Dari Azolla hingga Digitalisasi, KKN Abdi Bhuana Tinggalkan Jejak Pemberdayaan di Desa Jetis

Foto KKN “Abdi Bhuana” 224 bersama para perangkat desa. (Dok. Pribadi/KKN 224 UNS)
Foto KKN “Abdi Bhuana” 224 bersama para perangkat desa. (Dok. Pribadi/KKN 224 UNS)

Jetis, Krajan.id – Keberhasilan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang terlaksana selama mahasiswa berada di desa. Hal yang tidak kalah penting adalah sejauh mana pengetahuan, keterampilan, dan inovasi yang diperkenalkan dapat diteruskan masyarakat setelah mahasiswa kembali ke kampus.

Hal itu menjadi salah satu fokus Kelompok KKN Abdi Bhuana Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 224 selama melaksanakan pengabdian di Desa Jetis, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Semarang, pada 7 Juli hingga 21 Agustus 2026.

Bacaan Lainnya

Selama hampir dua bulan, mahasiswa menjalankan program di sejumlah bidang, mulai dari pertanian, pengelolaan limbah, digitalisasi UMKM, pendidikan, kesehatan, literasi digital, hingga dokumentasi sejarah dan budaya desa.

Salah satu program yang menunjukkan adanya tindak lanjut setelah kegiatan KKN adalah budidaya Azolla sebagai pakan tambahan ternak. Program tersebut dikembangkan dengan mempertimbangkan karakteristik Desa Jetis yang memiliki potensi pada sektor peternakan.

Mahasiswa tidak hanya memberikan sosialisasi mengenai Azolla, tetapi juga mengajak masyarakat melakukan praktik budidaya secara langsung. Berdasarkan laporan kegiatan KKN, tanaman tersebut dipilih karena relatif mudah dan cepat dibudidayakan dengan biaya rendah. Azolla kemudian dapat dimanfaatkan sebagai pakan tambahan atau suplemen bagi ternak.

Aspek keberlanjutan menjadi perhatian dalam pelaksanaan program tersebut. Setelah masa KKN berakhir, budidaya Azolla dilanjutkan oleh Sekretaris Desa Jetis, Warsono, bersama Kepala Dusun Kemiri, Wartono.

Tindak lanjut tersebut menunjukkan bahwa program KKN tidak berhenti ketika mahasiswa meninggalkan lokasi pengabdian. Pengetahuan yang telah diperkenalkan selama kegiatan diharapkan dapat terus dikembangkan oleh masyarakat maupun pemerintah desa sesuai dengan kebutuhan setempat.

Selain Azolla, mahasiswa Kelompok 224 memperkenalkan pemanfaatan limbah sekam padi melalui pelatihan pembuatan briket. Kegiatan tersebut diikuti 20 petani Desa Jetis.

Pelatihan menggunakan metode learning by doing, sehingga peserta tidak hanya memperoleh penjelasan, tetapi juga mengikuti proses pengolahan sekam secara langsung. Sekam yang selama ini menjadi bagian dari limbah pertanian diperkenalkan sebagai bahan yang dapat dimanfaatkan menjadi sumber energi alternatif.

Program tersebut sekaligus memperkenalkan keterkaitan antara aktivitas pertanian, pengelolaan limbah, pemanfaatan energi, dan peluang ekonomi. Dengan pendekatan tersebut, limbah hasil pertanian tidak semata dipandang sebagai sisa produksi, tetapi juga sebagai material yang berpotensi dimanfaatkan kembali.

Mendorong UMKM Masuk Ekosistem Pembayaran Digital

Pada sektor ekonomi, Kelompok KKN Abdi Bhuana juga mendorong pelaku usaha lokal mengikuti perkembangan transaksi digital melalui QRIS.

Pendampingan yang dilakukan membantu delapan UMKM di Desa Jetis memiliki QRIS. Selain proses pembuatan, mahasiswa memberikan edukasi mengenai penggunaan pembayaran digital dalam kegiatan usaha sehari-hari.

Digitalisasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses transaksi bagi pelaku UMKM. Kehadiran QRIS memungkinkan pembayaran dilakukan melalui sistem digital sehingga pelaku usaha tidak hanya bergantung pada transaksi tunai.

Bagi UMKM di tingkat desa, pengenalan teknologi pembayaran juga menjadi bagian dari proses adaptasi terhadap perubahan perilaku konsumen. Karena itu, pendampingan tidak hanya diarahkan pada kepemilikan fasilitas QRIS, tetapi juga pemahaman mengenai cara menggunakannya dalam aktivitas usaha.

Pendidikan Tidak Hanya Berlangsung di Ruang Kelas

Kontribusi Kelompok 224 juga menyasar sektor pendidikan melalui sejumlah kegiatan yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa sekolah dasar.

Program Green Art Movement melalui kegiatan ecoprint diikuti 26 siswa dan siswi SDN 02 Jetis. Dalam kegiatan tersebut, daun dan bunga yang tersedia di lingkungan sekitar digunakan sebagai media untuk menghasilkan karya.

Selain mengembangkan kreativitas, kegiatan ecoprint memperkenalkan pemanfaatan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar. Pendekatan tersebut membuat proses pembelajaran tidak sepenuhnya bergantung pada bahan yang harus didatangkan dari luar.

Mahasiswa juga memberikan pelatihan Microsoft Word dasar kepada 40 siswa dan siswi SDN 01 Jetis serta SDN 03 Jetis. Peserta memperoleh kesempatan mempraktikkan keterampilan pengolah kata yang dapat digunakan untuk menunjang aktivitas belajar.

Workshop Microsoft Word bersama SDN 01 Jetis. (Dok. Pribadi/KKN 224 UNS)
Workshop Microsoft Word bersama SDN 01 Jetis. (Dok. Pribadi/KKN 224 UNS)

Program pendidikan lainnya, Celengan Cerdas, diikuti 30 siswa dan siswi SDN 03 Jetis. Kegiatan tersebut mengenalkan konsep dasar pengelolaan keuangan, termasuk membedakan kebutuhan dan keinginan serta membangun kebiasaan menabung sejak usia sekolah.

Literasi Digital dan Gizi Keluarga

Di bidang kesehatan dan literasi digital, mahasiswa memberikan sosialisasi kepada 30 ibu-ibu posyandu Desa Jetis.

Materi yang diberikan mencakup pemenuhan gizi anak melalui praktik pembuatan puding susu buah serta edukasi untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penipuan online.

Dua materi tersebut memiliki sasaran yang berbeda, tetapi sama-sama diarahkan pada pengetahuan praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pelatihan pengolahan makanan berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi keluarga, sedangkan literasi digital membantu masyarakat mengenali indikasi penipuan yang dapat muncul dalam aktivitas daring.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak selalu harus berbentuk program berskala besar. Pengetahuan yang dekat dengan kebutuhan sehari-hari dapat menjadi bagian penting dalam meningkatkan kapasitas masyarakat.

Mendokumentasikan Sejarah Desa Jetis

Program Kelompok 224 juga menyentuh aspek yang berbeda, yakni pelestarian sejarah dan budaya lokal. Mahasiswa membuat video dokumenter mengenai Makam Kyai Kiring dan Masjid/Langgar Tiban di Dusun Kemiri.

Dokumentasi tersebut memuat sejarah serta nilai budaya kedua situs tersebut. Video tidak hanya berfungsi sebagai arsip, tetapi juga sebagai media edukasi dan pengenalan potensi lokal Desa Jetis.

Video dokumenter itu telah dipublikasikan melalui Facebook Desa Jetis. Selanjutnya, dokumentasi tersebut direncanakan disampaikan kepada Pemerintah Daerah untuk membuka peluang dukungan dan publikasi melalui kanal yang lebih luas.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperpanjang usia manfaat program KKN. Dokumentasi yang dibuat selama mahasiswa berada di desa diharapkan tidak berhenti sebagai produk kegiatan, tetapi dapat dimanfaatkan desa untuk memperkenalkan sejarah dan potensi budayanya kepada masyarakat yang lebih luas.

Sekretaris Desa Jetis, Warsono, menyampaikan harapan agar program-program yang telah dilaksanakan Kelompok KKN 224 dapat memberikan manfaat serta dilanjutkan oleh pemerintah desa maupun kelompok KKN berikutnya.

Apresiasi juga disampaikan Kasi Kesejahteraan Desa Jetis, Naimun. Ia menilai mahasiswa Kelompok 224 mampu berbaur dengan masyarakat. Menurut dia, video dokumenter yang dibuat mahasiswa turut membantu desa dalam mendokumentasikan potensi lokal dan diharapkan memberikan dampak positif bagi Desa Jetis.

Kepala SDN 03 Jetis juga menyampaikan terima kasih atas kontribusi mahasiswa dalam memberikan pengetahuan kepada para siswa dan siswi. Kehadiran mahasiswa dinilai memberikan pengalaman selama pelaksanaan KKN dan meninggalkan kesan positif bagi lingkungan sekolah.

Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan beragam pendekatan yang digunakan Kelompok KKN Abdi Bhuana dalam menjalankan pengabdian. Mulai dari Azolla, pemanfaatan limbah sekam, digitalisasi UMKM, pendidikan, kesehatan, hingga dokumentasi sejarah, setiap program diarahkan pada potensi dan kebutuhan yang ditemukan di Desa Jetis.

Kolam Pak Warsono berisi hasil budidaya Azolla KKN 224. (Dok. Pribadi/KKN 224 UNS)
Kolam Pak Warsono berisi hasil budidaya Azolla KKN 224. (Dok. Pribadi/KKN 224 UNS)

Bagi mahasiswa, KKN menjadi ruang untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh di perguruan tinggi. Bagi desa, kegiatan tersebut diharapkan menjadi tambahan pengetahuan dan keterampilan yang dapat dikembangkan sesuai kondisi masyarakat.

Karena itu, berakhirnya masa KKN pada 21 Agustus 2026 bukan menjadi penanda berhentinya seluruh program. Budidaya Azolla yang dilanjutkan perangkat desa, QRIS yang telah dimiliki pelaku UMKM, keterampilan yang diperkenalkan kepada siswa, serta dokumentasi sejarah yang telah dipublikasikan menjadi bagian dari jejak program yang masih dapat dikembangkan setelah mahasiswa meninggalkan Desa Jetis.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *