Ringankan Beban Ekonomi, Pasar Raya Airlangga Hadirkan Sembako Murah untuk Masyarakat Desa pada Kegiatan Srawung Desa 2026 di Desa Balesari

Dokumentasi Warga Desa Balesari bersama Perwakilan Pengmas BEM UNAIR pada Kegiatan Pasar Raya Airlangga 2026. (Dok. BEM UNAIR)
Dokumentasi Warga Desa Balesari bersama Perwakilan Pengmas BEM UNAIR pada Kegiatan Pasar Raya Airlangga 2026. (Dok. BEM UNAIR)

Balesari, Krajan.id – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Airlangga (BEM UNAIR) menghadirkan Pasar Raya Airlangga di Desa Balesari, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, Minggu (25/10/2026). Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Srawung Desa 2026 ini menyediakan paket sembako bersubsidi untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.

Melalui program tersebut, warga dapat menebus satu paket sembako seharga Rp25.000. Harga ini ditetapkan untuk meringankan pengeluaran rumah tangga, khususnya bagi masyarakat yang membutuhkan dukungan dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

Bacaan Lainnya

Pasar Raya Airlangga merupakan program sosial yang diinisiasi BEM UNAIR melalui pengadaan bahan pangan pokok dengan harga di bawah harga pasar. Program ini menyasar masyarakat berpenghasilan rendah serta warga yang memiliki keterbatasan akses terhadap bahan pangan, terutama di wilayah perdesaan.

Dalam pelaksanaannya di Desa Balesari, panitia menyediakan 60 paket sembako untuk 60 warga penerima manfaat. Setiap paket dikemas dalam tas jinjing dan berisi sejumlah kebutuhan rumah tangga, yakni beras, minyak goreng, gula pasir, mi instan, kecap, sabun cuci, dan teh celup.

Harga paket tersebut disubsidi hingga sekitar 50 persen dari harga pasar, dengan mengacu pada ketentuan harga pangan yang digunakan panitia. Melalui skema ini, warga dapat memperoleh beberapa kebutuhan pokok sekaligus tanpa harus mengeluarkan biaya sebesar harga pembelian di pasar.

Penyaluran sembako dilakukan menggunakan sistem kupon. Panitia Srawung Desa membagikan kupon kepada warga yang membutuhkan sebelum kegiatan berlangsung. Kupon tersebut kemudian digunakan untuk menebus paket sembako pada hari pelaksanaan.

Sistem ini diterapkan untuk membantu memastikan distribusi bantuan berlangsung tertib dan menjangkau penerima yang telah ditentukan. Dengan jumlah paket yang disesuaikan dengan kuota penerima, panitia berupaya mencegah penumpukan warga sekaligus mengurangi potensi ketidakmerataan dalam pembagian sembako.

Program ini juga terlaksana berkat dukungan donasi mahasiswa dan masyarakat umum melalui kanal resmi Kementerian Pengabdian Masyarakat (Pengmas) BEM UNAIR. Donasi yang terkumpul dimanfaatkan untuk menyediakan paket kebutuhan pokok bagi warga Desa Balesari.

Keterlibatan mahasiswa dan masyarakat dalam penggalangan dana tersebut menjadi bagian dari upaya menghubungkan kepedulian sosial dengan kebutuhan nyata warga. Bantuan tidak disalurkan dalam bentuk uang tunai, melainkan diwujudkan menjadi paket sembako yang dapat langsung dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga.

Bagi warga penerima, selisih harga menjadi salah satu manfaat yang dirasakan dari kegiatan tersebut. Triasih, salah seorang warga Desa Balesari, mengaku terbantu karena dapat memperoleh kebutuhan dapur dengan harga lebih murah dibandingkan harga pasar.

“Dengan Pasar Raya Airlangga, kami bisa mendapat sembako dengan harga yang jauh lebih murah di pasaran. Saya sangat terbantu dalam pengeluaran rumah tangga pada kebutuhan dapur sehari-hari,” ujar Triasih.

Penghematan belanja kebutuhan pokok tersebut dinilai membantu warga mengatur pengeluaran rumah tangga. Dengan harga sembako yang lebih terjangkau, sebagian anggaran belanja dapat dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan keluarga lainnya.

Hal serupa disampaikan Sulastri, warga Desa Balesari yang juga menerima manfaat dari program tersebut. Menurut dia, harga yang terjangkau dan penggunaan kupon membuat proses penyaluran sembako lebih tertib.

“Kami senang sekali ada kegiatan seperti ini. Harga sembakonya sangat terjangkau, dan sembako yang kami tebus bisa terpakai untuk kebutuhan keluarga sehari-hari, serta pakai kupon yang membuat sesama warga menjadi tidak rebut-rebutan dan bergerombol saat sembako dibagikan. Terima kasih kepada mahasiswa UNAIR yang sudah peduli kepada warga Desa Balesari,” tutur Sulastri.

Penggunaan kupon menjadi salah satu aspek yang dirasakan langsung oleh warga. Selain membantu mengatur jumlah penerima, mekanisme tersebut membuat proses pengambilan paket lebih terarah sehingga warga tidak perlu berebut saat pembagian berlangsung.

Kehadiran Pasar Raya Airlangga dalam rangkaian Srawung Desa 2026 juga memperlihatkan peran mahasiswa dalam kegiatan sosial berbasis kebutuhan masyarakat. Program tersebut tidak hanya berfokus pada penyediaan sembako murah, tetapi juga mendorong keterlibatan berbagai pihak untuk membantu warga memenuhi kebutuhan dasar.

BEM UNAIR berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dan menjangkau masyarakat di lebih banyak wilayah perdesaan. Melalui kolaborasi mahasiswa dan masyarakat umum, program ini diharapkan dapat memperluas akses terhadap bahan pangan dengan harga terjangkau, khususnya bagi keluarga berpenghasilan rendah.

Sembako yang akan Dibagikan untuk Warga Desa Balesari pada Kegiatan Pasar Raya Airlangga 2026 (Dok. BEM UNAIR)
Sembako yang akan Dibagikan untuk Warga Desa Balesari pada Kegiatan Pasar Raya Airlangga 2026 (Dok. BEM UNAIR)

Di Desa Balesari, penyediaan 60 paket sembako menjadi bentuk dukungan langsung bagi warga penerima. Meski jumlahnya terbatas, program tersebut diharapkan dapat membantu meringankan pengeluaran rumah tangga sekaligus mempererat hubungan antara mahasiswa dan masyarakat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *