Jejak KKN UNS di Kalikuning, Mengubah Cara Warga Mengelola Sampah dan Potensi Desa

Mahasiswa KKN UNS Kelompok 198 menyerahkan sejumlah properti dan produk hasil program kerja kepada Pemerintah Desa Kalikuning, Pacitan, 19 Agustus 2026. (Dok. Pribadi/KKN 198 UNS)
Mahasiswa KKN UNS Kelompok 198 menyerahkan sejumlah properti dan produk hasil program kerja kepada Pemerintah Desa Kalikuning, Pacitan, 19 Agustus 2026. (Dok. Pribadi/KKN 198 UNS)

Kalikuning, Krajan.id – Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) telah meninggalkan Desa Kalikuning, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, setelah lebih dari sebulan menjalankan program pengabdian kepada masyarakat. Namun, sejumlah kegiatan yang mereka lakukan meninggalkan jejak yang masih dapat ditemukan di lingkungan warga.

Di sejumlah halaman rumah, lubang biopori masih tertanam di antara tanah pekarangan. Fasilitas tersebut menjadi salah satu cara untuk mengelola sampah organik sekaligus mengembalikannya ke tanah. Pengetahuan mengenai pengolahan sampah melalui eco-enzyme juga telah diperkenalkan kepada warga.

Bacaan Lainnya

Sementara itu, di Balai Desa Kalikuning masih terpampang peta potensi UMKM yang memuat informasi mengenai usaha-usaha masyarakat. Peta tersebut menjadi salah satu hasil pendataan mahasiswa terhadap pelaku usaha dan potensi ekonomi yang berkembang di desa.

Jejak tersebut menunjukkan bahwa pengabdian masyarakat tidak selalu berakhir ketika mahasiswa kembali ke kampus. Di Kalikuning, persoalan lingkungan dan potensi ekonomi desa menjadi pintu masuk bagi mahasiswa untuk mendorong keterlibatan warga dalam mengelola sumber daya yang tersedia di sekitar mereka.

Desa Kalikuning memiliki beragam sumber daya alam. Kelapa, durian, singkong, hingga cokelat menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Namun, keberlimpahan sumber daya tersebut belum seluruhnya diikuti dengan pengelolaan yang optimal.

Persoalan itu terlihat dari cara masyarakat menangani berbagai jenis sampah dalam kehidupan sehari-hari. Sisa makanan yang tidak habis umumnya masih dapat dimanfaatkan sebagai pakan ayam. Sebaliknya, daun, ranting, hingga sampah plastik memiliki penanganan yang berbeda karena belum seluruhnya memiliki saluran pengelolaan.

“Warga itu bakar sampah karena tidak ada petugas yang mengangkut sampah. Kalau sampah sisa makanan biasanya dikasih ke ayam, tapi kalau plastik baru kita bakar,” ujar Theche, salah seorang warga Desa Kalikuning.

Ketiadaan layanan pengangkutan sampah membuat masyarakat mengandalkan cara yang tersedia di lingkungan masing-masing. Sampah yang masih memiliki manfaat dapat digunakan kembali, sedangkan sampah lain berpotensi berakhir dengan cara dikubur, dibuang, atau dibakar.

Kepala Desa Kalikuning Agung Pambudi mengatakan kebiasaan tersebut telah berlangsung cukup lama. Kondisi itu, menurut dia, berkaitan dengan belum maksimalnya pengelolaan sumber daya yang tersedia di desa.

“Masyarakat ini memang sudah biasa bakar sampah, ya karena memang sumber daya alam di desa ini melimpah dan tidak dapat dikelola dengan maksimal, sehingga mau tidak mau hanya dikubur, dibuang, atau dibakar saja,” kata Agung.

Persoalan lingkungan di Kalikuning juga tidak hanya berasal dari sampah rumah tangga. Aktivitas pertanian dan perkebunan menghasilkan material organik lain. Buah yang tidak sempat dipanen dapat jatuh dan membusuk. Daun kelapa serta ranting kering juga menumpuk seiring waktu.

Kondisi tersebut kemudian menjadi salah satu perhatian mahasiswa KKN UNS. Alih-alih hanya mengarahkan warga untuk menghentikan kebiasaan membakar sampah, mahasiswa mencoba memperkenalkan alternatif pengelolaan berdasarkan karakteristik sampah yang dihasilkan masyarakat.

Dalam kegiatan bersama warga, mahasiswa memperkenalkan pemilahan sampah rumah tangga serta pemanfaatan sampah organik melalui pembuatan eco-enzyme dan biopori. Pendekatan tersebut memungkinkan sebagian sampah yang sebelumnya dianggap tidak berguna untuk kembali dimanfaatkan.

Sampah plastik juga menjadi bagian dari kegiatan. Dalam aktivitas bersama warga sekolah dan orang tua, kemasan bekas dicoba diolah menjadi produk kreatif yang dapat digunakan kembali. Sementara sisa makanan, buah dan sayuran yang membusuk, serta dedaunan dapat dikelola melalui fasilitas insinerator yang telah tersedia di desa.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan sampah di tingkat desa tidak berdiri sendiri. Jenis sampah, ketersediaan fasilitas, kebiasaan warga, hingga kondisi lingkungan saling berkaitan. Karena itu, perubahan pengelolaan sampah membutuhkan keterlibatan masyarakat, bukan hanya penyediaan fasilitas.

Selain persoalan lingkungan, mahasiswa juga melihat adanya potensi ekonomi yang tumbuh dari aktivitas warga. Sejumlah pelaku UMKM didatangi untuk memperoleh gambaran mengenai produk yang dihasilkan, bahan baku yang digunakan, proses produksi, hingga cara pemasaran.

Informasi tersebut kemudian dihimpun dalam bentuk peta potensi UMKM yang dipasang di Balai Desa Kalikuning. Pemetaan itu menjadi cara untuk mendokumentasikan aktivitas ekonomi masyarakat yang selama ini berkembang di tingkat rumah tangga.

Bagi desa, keberadaan peta tersebut dapat menjadi gambaran awal mengenai potensi usaha yang dimiliki masyarakat. Sementara bagi mahasiswa, proses pendataan memberikan pengalaman untuk melihat bahwa pembangunan desa tidak hanya berkaitan dengan program baru, tetapi juga bagaimana potensi yang sudah ada dapat dikenali dan dikembangkan.

Hal yang sama terlihat dalam program lingkungan. Lubang biopori yang masih berada di halaman warga menjadi contoh bahwa sebuah kegiatan tidak harus terus didampingi mahasiswa agar dapat memiliki manfaat. Pengetahuan yang telah diberikan dapat diterapkan kembali sesuai kebutuhan warga.

Konsep keberlanjutan dalam pengabdian masyarakat akhirnya tidak selalu ditandai dengan keberadaan program yang sama setelah mahasiswa pergi. Ukurannya dapat terlihat dari sejauh mana pengetahuan, kebiasaan, fasilitas, atau pemetaan yang telah dibuat masih dapat digunakan masyarakat.

Di Kalikuning, persoalan sampah mempertemukan mahasiswa dengan kebiasaan sehari-hari warga. Dari sana, muncul upaya untuk memperkenalkan pemilahan dan pemanfaatan sampah. Pada saat yang sama, pemetaan UMKM menunjukkan bahwa potensi ekonomi desa juga dapat dibaca dari aktivitas sederhana yang berlangsung di rumah-rumah warga.

Mahasiswa UNS telah kembali dari Kalikuning. Namun, persoalan yang mereka temui tetap menjadi bagian dari kehidupan desa. Sampah masih dihasilkan setiap hari, sumber daya alam tetap tersedia, dan usaha masyarakat terus berjalan.

Karena itu, jejak pengabdian tidak semata-mata berada pada kegiatan yang telah selesai. Jejak tersebut justru terlihat ketika warga masih memiliki pengetahuan dan ruang untuk melanjutkan pengelolaan lingkungan serta mengenali potensi yang ada di sekitarnya.

Di tengah keterbatasan layanan pengelolaan sampah dan belum optimalnya pemanfaatan sumber daya, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting. Dari halaman rumah, dapur, kebun, hingga Balai Desa Kalikuning, keberlanjutan itu kemudian menemukan bentuknya dalam kegiatan yang dekat dengan keseharian warga.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *