Mertoyudan, Krajan.id – Kebiasaan memilah sampah dari sumbernya menjadi salah satu upaya yang didorong di lingkungan SMAN 1 Mertoyudan, Kabupaten Magelang. Upaya tersebut dilakukan melalui pengenalan BOBIN (Bottle Bin), tong sampah khusus botol plastik, yang diperkuat dengan video sosialisasi bagi warga sekolah.
Video tersebut tidak hanya memperkenalkan keberadaan BOBIN, tetapi juga menjelaskan fungsi dan cara penggunaannya. Media visual dipilih agar informasi mengenai pemilahan sampah lebih mudah dipahami sekaligus dapat menjadi pengingat bagi siswa untuk membiasakan diri memilah sampah sebelum membuangnya.
Koordinator MKT sekolah, Retna Ida Nuraeny, S.Pd., mengatakan keberadaan BOBIN sejalan dengan program lingkungan yang telah berjalan di sekolah, yakni PEPELING.
“Adanya BOBIN sangat membantu dan sangat linear dengan program sekolah, yaitu PEPELING. Ke depannya, BOBIN akan dikembangkan dan dioptimalkan, salah satu caranya dengan memastikan setiap kelas memiliki BOBIN,” katanya.
BOBIN merupakan salah satu produk dari program kerja bertema lingkungan. Pengembangannya tidak berhenti pada pembuatan tempat sampah khusus botol plastik, tetapi dilengkapi dengan upaya memberikan pemahaman kepada warga sekolah mengenai fungsi serta penggunaan produk tersebut.
Program ini mulai dipersiapkan sejak Agustus 2026. Tahap awal dilakukan melalui konsultasi dengan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum untuk menyampaikan gagasan sekaligus memastikan kegiatan sesuai dengan kebijakan sekolah.
Setelah itu, tim berdiskusi dan berkoordinasi dengan Ketua PEPELING. Koordinasi tersebut dilakukan untuk memperoleh masukan dalam penyusunan dan pelaksanaan program.
Setelah konsep disepakati, tim mempersiapkan alat dan bahan untuk membuat BOBIN. Produk kemudian dibuat dan dirakit berdasarkan rancangan yang telah disepakati.
Tahap berikutnya adalah menyiapkan video sosialisasi sebagai media edukasi. Tim mempersiapkan peralatan videografi serta menyusun alur pengambilan gambar. Proses pengambilan video dan penyusunan narasi dilakukan pada minggu keempat Agustus.
Rekaman yang telah diperoleh kemudian masuk tahap penyuntingan. Proses tersebut mencakup pemotongan gambar dan pengisian suara atau voice-over. Penyuntingan dilakukan agar informasi mengenai BOBIN dan pemilahan sampah dapat disampaikan secara runtut dan mudah dipahami.
Video kemudian diserahkan kepada pihak sekolah pada minggu pertama September. Sementara itu, peluncuran produk BOBIN dilakukan pada minggu kedua September.
Video sebagai Penguat Edukasi Pemilahan Sampah
Penggunaan video menjadi bagian penting dalam sosialisasi karena informasi dapat disampaikan melalui gambar dan contoh secara langsung. Siswa tidak hanya memperoleh penjelasan dalam bentuk teks, tetapi juga dapat melihat cara menggunakan BOBIN.
Melalui pendekatan tersebut, pesan yang dibangun bukan sekadar mengajak siswa membuang botol plastik ke tempat sampah khusus. Lebih jauh, siswa didorong memahami bahwa pemilahan sampah perlu dimulai dari sumbernya.
Setelah melalui proses penyempurnaan dan memperoleh persetujuan, video diserahkan kepada sekolah untuk didistribusikan kepada guru dan siswa. Media tersebut diharapkan dapat memperluas penyampaian informasi mengenai penggunaan BOBIN di lingkungan sekolah.
Tanggapan positif juga disampaikan sejumlah siswa setelah menonton video sosialisasi tersebut.
“Video sosialisasi tersebut menarik,” ujar Anindia dan Fauziah, siswa kelas 10 A.
Mengukur Perubahan Kebiasaan Siswa
Program BOBIN dan video sosialisasi diarahkan tidak hanya untuk menyampaikan informasi, tetapi juga mendorong perubahan kebiasaan warga sekolah dalam mengelola sampah.
Setelah produk diserahkan kepada pihak sekolah, BOBIN nantinya ditempatkan di sejumlah titik strategis. Penempatan tersebut diharapkan memudahkan siswa membuang botol plastik pada tempat yang telah disediakan sekaligus membangun kebiasaan memilah sampah.
Untuk melihat dampak program, tim menyiapkan angket kebiasaan pada tahap evaluasi. Angket tersebut digunakan untuk memperoleh data mengenai kebiasaan dan kepedulian siswa terhadap lingkungan.
Data dari angket akan menjadi salah satu indikator untuk melihat sejauh mana video sosialisasi dan penempatan BOBIN memengaruhi perilaku siswa dalam memilah sampah botol plastik.
Integrasi antara produk BOBIN, video sosialisasi, keterlibatan pihak sekolah, dan evaluasi melalui angket menjadi bagian dari rangkaian program. Pendekatan tersebut menempatkan edukasi dan perubahan perilaku sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pengelolaan sampah di lingkungan sekolah.
Program ini membawa pesan “Pilah Sampah, Mulai dari Diri Sendiri, untuk Lingkungan Sekolah yang Lebih Peduli”. Pesan tersebut menjadi bagian dari sosialisasi yang diarahkan kepada seluruh warga SMAN 1 Mertoyudan.
Melalui langkah tersebut, pemilahan botol plastik diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi berkembang menjadi kebiasaan yang dilakukan secara konsisten di lingkungan sekolah.





