TanjungPinang, Krajan.id – Karya kreatif mahasiswa tidak selalu lahir dari produksi dengan fasilitas besar. Ide sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari pun dapat menjadi bahan untuk membangun cerita sekaligus menyampaikan gagasan kepada penonton. Hal itu tergambar melalui film pendek Nurlela dan Priok Nasi yang digarap Irfani Zhang dan Dina Nuzilla.
Film tersebut menjadi salah satu bentuk ekspresi kreatif mahasiswa STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau dalam memanfaatkan film sebagai media untuk mengolah cerita, pengalaman, dan persoalan yang dekat dengan lingkungan sekitar.
Dengan pendekatan yang sederhana, Nurlela dan Priok Nasi mencoba menghadirkan cerita yang dapat diterima penonton melalui situasi yang tidak jauh dari kehidupan sehari-hari. Pilihan tersebut menunjukkan bahwa film pendek tidak selalu bergantung pada kompleksitas cerita, tetapi juga pada kemampuan kreator mengemas gagasan menjadi sebuah karya yang memiliki makna.
Proses penggarapan film juga menjadi bagian dari pengalaman kreatif bagi Irfani Zhang dan Dina Nuzilla. Keduanya tidak hanya berhadapan dengan kebutuhan teknis produksi, tetapi juga dituntut mengembangkan cerita agar memiliki identitas dan dapat menyampaikan pesan kepada penonton.
Bagi Irfani Zhang, keterlibatan dalam produksi film menjadi bagian dari proses pengembangan kemampuan di bidang seni peran dan karya audiovisual. Sementara itu, Dina Nuzilla turut terlibat dalam proses kreatif yang membentuk film tersebut menjadi sebuah karya dengan karakter tersendiri.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kegiatan produksi film pendek mahasiswa dapat menjadi ruang pembelajaran. Mahasiswa berkesempatan mengembangkan kemampuan kreatif sekaligus belajar menerjemahkan gagasan ke dalam bentuk audiovisual yang dapat dinikmati masyarakat.
Film pendek juga memiliki karakter yang memungkinkan sebuah cerita disampaikan secara lebih ringkas. Durasi yang terbatas tidak serta-merta membuat pesan menjadi kurang berarti. Sebaliknya, keterbatasan tersebut dapat mendorong kreator untuk memilih bagian cerita yang dianggap penting dan menyusunnya secara lebih terarah.
Dalam konteks Nurlela dan Priok Nasi, pendekatan terhadap cerita yang dekat dengan keseharian menjadi bagian penting dari karya. Cerita sederhana dapat menjadi pintu masuk bagi penonton untuk melihat kembali nilai maupun persoalan yang terdapat di lingkungan sekitar.
Karya yang digarap Irfani Zhang dan Dina Nuzilla sekaligus memperlihatkan bagaimana mahasiswa dapat mengambil peran sebagai kreator muda. Lingkungan sekitar tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya aktivitas sehari-hari, tetapi juga dapat menjadi sumber gagasan untuk menghasilkan karya seni.
Proses tersebut juga menunjukkan bahwa keterbatasan tidak selalu menjadi penghalang untuk berkarya. Kemauan mencoba, kerja sama, serta kemampuan mengembangkan ide menjadi bagian dari proses yang dapat membentuk sebuah karya.
Bagi mahasiswa, pengalaman membuat film dapat menjadi sarana untuk mengasah kemampuan bekerja dalam proses kreatif. Mulai dari membangun gagasan, mengembangkan cerita, hingga menghasilkan karya audiovisual membutuhkan keterlibatan dan konsistensi.
Nurlela dan Priok Nasi pada akhirnya tidak hanya dapat dilihat sebagai sebuah film pendek, tetapi juga sebagai gambaran proses kreatif mahasiswa dalam mengolah ide sederhana menjadi karya. Irfani Zhang dan Dina Nuzilla menunjukkan bahwa gagasan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari tetap dapat dikembangkan menjadi cerita ketika dikerjakan secara serius.
Karya tersebut menjadi bagian dari upaya generasi muda memanfaatkan seni dan film sebagai media kreativitas. Dari sebuah gagasan sederhana, mahasiswa dapat belajar membangun cerita, menyampaikan pesan, sekaligus menemukan ruang untuk mengembangkan kemampuan di bidang audiovisual.





