahkan proses daur ulang. Kami berharap kenang-kenangan ini menjadi awal dari gerakan sekolah hijau di Warunggunung,” ujar Angga.

Menurut Angga, alat tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang. Selain mengurangi timbulan sampah, penggunaannya diharapkan mendorong sekolah untuk membangun kebiasaan pengelolaan sampah secara lebih teratur.

Dalam kegiatan itu, Angga didampingi anggota KKM 86 UNIBA, Widiyanti dan Della Syakilla. Selain menyerahkan alat, mahasiswa memberikan simulasi pengoperasian agar fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan oleh pihak sekolah.

Widiyanti mengatakan kegiatan tersebut juga disertai pengenalan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R) kepada siswa. Edukasi itu diberikan untuk memperkenalkan pengelolaan sampah tidak hanya melalui pembuangan, tetapi juga pengurangan dan pemanfaatan kembali.

“Kami memperagakan cara kerja alat press botol plastik agar para siswa memahami bahwa sampah yang dipres akan lebih ringkas dan memiliki nilai guna yang lebih tinggi jika disalurkan ke bank sampah,” tutur Widiyanti.

Alat press bekerja dengan membuat botol plastik menjadi lebih ringkas sehingga lebih mudah dikumpulkan dan disalurkan untuk proses pengelolaan atau daur ulang. Dengan demikian, siswa dapat melihat secara langsung salah satu tahapan sederhana dalam pengelolaan sampah plastik.

Della Syakilla mengatakan pihak sekolah menyambut baik program tersebut. Menurut dia, alat yang diserahkan dinilai dapat digunakan untuk mendukung penanganan sampah yang berasal dari sejumlah aktivitas siswa.

“Pihak sekolah sangat mengapresiasi karya kenang-kenangan ini karena dinilai sangat praktis, edukatif, dan menjawab kebutuhan penanganan sampah plastik di area kantin dan halaman sekolah,” kata Della.

Perwakilan guru SDN 1 Warunggunung juga menyampaikan apresiasi atas program yang dilakukan mahasiswa KKM 86 UNIBA. Ia menilai fasilitas tersebut dapat menjadi media pembelajaran bagi siswa mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

“Bantuan alat press sampah plastik ini sangat bermanfaat untuk mengajarkan anak-anak pentingnya menjaga kebersihan. Terima kasih kepada mahasiswa KKM 86 UNIBA atas kenang-kenangan yang sangat berguna ini,” ungkapnya.

Kegiatan kemudian ditutup dengan demonstrasi penggunaan alat press bersama siswa. Rangkaian acara dilanjutkan dengan penandatanganan berita acara penyerahan dan foto bersama jajaran guru serta tim KKM 86 UNIBA.

Melalui program tersebut, pengelolaan sampah plastik di sekolah diarahkan tidak berhenti pada kegiatan membersihkan lingkungan. Penggunaan alat press sekaligus menjadi bagian dari pembelajaran praktis agar siswa mengenal proses pemilahan, pengurangan volume, hingga penyaluran sampah untuk dikelola kembali.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *