Bandung, Krajan.id – Pemanfaatan pekarangan rumah untuk menanam sayuran menjadi salah satu cara memperkuat ketahanan pangan keluarga sekaligus membuka peluang usaha skala rumah tangga. Upaya tersebut dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Literasi 103 Universitas Sebelas Maret (UNS) melalui pelatihan budi daya hidroponik sederhana bagi ibu-ibu PKK di Desa Bandung, Kecamatan Ngrampal, Kabupaten Sragen, Selasa (21/7/2026).
Pelatihan yang menjadi bagian dari program Tani Lestari itu memperkenalkan teknik menanam sayuran menggunakan botol air mineral bekas. Selain memanfaatkan barang yang tidak terpakai, metode tersebut memungkinkan masyarakat menanam sayuran meski memiliki lahan pekarangan terbatas.
Program ini dilatarbelakangi kondisi Desa Bandung yang dikenal sebagai kawasan agraris dengan mayoritas penduduk bekerja sebagai petani. Meski demikian, pemanfaatan pekarangan rumah dan waktu di luar musim tanam dinilai masih dapat dikembangkan untuk mendukung produktivitas keluarga.
Melalui pelatihan tersebut, mahasiswa KKN UNS mendorong masyarakat mengenal alternatif kegiatan pertanian yang relatif sederhana dan dapat dilakukan dari rumah. Diversifikasi usaha pertanian diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga sekaligus membuka peluang tambahan pendapatan.
Program Tani Lestari juga berkaitan dengan rencana reaktivasi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bandung yang sebelumnya sempat vakum. Pengembangan kegiatan pertanian berbasis rumah tangga diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif usaha yang berpotensi dikembangkan oleh masyarakat desa.
Dalam pelatihan tersebut, mahasiswa memberikan materi mengenai pengertian hidroponik, manfaatnya bagi ketahanan pangan keluarga, serta peluang pengembangannya sebagai kegiatan usaha. Peserta juga diperkenalkan dengan sistem wick atau sumbu, salah satu metode hidroponik sederhana yang memanfaatkan prinsip kapilaritas untuk menyalurkan air dan nutrisi menuju akar tanaman.
Sistem ini tidak memerlukan pompa maupun listrik sehingga dapat diterapkan dalam skala rumah tangga dengan peralatan sederhana. Metode tersebut dipilih agar peserta dapat mempraktikkannya secara mandiri setelah kegiatan pelatihan berakhir.
Setelah pemaparan materi, peserta mengikuti praktik pembuatan instalasi hidroponik menggunakan botol air mineral bekas berukuran 1,5 liter. Botol dipotong menjadi dua bagian, kemudian tutupnya dilubangi untuk memasang kain flanel sebagai sumbu penyalur air dan nutrisi.
Tahap berikutnya adalah menyiapkan media semai berupa tisu yang dibasahi, kemudian menaburkan benih kangkung. Peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai pencampuran nutrisi AB Mix dengan takaran 5 mililiter nutrisi A dan 5 mililiter nutrisi B untuk setiap satu liter air.
Selain membuat instalasi, peserta mempelajari cara merawat tanaman hingga siap dipanen. Kangkung yang dibudidayakan melalui metode tersebut diperkirakan dapat dipanen dalam waktu sekitar 25–30 hari, bergantung pada kondisi pertumbuhan dan perawatannya.
Selama kegiatan berlangsung, ibu-ibu PKK terlihat antusias mengikuti setiap tahapan praktik. Mereka juga aktif bertanya kepada pemateri mengenai penerapan hidroponik di rumah, termasuk pemanfaatan pekarangan yang terbatas untuk menanam sayuran.
Salah satu peserta mengaku mendapatkan pengetahuan baru mengenai pemanfaatan lahan di sekitar rumah setelah mengikuti pelatihan tersebut.
“Biasanya pekarangan rumah hanya kami biarkan kosong. Setelah ada informasi pelatihan ini, kami jadi tahu kalau lahan sempit pun bisa dimanfaatkan untuk menanam sayuran sendiri,” ujar salah satu ibu PKK.
Peserta lainnya menilai metode yang diajarkan cukup mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut dia, hidroponik tidak hanya berpotensi membantu memenuhi kebutuhan sayuran keluarga, tetapi juga dapat menjadi sumber pendapatan tambahan apabila hasil panen mencukupi.
“Kegiatannya menarik dan mudah dipraktikkan di rumah. Selain bisa memenuhi kebutuhan sayur sendiri, hasilnya juga bisa dijual kalau panennya banyak,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Tematik Literasi 103 UNS berharap peserta dapat menerapkan teknik hidroponik secara mandiri tanpa harus bergantung pada pendampingan lanjutan. Keterampilan tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk meningkatkan pemanfaatan pekarangan sekaligus memperkenalkan alternatif kegiatan produktif bagi keluarga.
Program Tani Lestari juga diharapkan mendukung diversifikasi usaha yang dapat dikembangkan melalui BUMDes Desa Bandung. Jika dikelola secara berkelanjutan, budi daya sayuran skala rumah tangga berpotensi menjadi bagian dari penguatan ekonomi lokal.
Kegiatan ini turut mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan pertama tentang pengentasan kemiskinan dan tujuan kedelapan mengenai pekerjaan layak serta pertumbuhan ekonomi.
Melalui kolaborasi mahasiswa, pemerintah desa, dan kelompok PKK, pelatihan hidroponik ini diharapkan dapat memperluas pengetahuan masyarakat mengenai pertanian sederhana yang adaptif terhadap keterbatasan lahan. Pemanfaatan botol bekas sebagai wadah tanam juga memperkenalkan praktik penggunaan kembali barang yang masih dapat dimanfaatkan untuk kegiatan produktif.





