Ciputat, Krajan.id – Pencegahan kenakalan remaja tidak cukup dilakukan melalui penerapan aturan dan pemberian sanksi di lingkungan sekolah. Penanaman karakter, kesadaran sosial, serta pemahaman etika dalam kehidupan sehari-hari juga menjadi bagian penting untuk membentuk perilaku peserta didik.
Hal tersebut menjadi perhatian mahasiswa Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Pamulang (Unpam), melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di SMK Islamiyah Ciputat, Tangerang Selatan, Senin (2/11/2026).
Mengangkat tema “Penguatan Nilai-Nilai Pancasila sebagai Upaya Pencegahan Kenakalan Remaja di Lingkungan Sekolah”, kegiatan ini diikuti 22 siswa. Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan pemahaman peserta didik mengenai penerapan nilai-nilai Pancasila, terutama dalam membangun hubungan sosial yang sehat, menjaga kedisiplinan, dan menggunakan media sosial secara bertanggung jawab.
Kegiatan yang dilaksanakan Kelompok 24 itu berlangsung pukul 08.00 hingga 10.00 WIB. Mahasiswa memberikan edukasi mengenai pendidikan karakter dengan menghubungkan nilai-nilai Pancasila dengan persoalan yang dekat dengan kehidupan remaja, termasuk perilaku di lingkungan sekolah dan aktivitas di ruang digital.
Persoalan kenakalan remaja menjadi latar belakang pelaksanaan program tersebut. Sejumlah perilaku, seperti rendahnya kedisiplinan, kurangnya sikap menghargai sesama, perundungan, serta ketidakpatuhan terhadap aturan sekolah, dinilai perlu mendapat perhatian melalui pendekatan pendidikan karakter.
Dalam konteks tersebut, Pancasila tidak hanya diposisikan sebagai materi yang dipelajari di ruang kelas. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya juga perlu diterapkan dalam tindakan sehari-hari, baik ketika berinteraksi dengan teman, menghormati perbedaan, maupun menyikapi persoalan di lingkungan sekolah.
Melalui kegiatan bertajuk “Sekolah Berkarakter, Sekolah Tanpa Kenakalan”, mahasiswa berupaya menanamkan pentingnya sikap disiplin, tanggung jawab, toleransi, gotong royong, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi landasan bagi siswa dalam membangun lingkungan sekolah yang aman dan saling menghargai.
Selain membahas perilaku di lingkungan sekolah, kegiatan PKM tersebut memberikan perhatian khusus pada tantangan yang muncul akibat perkembangan teknologi digital. Media sosial kini menjadi bagian dari kehidupan remaja, mulai dari sarana komunikasi, hiburan, hingga tempat memperoleh informasi.
Namun, kemudahan mengakses dan menyebarkan informasi juga membawa risiko. Penyalahgunaan media sosial dapat memicu berbagai persoalan, seperti cyberbullying, penyebaran ujaran kebencian, hingga peredaran informasi palsu atau hoaks.
Karena itu, pemahaman mengenai etika digital menjadi salah satu materi utama yang disampaikan kepada para siswa. Mereka diajak memahami bahwa setiap aktivitas di media sosial memiliki konsekuensi, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Salah satu hal yang ditekankan adalah pentingnya memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya. Kebiasaan menyebarkan kabar tanpa memastikan sumber dan keakuratannya berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, bahkan merugikan pihak lain.
Mahasiswa juga menjelaskan pentingnya menjaga kesantunan dalam berkomunikasi di ruang digital. Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar, tetapi penyampaiannya tetap harus memperhatikan etika dan menghormati orang lain.
Komentar yang merendahkan, penghinaan, maupun tindakan mempermalukan seseorang melalui media sosial merupakan perilaku yang perlu dihindari. Para siswa didorong untuk memahami bahwa kebebasan berekspresi harus disertai tanggung jawab.
Materi tersebut kemudian dikaitkan dengan nilai-nilai Pancasila, terutama sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, serta sila ketiga, Persatuan Indonesia.
Nilai kemanusiaan mengajarkan setiap individu untuk memperlakukan orang lain secara bermartabat. Dalam penggunaan media sosial, prinsip tersebut dapat diwujudkan dengan tidak melakukan perundungan, menghina, atau menyebarkan konten yang merugikan orang lain.
Sementara itu, nilai persatuan mengajarkan pentingnya menjaga hubungan baik di tengah perbedaan. Prinsip ini relevan dengan kehidupan digital yang memungkinkan seseorang berinteraksi dengan banyak orang dari latar belakang berbeda.
Melalui pemahaman tersebut, siswa diharapkan mampu lebih selektif dalam menerima informasi, tidak mudah terpengaruh konten negatif, serta menghindari tindakan yang dapat memicu konflik di ruang digital.
Kelompok 24 dalam kegiatan tersebut melibatkan mahasiswa PPKn Universitas Pamulang, yakni Adinda Puri Ainun, Alifa Nurauini, Alvina Damayanti, Intan Nur Kasanah, dan Zahwa Annisa Alfarani. Mereka terlibat dalam penyampaian materi dan pendampingan peserta selama kegiatan berlangsung.
Acara diawali dengan sambutan Hasan Basri, S.E., M.M., yang hadir mewakili kepala sekolah karena berhalangan hadir. Dalam sambutannya, Hasan menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada mahasiswa Universitas Pamulang yang telah meluangkan waktu untuk berbagi pengetahuan dengan siswa SMK Islamiyah Ciputat.

Kehadiran mahasiswa di lingkungan sekolah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat melalui kegiatan pendidikan. Siswa memperoleh tambahan wawasan mengenai persoalan sosial yang mereka hadapi, sedangkan mahasiswa mendapatkan kesempatan menerapkan pengetahuan akademis secara langsung di tengah masyarakat.
Selain penyampaian materi, mahasiswa membagikan flyer dan brosur yang berisi informasi mengenai literasi digital serta etika bermedia sosial. Media tersebut digunakan sebagai bahan pendukung agar siswa dapat kembali mempelajari materi yang telah disampaikan.

Dalam kesempatan yang sama, mahasiswa turut memperkenalkan Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Pamulang kepada masyarakat. Pengenalan tersebut menjadi bagian dari kegiatan yang menghubungkan pelaksanaan pengabdian masyarakat dengan informasi mengenai pendidikan tinggi.
Melalui program ini, mahasiswa berharap siswa tidak hanya memahami nilai-nilai Pancasila sebagai pengetahuan akademis, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan tersebut dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti menaati peraturan sekolah, menghormati guru dan teman, menjaga kebersihan, serta tidak melakukan tindakan yang merugikan orang lain.
Di tengah perkembangan teknologi, pembentukan karakter juga perlu mencakup perilaku di ruang digital. Sikap bijak dalam menggunakan media sosial, kemampuan menyaring informasi, dan kesantunan berkomunikasi menjadi bagian dari tanggung jawab generasi muda.
Penguatan nilai-nilai Pancasila diharapkan dapat membantu membangun lingkungan sekolah yang lebih aman, nyaman, dan terbebas dari perundungan maupun kekerasan. Upaya pencegahan kenakalan remaja pun tidak hanya bergantung pada aturan sekolah, tetapi juga pada kesadaran setiap siswa untuk menjaga sikap dan bertanggung jawab atas tindakannya.





