Mahasiswa MKT Untidar Ciptakan BOBIN dari Bahan Daur Ulang untuk Dukung Program PEPELING

Tim mahasiswa berharap BOBIN bisa menjadi model replikatif bagi sekolah lain: murah, mudah dibuat, dan langsung bisa dipakai, karena kepedulian lingkungan butuh sarana, bukan hanya imbauan semata. (Dok. MKT Untidar 2026)
Tim mahasiswa berharap BOBIN bisa menjadi model replikatif bagi sekolah lain: murah, mudah dibuat, dan langsung bisa dipakai, karena kepedulian lingkungan butuh sarana, bukan hanya imbauan semata. (Dok. MKT Untidar 2026)

Magelang, Krajan.id – Sampah botol plastik menjadi salah satu persoalan lingkungan yang dihadapi SMA Negeri 1 Mertoyudan, Kabupaten Magelang. Konsumsi minuman kemasan oleh siswa setiap hari menghasilkan botol plastik yang belum seluruhnya terkelola dengan baik, meskipun sekolah telah memiliki program peduli lingkungan bernama PEPELING.

Kondisi tersebut mendorong mahasiswa Magang Kependidikan Terintegrasi (MKT) Universitas Tidar (Untidar) mengembangkan sarana sederhana untuk membantu pengelolaan sampah botol plastik di lingkungan sekolah.

Bacaan Lainnya

Pada 22 Agustus 2026, mahasiswa MKT memperkenalkan BOBIN, singkatan dari Bottle Bin. Tempat sampah khusus botol plastik tersebut dibuat menggunakan bahan daur ulang, antara lain jaring kawat, tutup cat bekas, kabel ties, dan botol plastik bekas.

BOBIN tidak hanya berfungsi sebagai tempat menampung botol plastik. Mekanisme penggunaannya dirancang untuk membiasakan siswa memilah sampah sebelum dibuang.

Pengguna diminta meremas botol terlebih dahulu, kemudian memisahkan tutup botol dan memasukkannya ke wadah kecil yang tersedia. Setelah itu, badan botol dimasukkan ke dalam BOBIN.

Cara tersebut menjadi bagian dari upaya sederhana untuk mengenalkan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R) dalam aktivitas sehari-hari di lingkungan sekolah.

Produk BOBIN kemudian secara resmi diserahkan kepada pihak SMA Negeri 1 Mertoyudan pada Jumat, 11 September 2026. Ketua MKT Aditya Bayu Prakosa bersama tim mahasiswa MKT menyerahkan BOBIN kepada Kepala SMA Negeri 1 Mertoyudan, Tentrem Lestari, S.Pd., M.Sc., sebagai perwakilan pihak sekolah.

Program tersebut mendapat respons positif dari warga sekolah. Koordinator MKT di sekolah, Retna Ida Nuraeny, S.Pd., mengatakan keberadaan BOBIN sejalan dengan program lingkungan yang telah dijalankan sekolah.

“Adanya BOBIN sangat membantu dan sangat linear dengan program sekolah, yaitu PEPELING. Ke depannya, BOBIN akan dikembangkan dan dioptimalkan, salah satu caranya dengan memastikan setiap kelas memiliki BOBIN,” ujarnya.

Ketua PEPELING, Margi Wahyunto, S.Pd.I., juga menilai BOBIN dapat membantu pengelolaan sampah botol plastik secara lebih terorganisasi di lingkungan sekolah.

“BOBIN dapat mengorganisir sampah botol di lingkungan sekolah. Harapannya BOBIN akan ditambah agar cakupan manfaatnya bisa lebih luas,” katanya.

Sementara itu, dari kalangan siswa, keberadaan BOBIN dipandang dapat memberikan manfaat dalam pengelolaan sampah secara berkelanjutan.

“BOBIN sangat bermanfaat dalam jangka panjang bagi pengelolaan sampah di lingkungan sekolah,” ungkap Aura Fauziah, salah satu siswa SMA Negeri 1 Mertoyudan.

Mahasiswa MKT berharap penggunaan BOBIN tidak berhenti sebagai proyek lingkungan di SMA Negeri 1 Mertoyudan. Sarana tersebut diharapkan dapat dikembangkan dan diterapkan di lingkungan sekolah lain karena menggunakan bahan yang relatif sederhana serta mudah dibuat.

Upaya tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di lingkungan sekolah tidak hanya bergantung pada imbauan. Ketersediaan sarana yang sesuai juga dapat membantu membangun kebiasaan memilah dan mengelola sampah dalam aktivitas sehari-hari.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *