Kasihan, Krajan.id – Pemanfaatan hasil samping pertanian menjadi produk bernilai ekonomi menjadi salah satu upaya untuk mengoptimalkan potensi sumber daya lokal. Hal itu dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 264 Universitas Sebelas Maret (UNS) melalui sosialisasi dan praktik pembuatan teh herbal dari kulit biji kakao di Dusun Santen, Kelurahan Kasihan, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri, (3/8/2026).
Kegiatan tersebut melibatkan ibu-ibu Dasa Wisma dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Dusun Santen. Melalui program ini, mahasiswa memperkenalkan alternatif pengolahan kulit biji kakao yang berpotensi dikembangkan menjadi produk olahan rumah tangga.
Selama ini, kulit biji kakao belum banyak dimanfaatkan secara optimal. Padahal, dengan pengolahan yang tepat, bagian tersebut dapat dijadikan bahan minuman herbal. Inovasi ini diharapkan dapat menambah wawasan masyarakat mengenai pemanfaatan hasil samping pertanian sekaligus membuka peluang pengembangan produk berbasis potensi lokal.
Sosialisasi dilakukan melalui demonstrasi agar peserta dapat memahami tahapan pembuatan teh herbal secara langsung. Proses pengolahan dimulai dengan menjemur biji kakao yang masih dilapisi kulit selama kurang lebih dua hari.
Setelah penjemuran, biji kakao dipanaskan menggunakan oven pada suhu 150 derajat Celsius selama 20–30 menit. Kulit biji kemudian dipisahkan dan dihaluskan hingga menyerupai tekstur teh. Setelah itu, kulit kakao yang telah dihaluskan dimasukkan ke dalam kantong teh agar praktis digunakan saat penyeduhan.
Teh yang dihasilkan memiliki cita rasa cenderung sepat dengan sedikit sensasi masam yang menyerupai kopi. Untuk menyesuaikan rasa, minuman tersebut dapat ditambahkan jahe atau pemanis seperti gula batu.

Dalam sesi praktik, peserta turut mencoba menghaluskan kulit biji kakao dengan cara menumbuknya secara manual. Kegiatan yang dilakukan secara berkelompok itu juga menjadi ruang interaksi bagi para peserta untuk berbagi pengalaman dan mempererat kebersamaan.
Suasana kebersamaan terlihat selama proses pengolahan berlangsung. Salah satu peserta mengungkapkan kegembiraannya karena kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi ibu-ibu untuk berkumpul dan bekerja bersama.
“Menawi rutin sami kumpul kados mekaten, nggih ketingale kathah plus kompak nggih Bu-Ibu,” ungkap salah satu peserta.
Pernyataan dalam bahasa Jawa tersebut berarti, “Kalau kumpul rutin seperti ini, kita terlihat banyak dan kompak, ya, Bu-Ibu.”
Selain memperkenalkan keterampilan pengolahan bahan lokal, kegiatan ini berkaitan dengan upaya mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Pemanfaatan kulit biji kakao sebagai bahan olahan sejalan dengan tujuan ke-12, yakni konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, melalui pemanfaatan sumber daya secara lebih optimal.
Pengembangan produk berbasis potensi lokal juga berpeluang mendukung tujuan ke-8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi. Meski demikian, pengembangan teh herbal menjadi produk usaha tetap memerlukan tahapan lanjutan, termasuk pengujian keamanan pangan, standardisasi proses produksi, pengemasan, dan pemasaran.
Ketua KWT Dusun Santen, Sri Wahyuni, menyampaikan apresiasi atas kegiatan yang dilaksanakan mahasiswa KKN UNS tersebut. Menurut dia, program itu memberikan pengetahuan dan pengalaman baru bagi masyarakat melalui praktik secara langsung.
“Kami senang dan terharu karena program kerja dari KKN UNS ini sangat mengena di hati kami. Saya selaku ketua KWT Dusun Santen mewakili ibu-ibu semua mengucapkan terima kasih atas ilmu dan pengalaman yang sudah anak-anak KKN UNS bagikan secara langsung kepada kami,” ujar Sri Wahyuni.
Respons tersebut menunjukkan bahwa kegiatan pengabdian masyarakat dapat menjadi sarana pertukaran pengetahuan antara mahasiswa dan warga. Masyarakat tidak hanya menerima penjelasan mengenai inovasi produk, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk mempraktikkan proses pengolahannya.
Melalui program ini, mahasiswa KKN UNS Kelompok 264 berharap masyarakat Dusun Santen semakin mengenali potensi kulit biji kakao sebagai bahan olahan alternatif. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk mengembangkan produk rumah tangga yang memanfaatkan sumber daya lokal secara lebih optimal.
Pemanfaatan hasil samping pertanian seperti kulit biji kakao juga membuka ruang bagi masyarakat untuk mengeksplorasi inovasi produk lainnya. Dengan pendampingan dan pengembangan lebih lanjut, potensi lokal diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.





