Atasi Limbah Organik, Mahasiswa KKN UNS Kenalkan Budidaya Maggot BSF kepada KWT Desa Kudu

Mahasiswa KKN UNS Kelompok 244 bersama KWT Desa Kudu dalam kegiatan sosialisasi budidaya maggot BSF. (Doc. Pribadi/KKN 244 UNS)
Mahasiswa KKN UNS Kelompok 244 bersama KWT Desa Kudu dalam kegiatan sosialisasi budidaya maggot BSF. (Doc. Pribadi/KKN 244 UNS)

Kudu, Krajan.id – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 244 mengenalkan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai alternatif pengelolaan limbah organik rumah tangga kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Kudu, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Kegiatan berupa sosialisasi dan praktik budidaya tersebut berlangsung di Balai Desa Kudu, Sabtu (18/7/2026) pukul 16.30 WIB. Sekitar 50 peserta mengikuti kegiatan yang menghadirkan Wiyono dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surakarta sebagai narasumber.

Bacaan Lainnya

Program tersebut dilaksanakan di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Dr. Roy Ardiansyah, S.Pd., M.Pd. Kegiatan melibatkan mahasiswa UNS dari sejumlah program studi, yakni Hafiidh Rahardian Yudhistira, Nazia Dinia Addhiya’ulhaq, Yovita Shelvy Putri, Luvy Cahyani, Septina Siti Nur Fatimah, Maria Esthi Nawangwulan, Renata Citra Putri Perdana, Ruditya Faiz Fitrotti, Silviana Nur Azizah, dan Theodore Ekyan Prasetyo.

Program ini berangkat dari persoalan pengelolaan sampah rumah tangga di Desa Kudu. Masyarakat setempat telah memiliki bank sampah dan tempat pembuangan sementara (TPS). Namun, sampah organik yang belum segera dikelola masih berpotensi menimbulkan bau di lingkungan sekitar.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mahasiswa KKN UNS memperkenalkan budidaya maggot BSF. Larva lalat tentara hitam tersebut dapat memanfaatkan berbagai jenis limbah organik, seperti sisa sayuran, nasi, dan buah. Limbah itu kemudian dikonsumsi maggot dan diubah menjadi biomassa yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

Kegiatan tidak hanya dilakukan melalui pemaparan materi. Peserta juga mengikuti praktik pengolahan limbah organik dan penyiapan media budidaya secara langsung.

Dalam praktik tersebut, peserta diperkenalkan pada proses pencacahan limbah organik agar lebih mudah dikonsumsi maggot. Mahasiswa KKN turut mendampingi peserta dalam pembuatan kandang serta penyiapan media yang akan digunakan untuk budidaya.

Untuk mendukung keberlanjutan program, mahasiswa KKN UNS menyerahkan dua media box berukuran 40 × 60 sentimeter kepada KWT Desa Kudu. Media tersebut dapat digunakan untuk mengolah sampah organik rumah tangga melalui budidaya maggot setelah kegiatan KKN berakhir.

Kegiatan sosialisasi dan praktik langsung budidaya maggot BSF bersama KWT Desa Kudu. (Doc. Pribadi/KKN 244 UNS)
Kegiatan sosialisasi dan praktik langsung budidaya maggot BSF bersama KWT Desa Kudu. (Doc. Pribadi/KKN 244 UNS)

Narasumber kegiatan, Wiyono, menjelaskan potensi maggot BSF dalam mengolah sampah organik sekaligus menghasilkan bahan yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan.

“Lima gram telur maggot BSF dapat menguraikan hingga 30 kilogram sampah organik. Budidaya maggot BSF dapat menjadi salah satu alternatif dalam pengelolaan sampah organik rumah tangga sekaligus menghasilkan maggot yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan, seperti pakan ayam, burung, dan ikan. Dengan pengelolaan yang tepat, sampah organik yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dapat dimanfaatkan kembali dan memiliki nilai guna bagi masyarakat,” ujar Wiyono.

Penanggung jawab program, Yovita Shelvy Putri, menekankan pentingnya keberlanjutan budidaya setelah program KKN selesai. Pemanfaatan limbah rumah tangga diharapkan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi dan praktik, tetapi dapat dilanjutkan oleh KWT Desa Kudu.

Keberlanjutan tersebut menjadi bagian penting dari program karena pengelolaan limbah organik membutuhkan praktik yang dilakukan secara rutin. Budidaya maggot juga diharapkan dapat memberikan manfaat tambahan berupa ketersediaan pakan bagi ternak yang dipelihara masyarakat.

Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung. Salah satu hal yang menarik perhatian peserta ialah pemanfaatan limbah dapur yang selama ini dipandang sebagai sampah untuk dijadikan bagian dari media budidaya maggot.

Setelah melalui proses pemeliharaan selama kurang lebih 21 hari, maggot dari media yang telah disiapkan berhasil dipanen. Hasil tersebut menjadi bagian dari praktik yang diperkenalkan kepada peserta, sekaligus menunjukkan bahwa metode pengolahan limbah tersebut dapat diterapkan dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan rumah tangga.

Bagi KWT Desa Kudu, keberadaan media budidaya yang diserahkan mahasiswa menjadi sarana untuk melanjutkan praktik setelah program KKN berakhir. Limbah organik rumah tangga dapat dipilah dan dimanfaatkan sebagai sumber pakan bagi maggot, sementara maggot yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

Program budidaya maggot BSF merupakan salah satu program kerja utama KKN Kemitraan UNS Kelompok 244 di Desa Kudu. Program tersebut diarahkan pada pemanfaatan sumber daya lokal melalui pengelolaan limbah organik yang dapat dilakukan secara berkelanjutan.

Mahasiswa KKN berharap media budidaya yang telah diserahkan dapat terus dimanfaatkan oleh KWT Desa Kudu. Dengan pengelolaan yang berkelanjutan, limbah dapur yang sebelumnya menjadi bagian dari persoalan sampah dapat dimanfaatkan kembali dan memiliki nilai guna bagi masyarakat.

Selain membantu mengurangi limbah organik yang belum tertangani, budidaya maggot BSF juga membuka peluang pemanfaatan hasil budidaya sebagai pakan ternak. Program ini mempertemukan dua kebutuhan di tingkat rumah tangga, yakni pengelolaan sampah organik dan pemanfaatan sumber pakan alternatif.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *