Mahasiswa KKN UNS Ajarkan Siswa SD Mengubah Sampah Plastik Menjadi Produk Bernilai

Mengasah kreativitas dan jiwa kewirausahaan anak lewat ecoproduct, belajar menjaga kualitas, hingga menghitung harga pokok produksi. Dari limbah jadi karya, dari karya jadi peluang. (Dok. Pribadi)
Mengasah kreativitas dan jiwa kewirausahaan anak lewat ecoproduct, belajar menjaga kualitas, hingga menghitung harga pokok produksi. Dari limbah jadi karya, dari karya jadi peluang. (Dok. Pribadi)

Balong, Krajan.id – Sampah plastik yang selama ini kerap berakhir sebagai limbah diperkenalkan kepada siswa sekolah dasar sebagai bahan untuk membuat produk bernilai guna. Melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN), mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) mengajak siswa SDN 01 Balong, Desa Balong, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, membuat mobil-mobilan dari botol plastik bekas.

Kegiatan yang berlangsung pada Jumat (31/7/2026) itu tidak sekadar mengajarkan keterampilan membuat kerajinan. Mahasiswa KKN juga mengenalkan dasar kewirausahaan, pengendalian kualitas atau quality control, serta perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) kepada siswa.

Bacaan Lainnya

Sebanyak 21 siswa kelas 5 SDN 01 Balong mengikuti kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian KKN UNS periode Juli-Agustus 2026 tersebut. Pendekatan belajar dilakukan melalui praktik agar konsep mengenai produk, kualitas, biaya, dan harga jual lebih mudah dipahami siswa.

Program itu mengangkat tema “Edukasi Kewirausahaan Anak Berbasis Eco-Product dari Sampah dengan Pendekatan Quality Control dan Harga Pokok Produksi”. Dari botol plastik bekas, siswa diarahkan untuk menghasilkan mobil-mobilan kreatif yang tidak hanya memiliki fungsi, tetapi juga dapat dipahami sebagai sebuah produk yang mempunyai nilai ekonomi.

Ketua pelaksana program kerja, Alex, mahasiswa Teknik Industri UNS, mengatakan kegiatan dirancang dengan pendekatan sederhana agar konsep kewirausahaan dapat diterima anak-anak melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Kami ingin mengenalkan kewirausahaan kepada anak-anak dengan cara yang sederhana dan menyenangkan. Dari botol plastik bekas, mereka bisa belajar membuat sebuah produk, menjaga kualitasnya, sampai memahami bagaimana menentukan harga jual. Harapannya, anak-anak tidak hanya menjadi lebih kreatif, tetapi juga mulai memahami bahwa barang yang dianggap tidak terpakai masih bisa memiliki nilai guna dan nilai ekonomi,” ujar Alex.

Kegiatan diawali dengan materi mengenai kewirausahaan, kualitas produk, pengenalan biaya produksi, dan harga jual. Setelah itu, siswa dibagi ke dalam kelompok kecil untuk mulai mengolah botol plastik bekas menjadi mobil-mobilan.

Dalam praktik tersebut, siswa memasang roda dan rangka pada botol plastik. Produk kemudian dihias menggunakan cat, pita, dan sejumlah aksesori. Setiap kelompok juga diberi kesempatan memberikan nama pada mobil-mobilan yang mereka hasilkan.

Tahapan pembuatan produk selanjutnya diikuti dengan pemeriksaan kualitas. Mahasiswa memperkenalkan quality control melalui checksheet atau lembar pemeriksaan yang memuat 10 standar kualitas dasar.

Siswa menggunakan lembar tersebut untuk memeriksa mobil-mobilan yang telah dibuat. Cara ini memberikan pemahaman bahwa menghasilkan sebuah produk tidak berhenti pada tahap membuatnya terlihat menarik. Produk juga perlu diperiksa agar sesuai dengan standar yang telah ditentukan.

Setelah pemeriksaan kualitas, siswa diperkenalkan dengan perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP). Mereka mengisi lembar perhitungan untuk melihat hubungan antara bahan yang digunakan, biaya produksi, dan harga jual.

Bagi siswa sekolah dasar, pengenalan tersebut menjadi cara sederhana untuk memahami bahwa sebuah barang membutuhkan proses dan biaya sebelum dapat ditawarkan kepada orang lain. Konsep itu sekaligus memperkenalkan pola pikir produktif sejak dini.

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Ibu Triana, menilai pembelajaran berbasis praktik dapat memberikan pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan siswa.

“Kegiatan seperti ini menjadi pengalaman belajar yang menarik karena anak-anak tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga langsung mempraktikkannya. Mereka belajar membuat produk, memperhatikan kualitas, dan memahami nilai dari proses yang mereka lakukan. Harapannya, pengalaman ini dapat menumbuhkan kreativitas, kepedulian terhadap lingkungan, serta keberanian untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat,” ujar Ibu Triana.

Selain aspek kewirausahaan, pemanfaatan botol plastik bekas menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Siswa diajak melihat kembali barang yang dianggap sudah tidak terpakai dan mencari kemungkinan pemanfaatannya menjadi produk baru.

Pendekatan itu sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDGs 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta SDGs 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.

Kaitan dengan SDGs 4 terlihat dari proses pembelajaran tambahan yang memadukan materi dan praktik. Siswa memperoleh pengetahuan mengenai kewirausahaan, kualitas produk, serta biaya produksi melalui kegiatan langsung.

Sementara itu, aspek SDGs 8 diperkenalkan melalui pemahaman dasar mengenai bagaimana sebuah produk dibuat dan memiliki nilai ekonomi. Siswa tidak diarahkan untuk menjalankan usaha, tetapi diperkenalkan pada cara berpikir produktif, mulai dari membuat barang hingga mempertimbangkan kualitas dan harga jual.

Adapun SDGs 12 diwujudkan melalui penggunaan botol plastik bekas sebagai bahan utama. Kegiatan tersebut memperkenalkan gagasan bahwa barang yang sudah tidak digunakan masih dapat dimanfaatkan kembali sehingga memiliki fungsi baru.

Setelah seluruh produk selesai dibuat dan diperiksa, mahasiswa mengajak siswa mengikuti sesi review dan tanya jawab. Para siswa kemudian memperoleh tugas lanjutan berupa pembuatan poster edukatif untuk memperkuat materi yang telah dipelajari.

Kegiatan ditutup dengan dokumentasi bersama. Bagi mahasiswa KKN UNS, rangkaian aktivitas tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan konsep yang umumnya ditemukan dalam dunia industri dengan cara yang lebih sederhana dan sesuai dengan usia siswa.

Melalui kegiatan itu, siswa tidak hanya diajak membuat mobil-mobilan dari botol plastik. Mereka juga belajar bahwa sebuah produk membutuhkan kreativitas, proses, pemeriksaan kualitas, dan perhitungan biaya.

Pengalaman tersebut diharapkan dapat membantu siswa mengenali hubungan antara kreativitas, lingkungan, dan kewirausahaan. Pada saat yang sama, pemanfaatan sampah plastik menunjukkan bahwa pembelajaran mengenai keberlanjutan dapat dimulai dari benda-benda yang ditemui siswa dalam kehidupan sehari-hari.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *