Gamping, Krajan.id – Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) tidak hanya berlangsung melalui penjelasan materi di ruang kelas. Di SMP Negeri 4 Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, murid kelas 8A diajak memahami persoalan lingkungan melalui praktik mengolah sampah plastik menjadi barang yang dapat digunakan kembali.
Kegiatan tersebut dilaksanakan mahasiswa Praktik Kependidikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Program Studi Pendidikan IPS pada Rabu (9/9/2026). Para murid memanfaatkan tutup botol plastik bekas untuk dibuat menjadi gantungan kunci.
Proyek tersebut terintegrasi dengan pembelajaran IPS kelas 8 pada materi Konektivitas Antarruang, terutama pembahasan mengenai dampak negatif konektivitas antarruang terhadap lingkungan. Melalui kegiatan praktik, murid tidak hanya memperoleh pemahaman secara teoritis, tetapi juga melihat secara langsung bagaimana aktivitas manusia dapat berkaitan dengan munculnya persoalan lingkungan.
Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-12 atau Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Murid diperkenalkan pada pentingnya mengurangi sampah sekaligus memanfaatkan kembali barang yang masih dapat diolah.
Setelah materi diberikan, murid mulai mengolah tutup botol yang telah dikumpulkan. Tutup botol terlebih dahulu dicuci menggunakan sabun dan dikeringkan. Selanjutnya, bahan tersebut dipotong menjadi bagian-bagian kecil menggunakan gunting.

Potongan tutup botol kemudian disusun di atas baking paper dan dipanaskan menggunakan setrika hingga meleleh. Setelah bahan meleleh dan warna-warnanya menyatu, plastik tersebut dibentuk menggunakan cetakan kue kering.
Bahan yang telah dicetak kemudian didiamkan hingga dingin. Tahap berikutnya meliputi merapikan bagian tepi menggunakan cutter, membuat lubang, serta memasang komponen gantungan kunci.
Mahasiswa PK berperan sebagai pendamping selama proses berlangsung, sedangkan murid terlibat dalam setiap tahapan pembuatan. Kegiatan tersebut juga mendapat bimbingan dari Dwi Yuliyanto, S.Pd., guru mata pelajaran IPS di SMP Negeri 4 Gamping.
Dwi menilai kegiatan tersebut memberikan pengalaman yang berbeda bagi murid karena pembelajaran lingkungan disampaikan melalui aktivitas kreatif.
“Menurut saya, kegiatan pembuatan gantungan kunci dari tutup botol bekas merupakan kegiatan yang sangat positif karena dapat memberikan kesan yang kreatif dan edukatif. Kegiatan yang dilakukan anak-anak tidak hanya menghasilkan produk yang memiliki nilai guna, tetapi juga mengajarkan pentingnya pemanfaatan kembali barang yang sudah tidak terpakai atau barang bekas,” kata Dwi.
Menurut dia, kegiatan tersebut juga dapat membantu murid mengembangkan kreativitas, keterampilan, sekaligus kepedulian terhadap lingkungan. Tutup botol yang sebelumnya dipandang sebagai limbah sederhana dapat diolah menjadi barang yang memiliki fungsi dan nilai tambah.
“Melalui kegiatan tersebut, anak-anak dapat mengembangkan kreativitas, keterampilan, serta kepedulian terhadap lingkungan. Pemanfaatan tutup botol bekas menjadi gantungan kunci juga menunjukkan bahwa masih ada limbah sederhana yang diolah menjadi barang menarik dan memiliki nilai tambah,” ujar Dwi.

Dari sisi murid, praktik tersebut memberikan pemahaman bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari benda-benda sederhana yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Ivana, salah satu murid kelas 8A, mengaitkan proses pembuatan gantungan kunci dengan upaya mengurangi sampah di lingkungan sekitar.
“Dari kegiatan bikin gantungan kunci itu berdampak pada lingkungan sekitar kita karena gantungan kunci yang dibuat dari sampah tutup botol bisa mengurangi sampah dan dari situ kita bisa mengolahnya jadi barang yang mempunyai nilai lebih dari sekadar sampah,” ujar Ivana.
Kegiatan tersebut sekaligus memperkuat pemahaman murid mengenai hubungan antara aktivitas manusia, konektivitas antarruang, dan lingkungan. Pergerakan barang dan aktivitas konsumsi yang semakin luas dapat menghasilkan berbagai jenis sampah sehingga diperlukan perilaku yang lebih bertanggung jawab dalam mengelolanya.
Dalam konteks pembelajaran, murid diarahkan untuk memahami pentingnya memilah, mengurangi, menggunakan kembali, dan mengolah sampah. Prinsip tersebut menjadi bagian dari upaya mengenalkan SDGs 12 melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Mahasiswa PK Pendidikan IPS UNY berharap kegiatan serupa dapat mendorong murid menerapkan kebiasaan sederhana di lingkungan sekolah maupun di rumah. Pengurangan penggunaan barang sekali pakai dan pemanfaatan kembali barang yang masih memiliki nilai guna menjadi salah satu bentuk tindakan yang dapat dilakukan.
Melalui pendekatan tersebut, pembelajaran IPS tidak berhenti pada penguasaan konsep. Materi yang dipelajari di kelas dihubungkan dengan persoalan nyata sehingga murid memiliki kesempatan untuk memahami dampak aktivitas manusia sekaligus mencoba mengambil bagian dalam pengelolaan lingkungan.
Pemanfaatan tutup botol menjadi gantungan kunci akhirnya tidak sekadar menghasilkan sebuah produk. Kegiatan itu menjadi sarana bagi murid untuk melihat bahwa sampah yang sering dianggap tidak bernilai masih dapat dimanfaatkan apabila dikelola secara tepat dan bertanggung jawab.





