Magelang, Krajan.id – Ekstrakurikuler teater di MA Rohmatullah Cokro, Magelang, kembali digelar setelah sekitar dua tahun berhenti. Kehadiran mahasiswa Universitas Tidar melalui program Magang Kependidikan Terintegrasi (MKT) 2026 menjadi salah satu upaya untuk mengaktifkan kembali kegiatan sekaligus memperkuat karakter siswa melalui seni pertunjukan.
Program tersebut dijalankan oleh tujuh mahasiswa Universitas Tidar dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Mereka adalah Elsa Finanda, Muhammad Dzul Arsil M, Fandi Aulia Rahman, Adel Weisti Hutami, Umi Maisyaroh Sofianti, Afifah Melia Wardani, dan Aliya Meira Fatimah.
Sebelum dihidupkan kembali, kegiatan teater di MA Rohmatullah Cokro sempat terhenti karena keterbatasan kepengurusan. Kondisi tersebut juga berkaitan dengan aktivitas siswa yang sebagian besar tinggal di pondok pesantren sehingga memiliki keterbatasan waktu untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.
Mahasiswa MKT kemudian melihat teater tidak hanya sebagai kegiatan untuk mengembangkan kemampuan seni peran. Kegiatan tersebut dinilai dapat menjadi ruang pembelajaran bagi siswa untuk membangun kepercayaan diri, kedisiplinan, tanggung jawab, serta kemampuan bekerja sama.
Dalam latihan, siswa didorong untuk berani berbicara dan tampil di depan orang lain. Mereka juga belajar memahami peran masing-masing, mengikuti aturan latihan, serta menghargai anggota lain dalam proses pementasan.
Selain mendampingi latihan, mahasiswa Universitas Tidar turut membantu menyusun struktur kepengurusan ekstrakurikuler. Langkah tersebut diarahkan untuk memastikan kegiatan tetap memiliki pengelolaan setelah program MKT berakhir.
Keberadaan kepengurusan baru diharapkan dapat membantu siswa melanjutkan kegiatan secara mandiri. Dengan begitu, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pendampingan dapat diteruskan kepada anggota pada angkatan berikutnya.
Pelaksanaan kegiatan dilakukan bersama pengampu ekstrakurikuler teater sebelumnya, Sigit Priyananto, S.Pd., dan guru Bahasa Indonesia, Ulil Albab, S.Pd. Keterlibatan guru diperlukan agar kegiatan tetap mendapatkan arahan dan pengawasan dari pihak sekolah.
Saat ini, latihan teater dilaksanakan secara rutin dua kali dalam sepekan, yakni setiap Kamis dan Sabtu. Jadwal tersebut disesuaikan dengan aktivitas siswa di sekolah dan lingkungan pondok pesantren.
Pengampu ekstrakurikuler teater Sigit Priyananto mengatakan kehadiran mahasiswa MKT membantu menggerakkan kembali kegiatan yang sempat terhenti.
“Kami sangat terbantu dengan adanya mahasiswa MKT yang ikut mendampingi kegiatan teater. Mereka membantu mengarahkan siswa sekaligus memberikan semangat agar kegiatan yang sebelumnya sempat berhenti ini dapat berjalan kembali,” ujar Sigit Priyananto, S.Pd.
Bagi sekolah, keberlanjutan kegiatan menjadi salah satu hal penting setelah pendampingan mahasiswa selesai. Karena itu, penguatan kepengurusan menjadi bagian dari kegiatan agar teater tidak kembali berhenti akibat persoalan pengelolaan.
Pengaktifan kembali ekstrakurikuler teater tersebut menunjukkan bahwa kegiatan seni di lingkungan sekolah dapat menjadi bagian dari proses pendidikan karakter. Kemampuan tampil di depan publik menjadi salah satu hasil yang terlihat, tetapi proses latihan juga memberikan pengalaman mengenai disiplin, tanggung jawab, komunikasi, dan kerja sama.
Melalui pendampingan mahasiswa dan dukungan guru, kegiatan teater di MA Rohmatullah Cokro diharapkan dapat terus berjalan. Keberlanjutan tersebut tidak hanya bergantung pada latihan dan pementasan, tetapi juga pada kemampuan siswa mengelola kegiatan serta meneruskan pengalaman kepada anggota berikutnya.





