Tak Sekadar Ruang Hijau, Kebun Literasi SMPN 9 Magelang Dilengkapi QR Code Edukatif

Dalam upaya memperkuat budaya sekaligus mendukung keberlanjutan Program Adiwiyata, Mahasiswa Magang Kependidikan Terintegrasi (MKT) Universitas Tidar 2026 mengoptimalkan kembali Kebun Literasi di SMP Negeri 9 Magelang. (Dok. Pribadi/MKT UNTIDAR)
Dalam upaya memperkuat budaya sekaligus mendukung keberlanjutan Program Adiwiyata, Mahasiswa Magang Kependidikan Terintegrasi (MKT) Universitas Tidar 2026 mengoptimalkan kembali Kebun Literasi di SMP Negeri 9 Magelang. (Dok. Pribadi/MKT UNTIDAR)

Magelang, Krajan.id – Kebun sekolah tidak lagi sekadar menjadi ruang terbuka hijau. Di SMP Negeri 9 Magelang, area tersebut dikembangkan menjadi ruang belajar yang memadukan aktivitas literasi, pengamatan lingkungan, dan teknologi digital melalui QR Code.

Pengembangan itu dilakukan mahasiswa Magang Kependidikan Terintegrasi (MKT) Universitas Tidar (UNTIDAR) 2026 melalui program revitalisasi dan optimalisasi Kebun Literasi. Program tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung Program Adiwiyata sekaligus memperluas pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar bagi siswa.

Bacaan Lainnya

Melalui program tersebut, kebun yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal ditata kembali menjadi ruang pembelajaran luar ruangan. Siswa dapat memanfaatkan area itu untuk membaca, berdiskusi, mengamati tanaman, hingga memperoleh informasi mengenai lingkungan secara langsung.

Salah satu pembaruan yang menjadi bagian penting dalam program tersebut adalah pemasangan papan informasi yang dilengkapi QR Code pada setiap tanaman. QR Code tersebut terhubung dengan situs berbasis Google Sites yang memuat informasi mengenai tanaman yang berada di Kebun Literasi.

Informasi yang dapat diakses siswa melalui pemindaian QR Code mencakup nama lokal, nama ilmiah, klasifikasi, habitat, karakteristik, hingga manfaat tanaman. Dengan pendekatan tersebut, proses mengenali tanaman tidak hanya berlangsung melalui penjelasan di dalam kelas, tetapi juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan objek yang berada di lingkungan sekolah.

Pengembangan Kebun Literasi berangkat dari hasil observasi awal mahasiswa MKT UNTIDAR terhadap kondisi lahan di SMP Negeri 9 Magelang. Saat itu, masih terdapat sejumlah petak lahan yang kosong dan belum tertata. Beberapa bagian juga ditumbuhi rerumputan liar, sementara jumlah tanaman yang tersedia belum mencukupi.

Kondisi tersebut membuat potensi kebun sebagai ruang hijau sekaligus sarana edukasi belum dapat dimanfaatkan secara maksimal. Karena itu, penataan kembali dilakukan agar lahan yang tersedia memiliki fungsi yang lebih luas bagi warga sekolah.

Revitalisasi tidak hanya diarahkan untuk memperbaiki tampilan kebun. Area tersebut dirancang agar dapat mendukung kegiatan literasi siswa dan pembelajaran kontekstual. Lingkungan sekitar sekolah dimanfaatkan sebagai sumber informasi yang dapat diamati secara langsung.

Konsep tersebut memungkinkan siswa memperoleh pengalaman belajar melalui objek nyata. Tanaman yang tumbuh di kebun dapat menjadi bahan pengamatan, sedangkan informasi yang tersedia melalui QR Code menjadi sumber pengetahuan yang dapat diakses secara mandiri.

Dengan pendekatan itu, kegiatan literasi tidak terbatas pada aktivitas membaca buku atau materi pembelajaran di ruang kelas. Siswa juga memperoleh kesempatan untuk membaca informasi, mengamati objek, berdiskusi, serta menghubungkan informasi yang diperoleh dengan kondisi lingkungan di sekitarnya.

Program revitalisasi dan optimalisasi Kebun Literasi berlangsung pada 20 Agustus hingga 11 September 2026. Tahapan kegiatan diawali dengan rapat bersama Kepala Sekolah dan Tim Adiwiyata SMP Negeri 9 Magelang untuk membahas rencana program kerja.

Setelah perencanaan disusun, mahasiswa MKT UNTIDAR mempersiapkan lokasi yang akan digunakan sebagai area Kebun Literasi. Tahap berikutnya adalah membersihkan dan mengolah lahan.

Pembersihan dilakukan dengan menyingkirkan tanaman liar dan sampah serta menata kembali pot-pot yang tidak terawat. Pada setiap petak lahan juga ditambahkan tanah baru. Selanjutnya, mahasiswa memberikan pupuk kandang kambing sebagai pupuk organik untuk membantu meningkatkan kesuburan tanah.

Setelah kondisi lahan dinilai siap, mahasiswa mulai menanam sejumlah jenis sayuran dan tanaman hias. Tanaman yang dikembangkan antara lain kangkung, sawi pakcoy, tomat, cabai, krokot, bunga baby blue, dan bunga kupu-kupu.

QR Code Tomat. (Dok. Pribadi/MKT UNTIDAR)
QR Code Tomat. (Dok. Pribadi/MKT UNTIDAR)

Setiap tanaman kemudian dilengkapi papan nama dan QR Code. Papan tersebut ditempatkan sesuai dengan tanaman yang diinformasikan sehingga siswa dapat langsung menghubungkan objek yang dilihat dengan informasi digital yang tersedia.

Pengembangan media informasi menjadi tahapan tersendiri dalam rangkaian program. Tim MKT menyiapkan papan informasi sekaligus menyusun materi mengenai tanaman yang telah ditanam. Materi tersebut kemudian dimasukkan ke dalam situs berbasis Google Sites.

Setelah melalui proses penyempurnaan, papan QR Code dipasang di area Kebun Literasi. Kehadiran media tersebut memberikan cara baru bagi siswa untuk memperoleh informasi tanaman dengan memanfaatkan perangkat digital.

Pemanfaatan teknologi dalam kebun sekolah juga membuat ruang hijau memiliki fungsi edukatif yang lebih luas. Tanaman tidak hanya menjadi bagian dari penghijauan lingkungan, tetapi dapat digunakan sebagai media untuk mengenalkan pengetahuan tentang tumbuhan kepada siswa.

Program tersebut sekaligus memperkuat keterkaitan antara lingkungan sekolah, kegiatan literasi, dan pembelajaran kontekstual. Siswa dapat memperoleh informasi dari lingkungan terdekat tanpa harus selalu bergantung pada materi yang disampaikan di dalam kelas.

Dari sisi pengelolaan lingkungan sekolah, revitalisasi Kebun Literasi juga diarahkan untuk mendukung pelaksanaan Program Adiwiyata. Pemanfaatan area terbuka secara aktif menjadi salah satu bentuk pengembangan lingkungan sekolah agar tidak berhenti pada fungsi estetika dan penghijauan.

Setelah rangkaian revitalisasi selesai, pemeliharaan kebun tetap dilakukan secara berkala. Perawatan meliputi penyiraman dan pemeliharaan tanaman agar area tersebut dapat terus dimanfaatkan sebagai ruang belajar.

Keberlanjutan pemanfaatan Kebun Literasi menjadi bagian penting karena fungsi ruang tersebut tidak hanya ditentukan oleh penataan awal. Keberadaan tanaman, papan informasi, dan QR Code perlu didukung dengan perawatan agar tetap dapat digunakan siswa dalam kegiatan pembelajaran.

Melalui revitalisasi tersebut, mahasiswa MKT UNTIDAR 2026 mengembangkan Kebun Literasi SMP Negeri 9 Magelang sebagai ruang belajar terbuka yang menggabungkan literasi, lingkungan, dan teknologi digital. Kebun sekolah yang sebelumnya memiliki sejumlah lahan kosong dan belum tertata diarahkan menjadi ruang yang lebih fungsional bagi kegiatan pendidikan.

Pengembangan ini memperlihatkan bahwa kegiatan literasi dapat ditempatkan dalam ruang yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Tanaman yang tumbuh di lingkungan sekolah menjadi objek pembelajaran, sedangkan teknologi QR Code menyediakan akses informasi yang dapat digunakan untuk memperkaya proses pengamatan dan belajar.

Dengan pemanfaatan tersebut, Kebun Literasi tidak hanya berfungsi sebagai ruang hijau, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran di SMP Negeri 9 Magelang. Ruang terbuka sekolah dapat digunakan untuk membangun pengalaman belajar yang lebih kontekstual sekaligus mendukung pemanfaatan lingkungan sekolah dalam pelaksanaan Program Adiwiyata.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *