Mahasiswa KKN UNS Dorong Pemanfaatan Alpukat Sukorejo Menjadi Produk Olahan Bernilai Ekonomi

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 44 foto bersama Ibu-Ibu PKK Kadus II Desa Sukor menggelar pelatihan dan pendampingan pembuatan selai alpukat. (Dok. Pribadi/KKN 44 UNS)
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 44 foto bersama Ibu-Ibu PKK Kadus II Desa Sukor menggelar pelatihan dan pendampingan pembuatan selai alpukat. (Dok. Pribadi/KKN 44 UNS)

Sukorejo, Krajan.id – Melimpahnya hasil pertanian belum tentu berbanding lurus dengan nilai ekonomi yang diterima petani. Kondisi itu mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 44 mengembangkan pemanfaatan alpukat di Desa Sukorejo, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali.

Sebanyak 10 mahasiswa lintas program studi dalam kelompok tersebut menggelar pelatihan dan pendampingan pembuatan selai alpukat bagi Ibu-Ibu PKK Kadus II Desa Sukorejo, Minggu (19/7/2026). Kegiatan itu menjadi bagian dari upaya mengenalkan pengolahan hasil pertanian menjadi produk pangan yang memiliki nilai tambah.

Bacaan Lainnya

Program bertajuk “Pelatihan dan Pendampingan Pembuatan Selai Alpukat sebagai Produk UMKM Berbasis Potensi Lokal Desa Sukorejo” tersebut tidak hanya berfokus pada proses memasak. Mahasiswa juga memperkenalkan tahapan produksi hingga pengemasan agar hasil olahan memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai produk UMKM.

Pemilihan alpukat sebagai bahan baku didasarkan pada potensi pertanian Desa Sukorejo. Selama ini, sebagian besar alpukat yang dihasilkan masyarakat dijual dalam bentuk buah segar. Pola tersebut membuat pemanfaatan alpukat masih bergantung pada pasar buah konsumsi.

Melalui pelatihan tersebut, mahasiswa KKN Kelompok 44 UNS memperkenalkan alternatif pemanfaatan alpukat melalui diversifikasi produk. Buah yang sebelumnya langsung dipasarkan dapat terlebih dahulu diolah menjadi produk pangan sehingga memiliki bentuk pemanfaatan dan nilai jual yang berbeda.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa memberikan demonstrasi sekaligus pendampingan praktik. Peserta diperkenalkan dengan tahapan pengolahan, mulai dari persiapan bahan, proses pembuatan selai, hingga pengemasan.

Produk yang diperkenalkan dalam demonstrasi tersebut berupa selai alpukat coklat tanpa bahan pengawet. Perpaduan alpukat dan coklat dipilih untuk memberikan variasi rasa sekaligus menghasilkan produk olahan yang berbeda dari pemanfaatan alpukat sebagai buah konsumsi.

Pendampingan juga diarahkan agar masyarakat tidak berhenti pada kemampuan membuat produk. Aspek pengemasan dan potensi pemasaran turut diperkenalkan sebagai bagian dari proses pengembangan produk apabila nantinya hendak diproduksi secara mandiri.

“Kami berharap pelatihan ini tidak berhenti pada praktik hari ini saja. Kami ingin Ibu-Ibu PKK dapat terinspirasi untuk memproduksi selai ini secara mandiri, mengemasnya dengan menarik, dan memasarkannya, sehingga dapat menjadi produk UMKM unggulan Desa Sukorejo,” ujar perwakilan mahasiswa KKN UNS Kelompok 44.

Bagi mahasiswa KKN, pengolahan alpukat menjadi selai merupakan salah satu bentuk pendekatan pemberdayaan yang berangkat dari potensi yang sudah tersedia di desa. Masyarakat tidak perlu mencari bahan baku baru karena bahan utama berasal dari komoditas pertanian yang telah dikenal dan dibudidayakan.

Pengembangan produk olahan juga dapat menjadi salah satu alternatif ketika hasil panen melimpah. Alih-alih seluruh hasil pertanian dipasarkan dalam kondisi segar, sebagian dapat diolah menjadi produk dengan bentuk dan masa pemanfaatan yang berbeda.

Kegiatan tersebut diharapkan dapat membuka gagasan baru bagi masyarakat Desa Sukorejo dalam mengembangkan potensi pertanian menjadi produk bernilai ekonomi. Dalam jangka lebih panjang, keterampilan pengolahan, pengemasan, dan pemasaran yang diperkenalkan melalui pelatihan dapat menjadi bekal bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha berbasis potensi lokal.

Bagi Desa Sukorejo, alpukat tidak hanya dipandang sebagai komoditas pertanian. Melalui inovasi sederhana dalam pengolahan pangan, komoditas tersebut berpeluang menjadi bagian dari pengembangan produk lokal yang dapat dikelola masyarakat secara mandiri.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *