Gamping, Krajan.id – Pembaruan papan majalah dinding (mading) di SMP Negeri 4 Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi salah satu upaya menghadirkan ruang literasi sekaligus wadah kreativitas bagi murid. Kegiatan yang dilaksanakan mahasiswa PK pada 4 September 2026 tersebut memanfaatkan fasilitas sekolah yang sudah tersedia untuk mendukung pengembangan minat baca dan apresiasi terhadap karya murid.
Program ini menyasar seluruh murid SMP Negeri 4 Gamping. Papan mading yang sebelumnya dinilai kurang menarik diperbarui melalui penataan visual dan penyusunan materi edukatif. Fasilitas tersebut selanjutnya diarahkan menjadi ruang terbuka bagi murid untuk membaca informasi, mengenal berbagai karya, serta menampilkan hasil kreativitas mereka.
Pembaruan mading ini mengangkat semangat SDGs 4 atau Pendidikan Berkualitas, khususnya dalam mendukung lingkungan belajar yang mendorong akses terhadap pengetahuan dan pengembangan potensi peserta didik. Pemanfaatan papan mading menjadi pilihan yang relatif sederhana, tetapi dapat memberikan ruang interaksi di lingkungan sekolah.
Alih-alih menjadikan kegiatan literasi hanya berlangsung melalui pembelajaran di dalam kelas, papan mading dirancang sebagai media pendukung yang dapat diakses murid dalam keseharian mereka. Materi yang ditampilkan mencakup karya tulis dan informasi edukatif yang relevan dengan kebutuhan siswa.
Proses Pembaruan Melibatkan Penataan dan Kurasi Karya
Pelaksanaan program diawali dengan kerja bakti membersihkan papan berbahan tripleks berbentuk persegi panjang. Setelah dibersihkan, papan tersebut dilapisi cat putih sebelum memasuki tahap penataan tampilan. Mahasiswa PK kemudian menyusun tata letak mading agar lebih tertata dan menarik perhatian murid.
Tahap berikutnya dilakukan melalui kurasi karya yang akan ditampilkan pada papan mading. Materi yang menjadi fokus meliputi cerpen, puisi, poster daur ulang sampah, serta informasi edukatif lainnya. Keragaman materi tersebut diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada murid untuk mengenal bentuk-bentuk karya yang berbeda.
Sebagai langkah awal untuk mendorong partisipasi, mahasiswa PK menempatkan karya mereka sendiri pada papan mading. Karya tersebut diharapkan dapat menjadi pemantik bagi murid agar turut menyumbangkan hasil tulisan maupun kreasi visual mereka.
Dalam pelaksanaannya, guru berperan sebagai fasilitator, sedangkan mahasiswa PK bertanggung jawab atas proses teknis pembaruan. Murid menjadi penerima manfaat sekaligus pihak yang diharapkan berkontribusi dalam pengisian konten mading. Pembagian peran tersebut menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan penggunaan fasilitas setelah kegiatan selesai.
Membangun Budaya Literasi melalui Fasilitas Sekolah
Pembaruan papan mading menghadirkan tampilan baru yang lebih interaktif dan membuka peluang bagi murid untuk berinteraksi dengan karya serta informasi yang dipajang. Area mading juga diharapkan menjadi tempat yang dapat dimanfaatkan murid untuk membaca dan berdiskusi, termasuk ketika jam istirahat.
Selain mendukung aktivitas literasi, papan mading memberikan ruang bagi murid untuk memperkenalkan ide dan karya mereka kepada warga sekolah. Karya yang ditampilkan dapat menjadi sarana apresiasi sekaligus mendorong kepercayaan diri murid dalam mengembangkan kemampuan menulis dan berkarya.
Materi mengenai daur ulang sampah yang dimasukkan ke dalam mading turut memperluas fungsi fasilitas tersebut sebagai media edukasi. Informasi itu dapat memperkenalkan isu lingkungan kepada murid melalui materi visual yang ditempatkan di ruang yang mudah dijangkau.
Meskipun tidak menggunakan teknologi tinggi, pembaruan mading menunjukkan bahwa pengembangan lingkungan belajar dapat dilakukan melalui pengelolaan fasilitas yang telah tersedia. Dengan penataan yang sesuai dan pengisian materi secara berkala, papan mading berpotensi menjadi bagian dari aktivitas literasi sekolah.
Mahasiswa PK berharap papan mading yang telah diperbarui dapat menjadi ruang yang aman bagi murid untuk menyampaikan ide dan gagasan. Keberlanjutan program diarahkan pada pemeliharaan fasilitas serta konsistensi pengisian konten agar mading tetap relevan dan dapat dimanfaatkan warga sekolah.
Pengelolaan berkelanjutan menjadi langkah penting untuk memastikan papan mading tidak berhenti sebagai hasil pembaruan fisik, tetapi terus berfungsi sebagai ruang literasi dan kreativitas murid. Dengan dukungan guru dan partisipasi siswa, fasilitas tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi bagian dari budaya belajar di SMP Negeri 4 Gamping.





