Ketika Nilai Menjadi Segalanya, Apakah Sekolah Masih Mengajarkan Kehidupan?

Opini Muhammad Kifthirul Aziz
Opini Muhammad Kifthirul Aziz

Pernahkah kita berpikir, untuk apa sebenarnya kita bersekolah? Sebagian orang mungkin menjawab untuk memperoleh ilmu, mendapatkan nilai bagus, meraih prestasi, mewujudkan cita-cita, hingga melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Semua tujuan tersebut tentu positif karena nilai dan prestasi merupakan bagian penting dalam proses pendidikan.

Persoalan muncul ketika nilai seolah menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan seorang siswa. Siswa dengan nilai tinggi kerap dianggap pintar, sementara mereka yang memperoleh nilai biasa saja tidak jarang dipandang kurang mampu. Padahal, pendidikan tidak hanya membutuhkan kemampuan akademik. Karakter dan kepribadian yang baik juga menjadi bekal penting dalam menjalani kehidupan.

Bacaan Lainnya

Ada ungkapan Arab yang sering dikaitkan dengan hadis, “al-adabu fauqol ilmi”, yang berarti adab lebih tinggi daripada ilmu. Ungkapan tersebut menjadi relevan di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi. Pendidikan tidak cukup hanya membentuk siswa yang cakap secara akademik, tetapi juga manusia yang mampu menggunakan pengetahuannya secara bertanggung jawab.

Berbagai persoalan seperti kekerasan, perundungan, hingga penyalahgunaan teknologi di lingkungan pendidikan menunjukkan pentingnya pendidikan karakter. Data KPAI (2022) mencatat lebih dari 2.000 kasus bullying terjadi di lingkungan pendidikan dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Data tersebut menjadi pengingat bahwa kemampuan akademik perlu berjalan beriringan dengan pembentukan karakter.

Ketika Angka Menjadi Tujuan

Persoalannya bukan terletak pada nilai itu sendiri, melainkan pada cara kita memandang nilai. Nilai seharusnya menjadi bagian dari proses pembelajaran, bukan tujuan akhir pendidikan.

Ketika angka dijadikan ukuran utama, siswa dapat terdorong untuk selalu mengejar hasil sempurna. Proses memahami materi pun berisiko berubah menjadi perburuan angka. Tidak sedikit siswa yang akhirnya belajar menjelang ujian semata, tanpa dorongan untuk memahami substansi secara mendalam.

Pola tersebut juga dapat menimbulkan tekanan. Belajar yang seharusnya menjadi proses menyenangkan berubah menjadi beban. Kekhawatiran memperoleh nilai rendah membuat siswa enggan mencoba sesuatu yang baru. Padahal, kesalahan merupakan bagian penting dalam proses belajar. Jika setiap kekeliruan selalu dianggap sebagai kegagalan, keberanian untuk bereksplorasi akan semakin berkurang.

Ki Hajar Dewantara pernah menekankan bahwa pendidikan merupakan proses menuntun tumbuhnya kekuatan dan potensi yang dimiliki anak. Pemikiran tersebut menunjukkan bahwa sekolah tidak semestinya hanya memaksa siswa mencapai standar angka tertentu, tetapi juga membantu mereka berkembang sesuai kemampuan dan kebutuhannya.

Sekolah tetap membutuhkan penilaian berupa angka untuk melihat perkembangan akademik siswa. Namun, angka seharusnya menjadi alat evaluasi, bukan ukuran harga diri seseorang. Siswa yang memperoleh nilai tinggi belum tentu selalu unggul dalam menghadapi persoalan kehidupan. Sebaliknya, nilai yang biasa saja tidak berarti seseorang kehilangan kesempatan untuk berkembang.

Sekolah sebagai Ruang Belajar Kehidupan

Pendidikan karakter membentuk kemampuan siswa untuk menghargai sesama, bertanggung jawab, bekerja sama, mengakui kesalahan, dan mengambil keputusan. Nilai-nilai tersebut tidak cukup hanya diajarkan melalui teori, tetapi perlu dilatih melalui pengalaman nyata.

Pada Maret 2026, Mendikdasmen Abdul Mu’ti menyoroti fenomena pemberian nilai yang terlalu tinggi kepada siswa sehingga tidak selalu mencerminkan kemampuan sebenarnya. Ia menyebut adanya praktik yang membuat nilai rapor kurang menggambarkan kemampuan nyata siswa. Menurutnya, integritas dalam penilaian harus dijaga.

Pernyataan tersebut menunjukkan pentingnya objektivitas dalam evaluasi pendidikan. Penilaian yang sesuai dengan kemampuan nyata siswa akan membantu sekolah memahami kebutuhan pembelajaran secara lebih akurat dan tepat sasaran.

Di sinilah sekolah memiliki peran yang lebih luas. Sekolah bukan hanya tempat mengejar nilai, tetapi juga ruang untuk belajar menjalani kehidupan. Tanggung jawab, misalnya, dapat dilatih melalui kebiasaan menyelesaikan tugas sesuai jadwal. Kepedulian dapat tumbuh melalui kegiatan sosial. Kemampuan menyampaikan pendapat dan menghargai orang lain dapat diasah melalui diskusi.

Berbagai pengalaman tersebut membantu siswa memahami bahwa pendidikan bukan sekadar tentang apa yang tertulis di atas kertas. Ada proses membentuk sikap, membangun keberanian, belajar bertanggung jawab, dan memahami konsekuensi dari setiap tindakan.

Nilai dan karakter bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya justru perlu berjalan beriringan. Nilai menunjukkan hasil dari proses belajar, sedangkan karakter menunjukkan bagaimana ilmu tersebut digunakan dalam kehidupan.

Sekolah yang mampu menyeimbangkan keduanya tidak hanya menghasilkan siswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga manusia yang mampu menghargai sesama, bertanggung jawab, dan menghadapi kehidupan dengan sikap yang baik. Sebab, pendidikan yang sesungguhnya bukan hanya tentang seberapa tinggi angka yang diperoleh, melainkan tentang manusia seperti apa yang tumbuh dari proses pendidikan tersebut.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *