Dari Sampah ke Produk Bernilai, Mahasiswa KKN UNS Dorong Ekonomi Sirkular di Kedungsatriyan

Dokumentasi kegiatan KKN 16 bersama perangkat Desa Kedungsatriyan dan masyarakat dalam mendukung program pengelolaan sampah organik melalui TPS 3R. (Dok. Pribadi/KKN 16 UNS)
Dokumentasi kegiatan KKN 16 bersama perangkat Desa Kedungsatriyan dan masyarakat dalam mendukung program pengelolaan sampah organik melalui TPS 3R. (Dok. Pribadi/KKN 16 UNS)

Kedungsatriyan, Krajan.id – Persoalan sampah di Desa Kedungsatriyan, Kabupaten Blora, tidak hanya berkaitan dengan kebersihan lingkungan. Bagi kelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UNS, sampah juga menyimpan potensi untuk diolah menjadi material yang memiliki manfaat dan nilai ekonomi.

Potensi tersebut menjadi salah satu fokus program KKN di Desa Kedungsatriyan melalui sejumlah kegiatan pengelolaan sampah organik, pemanfaatan limbah plastik, serta pengolahan sisa produksi anyaman bambu. Ketiga program itu diarahkan untuk mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap sampah, dari sesuatu yang harus segera dibuang menjadi material yang masih dapat dimanfaatkan.

Bacaan Lainnya

Program tersebut merupakan bagian dari tema KKN, yakni “Penguatan Peran Lintas Sektor dalam Mewujudkan Desa Kreatif dan Produktif melalui Penguatan SDM, Digitalisasi UMKM, Pelestarian Budaya, dan Hilirisasi Produk Lokal.”

Persoalan pengelolaan sampah menjadi perhatian karena pemanfaatan Tempat Penampungan Sementara (TPS) di desa tersebut belum berjalan secara optimal. Sebagian warga masih memilih membakar sampah secara mandiri karena dianggap lebih praktis dan tidak memerlukan biaya tambahan untuk pengangkutan maupun pengelolaan.

Kondisi itu menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak cukup diselesaikan hanya dengan menyediakan tempat pembuangan. Diperlukan pengetahuan, keterampilan, serta alternatif pengelolaan yang dapat diterapkan masyarakat sesuai dengan jenis sampah dan kondisi setempat.

Kelompok KKN Desa Kedungsatriyan kemudian merancang sejumlah program yang menghubungkan persoalan lingkungan dengan potensi pemanfaatan kembali material. Sampah organik diarahkan untuk diolah dengan mesin pencacah, sampah plastik dimanfaatkan menjadi kerajinan anyaman, sementara sisa produksi bambu diolah menjadi produk baru.

Mengolah Sampah Organik dengan Mesin Pencacah

Salah satu program yang dijalankan adalah “Pemberdayaan Masyarakat melalui Pemanfaatan Mesin Pencacah Sampah Organik untuk Mendukung Program Pemerintah TPS 3R”. Program yang ditanggungjawabi Danu Fajar Dewantara tersebut berkaitan dengan SDGs 12, yakni Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.

Program ini berangkat dari persoalan pengelolaan sampah organik yang belum optimal. Sampah organik dari rumah tangga pada dasarnya memiliki karakteristik berbeda dari sampah anorganik sehingga membutuhkan proses pengolahan yang berbeda pula.

Melalui pemanfaatan mesin pencacah, masyarakat diperkenalkan pada salah satu metode pengolahan sampah organik. Mesin tersebut digunakan untuk membantu proses pencacahan sehingga material organik dapat diolah lebih lanjut dan tidak langsung berakhir dengan cara dibakar atau dibuang.

Kegiatan tidak hanya berorientasi pada penggunaan alat. Kelompok KKN juga melakukan sosialisasi mengenai pengelolaan sampah organik dan memberikan pelatihan penggunaan mesin pencacah kepada masyarakat.

Sasaran kegiatan mencakup masyarakat Desa Kedungsatriyan, terutama pengelola sampah, kelompok tani, serta warga yang memiliki kepedulian terhadap kebersihan lingkungan.

Pendekatan tersebut menjadi penting karena keberadaan teknologi tidak otomatis menyelesaikan persoalan apabila masyarakat tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk menggunakannya. Karena itu, pengenalan mesin pencacah disertai dengan upaya meningkatkan pemahaman mengenai pemilahan dan pengolahan sampah.

Melalui program ini, masyarakat diharapkan memiliki pilihan lain selain membakar sampah. Pengolahan secara lebih tepat juga diharapkan dapat membantu mengurangi volume sampah yang masuk ke TPS sekaligus membuka peluang pemanfaatan material organik.

Limbah Plastik Diubah Menjadi Kerajinan

Pengelolaan sampah tidak berhenti pada material organik. Sampah plastik juga menjadi bagian dari program KKN karena jenis sampah tersebut membutuhkan penanganan berbeda dan cenderung sulit terurai secara alami.

Program “Pengolahan Limbah Plastik Menjadi Kerajinan Anyaman sebagai Upaya Mewujudkan Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan” ditanggungjawabi Mello Antoni Hendrian Matthew. Program tersebut juga mendukung SDGs 12 melalui upaya menggunakan kembali material yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah.

Praktik pengolahan limbah plastik menjadi bahan kerajinan anyaman bersama masyarakat Desa Kedungsatriyan. (Dok. Pribadi/KKN 16 UNS)
Praktik pengolahan limbah plastik menjadi bahan kerajinan anyaman bersama masyarakat Desa Kedungsatriyan. (Dok. Pribadi/KKN 16 UNS)

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa memanfaatkan plastik bekas kemasan minuman yang dikumpulkan dari masyarakat. Material tersebut terlebih dahulu dipilah dan dibersihkan sebelum diproses menjadi produk kerajinan.

Salah satu produk yang dikembangkan berupa gantungan kunci dengan teknik anyaman. Pengolahan tersebut membuat material plastik tidak langsung menjadi sampah, tetapi mendapatkan fungsi baru sebagai produk kerajinan.

Untuk mengembangkan keterampilan tersebut, kelompok KKN bekerja sama dengan mitra lokal Barokah Bambu yang dikelola Dian Agus. Sebelum program diterapkan kepada masyarakat, mahasiswa mengikuti beberapa kali pelatihan bersama mitra untuk mempelajari teknik dasar serta proses pembuatan kerajinan anyaman dari limbah plastik.

Kelompok KKN 16 bersama masyarakat Desa Kedungsatriyan dalam kegiatan pemanfaatan limbah produksi anyaman bambu menjadi produk bernilai jual. (Dok. Pribadi/KKN 16 UNS)
Kelompok KKN 16 bersama masyarakat Desa Kedungsatriyan dalam kegiatan pemanfaatan limbah produksi anyaman bambu menjadi produk bernilai jual. (Dok. Pribadi/KKN 16 UNS)

Kolaborasi dengan pelaku usaha lokal menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Mahasiswa tidak hanya membawa gagasan dari lingkungan akademik, tetapi juga belajar dari keterampilan yang telah dimiliki pelaku usaha di desa.

Pengetahuan tersebut kemudian diterapkan dalam pengolahan limbah plastik. Dengan pemilahan dan proses yang tepat, material yang sebelumnya dipandang sebagai sampah dapat digunakan kembali sebagai bahan kerajinan.

Program ini sekaligus memperkenalkan gagasan bahwa pengurangan sampah dapat dilakukan melalui pemanfaatan kembali. Produk yang dihasilkan memang berskala sederhana, tetapi prosesnya memperlihatkan kemungkinan menghubungkan pengelolaan lingkungan dengan kegiatan kreatif dan ekonomi masyarakat.

Sisa Produksi Bambu Tidak Berakhir sebagai Limbah

Potensi pemanfaatan limbah juga ditemukan dalam kegiatan ekonomi masyarakat. Aktivitas produksi kerajinan, termasuk anyaman bambu, menghasilkan sisa material berupa potongan bambu yang tidak selalu digunakan dalam produk utama.

Sisa tersebut menjadi perhatian dalam program yang ditanggungjawabi Hafizha Fatkhiatul Pasha. Melalui kerja sama dengan Barokah Bambu, mahasiswa mengembangkan pelatihan pemanfaatan limbah produksi anyaman bambu menjadi gantungan kunci.

Program tersebut menggunakan potongan bambu yang sebelumnya tidak dimanfaatkan. Material dikumpulkan dan kemudian melalui sejumlah tahapan pengolahan sebelum menjadi produk baru.

Tahap pengolahan meliputi penghalusan material, pencampuran dengan resin, pemberian warna, hingga penambahan glitter. Proses tersebut menghasilkan gantungan kunci dengan bentuk dan tampilan yang berbeda dari material asalnya.

Pengolahan sisa produksi itu memperlihatkan bahwa limbah kegiatan ekonomi tidak selalu harus diperlakukan sebagai barang yang tidak berguna. Material yang tersisa masih dapat dikembangkan apabila tersedia pengetahuan mengenai pengolahan dan desain produk.

Dalam konteks tersebut, program KKN tidak hanya berbicara mengenai pengurangan sampah, tetapi juga memperkenalkan penerapan sederhana prinsip ekonomi sirkular. Material yang sebelumnya menjadi sisa produksi dimanfaatkan kembali untuk menghasilkan barang dengan fungsi baru.

Pendekatan tersebut berpotensi diterapkan dalam skala usaha kecil. Bagi pelaku UMKM, pemanfaatan sisa produksi dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi material terbuang sekaligus mengeksplorasi produk turunan.

Namun, keberlanjutan pemanfaatan limbah tetap bergantung pada kemampuan masyarakat dan pelaku usaha untuk mempertahankan proses tersebut setelah program KKN selesai. Karena itu, transfer pengetahuan dan keterampilan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan.

Menghubungkan Persoalan Lingkungan dan Potensi Ekonomi

Rangkaian program tersebut menunjukkan adanya upaya untuk melihat persoalan sampah dari sudut pandang yang lebih luas. Sampah tidak semata-mata ditempatkan sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai material yang dapat dimanfaatkan kembali.

Pendekatan itu sekaligus berkaitan dengan tema besar KKN Desa Kedungsatriyan mengenai penguatan sumber daya manusia, digitalisasi UMKM, pelestarian budaya, dan hilirisasi produk lokal.

Dalam pengelolaan sampah organik, misalnya, masyarakat diperkenalkan dengan penggunaan mesin sekaligus diberikan pengetahuan mengenai pengelolaan sampah. Pada pengolahan plastik dan limbah bambu, mahasiswa mempertemukan keterampilan pengolahan material dengan potensi produk kerajinan.

Dengan demikian, program tidak berhenti pada kegiatan mengumpulkan atau memilah sampah. Ada proses lanjutan berupa pengolahan dan penciptaan produk baru.

Pola tersebut juga memperlihatkan pentingnya keterlibatan pelaku usaha lokal. Kerja sama dengan Barokah Bambu menjadi contoh bahwa pengalaman masyarakat setempat dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran mahasiswa sekaligus mendukung pengembangan program.

Di sisi lain, perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah membutuhkan partisipasi masyarakat. Kebiasaan membakar sampah yang selama ini dianggap praktis tidak dapat berubah hanya melalui penyampaian imbauan. Masyarakat perlu memperoleh alternatif yang mudah dipahami dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, pelatihan menjadi bagian penting dalam setiap program. Masyarakat tidak hanya diperkenalkan pada gagasan mengenai pengelolaan sampah, tetapi juga diberikan kesempatan untuk mempelajari cara mengolah material tersebut.

Kolaborasi Menjadi Kunci Keberlanjutan

Kelompok KKN Desa Kedungsatriyan menempatkan kolaborasi lintas sektor sebagai bagian dari pelaksanaan program. Mahasiswa bekerja bersama pemerintah desa, masyarakat, pelaku usaha, kelompok tani, pengelola sampah, serta mitra lokal.

Kolaborasi tersebut diperlukan agar program yang dijalankan tidak hanya menjadi aktivitas selama masa KKN. Keberlanjutan kegiatan sangat bergantung pada kemampuan masyarakat untuk melanjutkan pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh.

Ketua Kelompok KKN, M. Rizky Cahyo Ramadhan, menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan program.

“KKN bukan hanya tentang mahasiswa datang dan melaksanakan program, tetapi bagaimana kami dapat berkolaborasi bersama masyarakat. Harapannya, program yang kami jalankan dapat memberikan manfaat serta menjadi langkah kecil untuk mendukung Desa Kedungsatriyan menjadi desa yang semakin kreatif dan produktif.”

Sebanyak sembilan anggota KKN Desa Kedungsatriyan berkomitmen menjalankan berbagai program yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Pengelolaan sampah menjadi salah satu bidang yang dipilih karena berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari sekaligus memiliki peluang untuk dikembangkan.

Dari sudut pandang pemberdayaan, kegiatan tersebut menempatkan masyarakat bukan sekadar sebagai penerima program. Masyarakat menjadi bagian dari proses pengelolaan, mulai dari memilah material, mempelajari teknik pengolahan, hingga mengenali kemungkinan pemanfaatannya.

Jika pengetahuan tersebut dapat diteruskan, pengelolaan sampah berpotensi berkembang menjadi kebiasaan baru di tingkat rumah tangga maupun kegiatan usaha. Pada saat yang sama, sisa produksi yang sebelumnya tidak memiliki nilai dapat dipertimbangkan sebagai bahan untuk produk lain.

Program KKN di Kedungsatriyan dengan demikian mempertemukan dua kebutuhan sekaligus, yakni pengurangan persoalan lingkungan dan pengembangan potensi masyarakat. Sampah organik diarahkan untuk dikelola, plastik bekas diolah menjadi kerajinan, sementara sisa bambu dimanfaatkan kembali menjadi produk bernilai jual.

Upaya tersebut masih merupakan langkah dalam skala desa. Namun, pendekatan yang menghubungkan sampah, kreativitas, dan nilai ekonomi dapat menjadi salah satu alternatif dalam membangun kesadaran mengenai konsumsi dan produksi yang lebih bertanggung jawab.

Pada akhirnya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah material yang berhasil diolah selama kegiatan KKN. Dampak yang lebih penting adalah tumbuhnya kemampuan masyarakat untuk mengenali potensi material di sekitar mereka dan mengelolanya secara lebih bertanggung jawab.

Melalui penguatan sumber daya manusia, kerja sama dengan pelaku usaha lokal, serta pemanfaatan kembali material yang sebelumnya dianggap limbah, Desa Kedungsatriyan didorong untuk mengembangkan pendekatan pembangunan yang menggabungkan aspek lingkungan dan produktivitas masyarakat.

Dengan pendekatan tersebut, kegiatan KKN diharapkan dapat menjadi bagian dari proses jangka panjang menuju desa yang lebih kreatif, produktif, mandiri, dan mampu mengembangkan potensi lokal secara berkelanjutan.

    Pos terkait

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *