Mahasiswa KKN 143 UNS Ubah Ampas Kopi Menjadi Gagasan Produk Wisata Desa Tegalmulyo

Foto bersama Mahasiswa KKN Kelompok 143 UNS di Sapuangin Coffee and Farm, (30/07/2026). (Dok. Pribadi/Kelompok KKN 88 UNS)
Foto bersama Mahasiswa KKN Kelompok 143 UNS di Sapuangin Coffee and Farm, (30/07/2026). (Dok. Pribadi/Kelompok KKN 88 UNS)

Tegalmulyo, Krajan.id – Ampas kopi yang selama ini berpotensi menjadi limbah mulai dilihat sebagai bahan yang dapat diolah menjadi produk kreatif. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 143 Universitas Sebelas Maret (UNS) tahun 2026 memperkenalkan pemanfaatan ampas kopi melalui edukasi dan workshop di Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten.

Kegiatan tersebut tidak hanya mengenalkan cara mengolah sisa kopi, tetapi juga mengaitkannya dengan potensi ekonomi kreatif dan agroeduwisata Desa Tegalmulyo. Salah satu produk yang diperkenalkan adalah lilin aromaterapi berbahan ampas atau bubuk kopi.

Bacaan Lainnya

Program itu dilaksanakan melalui koordinasi dengan Komunitas Sapuangin, yang turut mengembangkan potensi kopi dan wisata di Desa Tegalmulyo. Rangkaian kegiatan meliputi sosialisasi pemanfaatan ampas kopi, pemasangan infografis edukatif, serta workshop pembuatan lilin aroma.

Dalam sesi sosialisasi, mahasiswa KKN 143 UNS memperkenalkan sejumlah alternatif pemanfaatan ampas kopi. Materi tidak hanya membahas pengolahan menjadi produk sederhana, tetapi juga peluang mengembangkan limbah kopi sebagai bagian dari kegiatan ekonomi kreatif di tingkat desa.

Peserta juga diajak berdiskusi mengenai pengolahan ampas kopi menggunakan bahan dan peralatan yang relatif sederhana. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya agar pemanfaatan limbah dapat dilakukan secara lebih mudah dan tidak berhenti pada pengetahuan teoritis.

Pemaparan cara membuat lilin aromaterapi dari limbah ampas kopi oleh Mahasiswa KKN UNS Kelompok 143, Kamis (30/07/2026). (Dok. Pribadi/Kelompok KKN 143 UNS)
Pemaparan cara membuat lilin aromaterapi dari limbah ampas kopi oleh Mahasiswa KKN UNS Kelompok 143, Kamis (30/07/2026). (Dok. Pribadi/Kelompok KKN 143 UNS)

Setelah sosialisasi, mahasiswa memperagakan proses pembuatan lilin aromaterapi dari ampas kopi. Tahapan yang diperlihatkan meliputi penyiapan bahan, pencampuran bahan, hingga menghasilkan lilin yang siap digunakan.

Pemilihan lilin aroma dalam workshop berkaitan dengan peluang mengembangkan ampas kopi menjadi produk kreatif sekaligus cenderamata. Gagasan tersebut memanfaatkan keberadaan kopi sebagai salah satu potensi lokal Tegalmulyo sehingga produk yang dihasilkan memiliki keterkaitan dengan karakter desa dan kegiatan agroeduwisata.

Produk berbahan kopi tersebut juga membuka kemungkinan pemanfaatan sisa produksi dari aktivitas usaha kopi. Alih-alih langsung dibuang, ampas kopi dapat diperkenalkan kembali melalui bentuk produk yang memiliki fungsi dan nilai tambah.

Salah satu pengelola Sapuangin Coffee and Farm, Juli, menyampaikan bahwa program tersebut memberikan manfaat bagi pengelola dalam melihat peluang pemanfaatan ampas kopi.

“Saya merasa sangat terbantu dengan adanya program ini, sehingga dari kami sebagai pengelola Sapuangin Coffee and Farm bisa memanfaatkan ampas kopi untuk dijadikan produk yang bernilai jual daripada sekedar membuangnya begitu saja,” ujar Juli.

Sebagai bagian dari tindak lanjut, mahasiswa KKN 143 UNS memasang infografis edukatif mengenai pemanfaatan ampas kopi di Sapuangin Coffee and Farm. Media tersebut ditujukan untuk memberikan informasi yang dapat diakses masyarakat maupun pengunjung kawasan Sapuangin.

Penyerahan infografis pemanfaatan limbah ampas kopi oleh Mahasiswa KKN UNS Kelompok 143, Kamis (30/07/2026). (Dok. Pribadi/Kelompok KKN 143 UNS)
Penyerahan infografis pemanfaatan limbah ampas kopi oleh Mahasiswa KKN UNS Kelompok 143, Kamis (30/07/2026). (Dok. Pribadi/Kelompok KKN 143 UNS)

Pemasangan infografis membuat materi edukasi tidak hanya disampaikan ketika kegiatan berlangsung. Pengunjung yang datang ke Sapuangin Coffee and Farm tetap dapat memperoleh informasi mengenai berbagai kemungkinan pemanfaatan ampas kopi.

Bagi Desa Tegalmulyo, pendekatan tersebut mempertemukan dua potensi, yakni komoditas kopi dan aktivitas wisata. Pemanfaatan limbah kopi menjadi produk kreatif dapat menjadi salah satu gagasan untuk memperkuat keterkaitan antara produk lokal dengan pengalaman wisata yang ditawarkan kepada pengunjung.

Rangkaian edukasi dan workshop ini diharapkan dapat menambah pengetahuan serta keterampilan masyarakat dalam mengolah ampas kopi. Pengembangan lebih lanjut diperlukan agar produk yang diperkenalkan dapat memiliki kualitas, kemasan, dan nilai jual yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN 143 UNS berupaya mendorong pemanfaatan sumber daya yang tersedia di lingkungan desa. Ampas kopi tidak hanya dipandang sebagai sisa produksi, tetapi juga diperkenalkan sebagai bahan yang dapat dikembangkan menjadi produk kreatif sekaligus mendukung potensi agroeduwisata Desa Tegalmulyo.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *