KKN Kelompok 277 UNS Kembangkan Digitalisasi UMKM melalui Pendampingan Pembuatan QRIS di Desa Sukoharjo

Mahasiswa KKN 277 UNS memberikan pendampingan pembuatan pembayaran digital QRIS kepada UMKM di Desa Sukoharjo pada (14/8/2026). (Dok. Pribadi/KKN 277 UNS)
Mahasiswa KKN 277 UNS memberikan pendampingan pembuatan pembayaran digital QRIS kepada UMKM di Desa Sukoharjo pada (14/8/2026). (Dok. Pribadi/KKN 277 UNS)

Sukoharjo, Krajan.id – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 277 Universitas Sebelas Maret (UNS) mendorong digitalisasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Desa Sukoharjo, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Wonosobo, melalui pendampingan pembuatan dan penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

Program bertajuk “Pengembangan UMKM melalui Workshop dan Pendampingan Pembuatan QRIS di Desa Sukoharjo” tersebut tidak hanya memberikan pemahaman mengenai pembayaran digital. Mahasiswa juga mendampingi pelaku UMKM secara langsung dalam proses pendaftaran hingga penggunaan QRIS untuk menerima transaksi.

Bacaan Lainnya

Pendekatan tersebut dilakukan karena sebagian pelaku usaha masih membutuhkan informasi dan pendampingan teknis sebelum menggunakan sistem pembayaran digital. Program dilaksanakan melalui tiga rangkaian utama, yakni sosialisasi pembayaran digital, pendampingan pendaftaran QRIS secara door-to-door, serta penyerahan dan edukasi penggunaan QRIS.

Rangkaian kegiatan diawali dengan workshop pembayaran digital pada Rabu, 12 Agustus 2026. Kegiatan menyasar masyarakat pelaku usaha di RT 2 dan RT 3 Dukuh Banjarsari, Desa Sukoharjo.

Dalam workshop tersebut, tim KKN memperkenalkan pengertian dan fungsi QRIS, manfaat pembayaran digital, kelebihan transaksi secara digital, serta tata cara pendaftaran dan penggunaannya. Mahasiswa juga memberikan penjelasan mengenai sejumlah hal yang masih menjadi pertanyaan masyarakat, termasuk anggapan bahwa penggunaan QRIS membutuhkan biaya besar dan proses pencairan dana yang rumit.

Melalui penyampaian materi dan interaksi langsung, pelaku usaha memperoleh gambaran mengenai mekanisme penggunaan QRIS dalam kegiatan usaha sehari-hari. Sosialisasi tersebut sekaligus menjadi tahap awal untuk memetakan kesiapan pelaku UMKM dalam mengadopsi pembayaran digital.

Fakhru Rifqi Ma’arif, penanggung jawab program kerja, mengatakan penggunaan pembayaran digital semakin penting seiring dengan perkembangan teknologi dan perubahan kebiasaan masyarakat dalam bertransaksi.

“Terlebih jalur di Desa Sukoharjo yang merupakan jalur utama di kecamatan Sukoharjo, Wonosobo, jadi penting sekali jika bisa bertransaksi dengan QRIS. Terlebih jika terdapat pengunjung dari desa lainnya atau dari luar kecamatan yang tidak membawa cash cukup jadi bisa sangat memudahkan jika bisa QRIS,” ujar Fakhru.

Setelah workshop, tim KKN melanjutkan kegiatan pada hari berikutnya dengan mendatangi sejumlah UMKM yang tersebar di Desa Sukoharjo. Pendekatan door-to-door ini digunakan untuk melakukan pendataan sekaligus memetakan kondisi digitalisasi pelaku usaha di desa tersebut.

Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa tidak hanya menawarkan penggunaan QRIS, tetapi juga memberikan pendampingan dalam proses pendaftaran. Pelaku usaha yang berminat dibantu melalui tahapan pembuatan hingga QRIS dapat digunakan.

Pendampingan juga mencakup aspek teknis setelah QRIS aktif. Pelaku usaha diberikan edukasi mengenai cara memeriksa notifikasi transaksi dan saldo yang masuk, melihat riwayat transaksi, serta memahami proses pencairan dana ke rekening pedagang.

Pendekatan secara langsung tersebut memberikan kesempatan kepada pelaku UMKM untuk menyampaikan kendala yang mereka hadapi. Sementara itu, pelaku usaha yang belum bersedia menggunakan QRIS tetap diberikan informasi dan diajak berinteraksi secara baik. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari pemetaan kondisi dan tingkat kesiapan digitalisasi UMKM di Desa Sukoharjo.

Salah satu pelaku usaha, Bu Tri, pemilik UMKM katering dan makanan ringan rumahan, mengaku sejak lama tertarik menggunakan pembayaran QRIS. Namun, keterbatasan informasi mengenai proses pendaftaran dan penggunaannya membuat keinginan tersebut belum terealisasi.

Pengalaman berbeda disampaikan Jalu, salah satu penjual buah di Dusun Sampih, Sukoharjo. Ia merasakan manfaat penggunaan QRIS karena membantu aktivitas penyetoran hasil penjualan yang sebelumnya harus dilakukan secara tunai.

“Alhamdulillah, karena program ini saya dimudahkan untuk setoran. Karena tiap malam itu kan setor ke bosnya dan lokasinya itu jauh jadi selama ini saya talangin dulu baru nanti saya ambil cash-nya,” kata Jalu.

Rangkaian program kemudian ditutup dengan penyerahan standee pada Jumat, 14 Agustus 2026. Tim KKN menyerahkan cetakan fisik barcode QRIS yang telah aktif beserta standee akrilik kepada pelaku UMKM yang berhasil melakukan pendaftaran.

Pelaksanaan program tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi UMKM tidak hanya membutuhkan pengenalan teknologi, tetapi juga pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha. Workshop memberikan pemahaman secara kolektif, sedangkan kunjungan door-to-door membuka ruang bagi mahasiswa untuk memberikan bantuan teknis secara lebih personal.

Program KKN Kelompok 277 UNS tersebut juga dikaitkan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan nomor 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi serta tujuan nomor 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.

Mahasiswa KKN 277 UNS memberikan sosialisasi terkait pembayaran digital QRIS kepada ibu-ibu di Dukuh Banjarsari sebagai bagian dari pengembangan UMKM pada (12/8/2026). (Dok. Pribadi/KKN 277 UNS)
Mahasiswa KKN 277 UNS memberikan sosialisasi terkait pembayaran digital QRIS kepada ibu-ibu di Dukuh Banjarsari sebagai bagian dari pengembangan UMKM pada (12/8/2026). (Dok. Pribadi/KKN 277 UNS)

Sejumlah warung dan usaha konvensional di Desa Sukoharjo mulai menerima pembayaran menggunakan QRIS setelah mengikuti rangkaian pendampingan tersebut. Kehadiran sistem pembayaran digital diharapkan dapat mempermudah transaksi antara pedagang dan konsumen sekaligus membantu pelaku UMKM beradaptasi dengan perkembangan teknologi pembayaran.

Bagi pelaku usaha, penggunaan QRIS menjadi salah satu pilihan untuk memperluas cara menerima pembayaran. Sementara bagi masyarakat, tersedianya pembayaran digital dapat menjadi alternatif ketika tidak membawa uang tunai dalam jumlah yang cukup.

Melalui kombinasi edukasi dan pendampingan langsung, KKN Kelompok 277 UNS berupaya menempatkan digitalisasi bukan sekadar sebagai pengenalan teknologi, tetapi sebagai keterampilan yang dapat diterapkan dalam aktivitas usaha sehari-hari masyarakat Desa Sukoharjo.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *