KKN UNS Kenalkan Mi Kelor sebagai Alternatif Pangan Bergizi bagi Keluarga di Desa Gedong

Antusiasme Kader PKK dan Posyandu saat sesi praktik pembuatan Mi Kelor (Dok. Pribadi/TIM KKN UNS 261)
Antusiasme Kader PKK dan Posyandu saat sesi praktik pembuatan Mi Kelor (Dok. Pribadi/TIM KKN UNS 261)

Gedong, Krajan.id – Pemanfaatan bahan pangan lokal menjadi salah satu alternatif untuk memperkaya variasi makanan keluarga. Upaya tersebut dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 261 melalui workshop pembuatan mi berbahan daun kelor di Desa Gedong, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri, pada periode Juli-Agustus 2026.

Kegiatan bertajuk “Workshop Pembuatan Mi Kelor sebagai Inovasi Pangan Lokal Bergizi untuk Mendukung Upaya Pencegahan Stunting” tersebut melibatkan kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Desa Gedong. Para peserta diperkenalkan dengan teknik pengolahan daun kelor menjadi mi yang dapat dibuat menggunakan peralatan rumah tangga.

Bacaan Lainnya

Program ini diinisiasi oleh Ambar Eka Sari, mahasiswa Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian UNS, bersama tim KKN Kelompok 261. Selain mengenalkan alternatif pengolahan pangan, kegiatan tersebut diarahkan untuk meningkatkan keterampilan peserta dalam memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar.

Keterlibatan kader PKK dan Posyandu menjadi bagian penting dari kegiatan ini. Kedua kelompok tersebut memiliki peran dalam menyampaikan edukasi kepada keluarga mengenai kesehatan, pemenuhan gizi, dan pengasuhan anak. Melalui keterampilan yang diperoleh, peserta diharapkan dapat meneruskan pengetahuan tentang pengolahan pangan lokal kepada masyarakat.

Daun kelor dipilih sebagai bahan utama karena mudah ditemukan dan dapat diolah menjadi beragam produk makanan. Selama ini, pemanfaatannya di tingkat rumah tangga masih kerap terbatas pada hidangan sayur. Pengolahan menjadi mi diperkenalkan sebagai salah satu cara untuk memperluas penggunaan bahan tersebut dalam menu keluarga.

Mengenalkan Kelor melalui Olahan yang Lebih Akrab

Desa Gedong memiliki potensi pertanian dengan wilayah persawahan dan beragam sumber daya pangan lokal. Potensi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan pangan keluarga, termasuk melalui pengembangan variasi olahan berbahan dasar tanaman yang tumbuh di sekitar permukiman.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN UNS memperkenalkan daun kelor (Moringa oleifera) sebagai bahan pangan yang dapat diolah menjadi produk dengan bentuk lebih familiar bagi masyarakat. Daun kelor mengandung sejumlah zat gizi, termasuk vitamin dan mineral. Meski demikian, pemanfaatannya tetap perlu ditempatkan sebagai bagian dari pola makan beragam dan bergizi seimbang.

Pengolahan menjadi mi diharapkan dapat memberikan pilihan baru bagi keluarga dalam menyajikan makanan. Bentuk mi yang telah dikenal luas berpotensi menjadi alternatif untuk memperkenalkan bahan pangan nabati kepada anak-anak melalui variasi menu sehari-hari.

Rangkaian workshop diawali dengan pemaparan materi mengenai pemenuhan gizi seimbang, pemanfaatan pangan lokal, serta potensi daun kelor sebagai bahan olahan. Ambar selaku penanggung jawab program juga menjelaskan tahapan pembuatan mi kelor, mulai dari persiapan bahan hingga proses pengolahan.

Setelah sesi materi, peserta mengikuti praktik pembuatan mi secara langsung. Prosesnya dimulai dengan menyiapkan daun kelor dan mengolahnya secara higienis untuk menghasilkan ekstrak yang digunakan dalam adonan.

Ekstrak tersebut kemudian dicampurkan dengan bahan lain. Adonan diuleni hingga homogen, lalu digiling dan dipotong menggunakan alat pembuat mi. Tahapan ini diperagakan secara langsung agar peserta dapat memahami proses produksi sekaligus mencoba menerapkannya secara mandiri.

Peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok dan mendapatkan pendampingan dari mahasiswa KKN UNS. Mereka terlibat dalam berbagai tahapan, mulai dari menyiapkan bahan, mencampurkan adonan, hingga membentuk mi.

Praktik langsung tersebut juga menjadi ruang diskusi bagi peserta. Mereka membicarakan kemungkinan variasi resep, cara penyajian, dan pemanfaatan mi kelor untuk konsumsi keluarga.

Salah satu peserta, Hanis, mengaku mendapatkan pengetahuan baru mengenai cara mengolah daun kelor. Sebelumnya, bahan tersebut lebih dikenal sebagai sayuran yang dihidangkan dalam bentuk sederhana.

“Selama ini, daun kelor memiliki stigma buruk dimasyarakat atau mungkin hanya kami olah menjadi sayur. Setelah mengikuti pelatihan ini, ternyata kelor bisa dibuat menjadi mi dan cara pembuatannya juga cukup mudah untuk dipraktikkan di rumah,” ujar Hanis.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pengenalan teknik pengolahan dapat membuka alternatif pemanfaatan bahan pangan yang sebelumnya kurang beragam penggunaannya di tingkat rumah tangga.

Antusiasme Kader PKK dan Posyandu saat sesi praktik pembuatan Mi Kelor (Dok. Pribadi/TIM KKN UNS 261)
Antusiasme Kader PKK dan Posyandu saat sesi praktik pembuatan Mi Kelor (Dok. Pribadi/TIM KKN UNS 261)

Ovilia, salah satu kader Posyandu Desa Gedong, juga menilai bentuk olahan mi dapat menjadi cara lain untuk menyajikan daun kelor kepada anak-anak.

“Mi kelor ini menarik karena bentuknya sudah seperti makanan yang biasa dikonsumsi anak-anak. Jadi, kelor tidak hanya dibuat sayur, tetapi bisa dikreasikan menjadi makanan yang lebih beragam,” ungkap Ovilia.

Bagi peserta, variasi olahan menjadi salah satu aspek yang menarik dari kegiatan tersebut. Namun, penerimaan anak terhadap makanan tetap perlu diperhatikan melalui pengenalan rasa, tekstur, dan penyajian yang sesuai.

Peluang Pengembangan Produk Pangan Rumah Tangga

Selain berfokus pada keterampilan mengolah pangan, workshop tersebut memperkenalkan potensi pengembangan mi kelor sebagai produk berbahan lokal yang memiliki nilai tambah. Produk ini dapat dikembangkan melalui penyesuaian formulasi, bentuk, penyajian, hingga pengemasan sesuai kebutuhan konsumen.

Salah satu peserta melihat bahwa keterampilan yang diperoleh dapat menjadi titik awal untuk mengembangkan usaha rumahan. Pemanfaatan bahan yang tersedia di sekitar tempat tinggal dinilai dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam mengembangkan produk pangan skala kecil.

“Kalau dikembangkan dengan baik, mi kelor ini bisa menjadi ide usaha rumahan. Selain memanfaatkan bahan yang ada di sekitar, produk ini juga bisa menjadi salah satu alternatif makanan untuk keluarga,” tutur peserta lainnya.

Meski demikian, pengembangan mi kelor menjadi produk usaha membutuhkan tahapan lanjutan. Pelaku usaha perlu memperhatikan konsistensi mutu, kebersihan proses produksi, daya simpan, kemasan, dan keamanan pangan. Perhitungan biaya produksi serta pengenalan produk kepada calon konsumen juga menjadi bagian penting apabila usaha tersebut hendak dijalankan secara berkelanjutan.

Keterampilan yang diperoleh peserta diharapkan tidak berhenti pada praktik selama workshop. Kader PKK dan Posyandu dapat membagikan pengetahuan tersebut melalui kegiatan edukasi maupun praktik pengolahan pangan di lingkungan masing-masing.

Dengan cara itu, informasi mengenai pemanfaatan daun kelor dapat menjangkau lebih banyak keluarga. Masyarakat juga memperoleh gambaran bahwa bahan pangan lokal bisa diolah dengan metode sederhana menjadi pilihan menu yang lebih bervariasi.

Inovasi mi kelor turut membuka peluang untuk memperkenalkan alternatif olahan pangan dalam kegiatan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di Posyandu Desa Gedong. Meski demikian, penggunaannya perlu mempertimbangkan kebutuhan gizi sasaran, komposisi bahan, tekstur makanan, serta ketentuan keamanan pangan yang berlaku. Mi kelor tidak dengan sendirinya menjadi solusi untuk mencegah stunting, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya memperkaya variasi makanan bergizi apabila komposisinya sesuai.

Pencegahan stunting membutuhkan pendekatan menyeluruh, mulai dari pemenuhan gizi ibu dan anak, pola asuh, pemantauan pertumbuhan, hingga akses terhadap layanan kesehatan dan sanitasi yang memadai. Karena itu, pengenalan inovasi pangan perlu berjalan seiring dengan edukasi gizi yang tepat.

Dokumentasi bersama setelah pelaksanaa praktik pembuatan Mi Kelor (Dok. Pribadi/TIM KKN UNS 261)
Dokumentasi bersama setelah pelaksanaa praktik pembuatan Mi Kelor (Dok. Pribadi/TIM KKN UNS 261)

Melalui workshop tersebut, mahasiswa KKN UNS Kelompok 261 berupaya mendorong pemanfaatan potensi pangan lokal sekaligus memperkuat keterampilan masyarakat dalam pengolahan makanan. Daun kelor yang sebelumnya lebih banyak dimanfaatkan sebagai sayuran diperkenalkan dalam bentuk mi yang dapat dibuat dan dikembangkan di tingkat rumah tangga.

Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi kader PKK dan Posyandu Desa Gedong untuk menerapkan serta menyebarluaskan pengetahuan tentang diversifikasi pangan. Selain mendukung variasi menu keluarga, keterampilan tersebut juga dapat menjadi bekal untuk menjajaki peluang usaha berbasis bahan pangan lokal.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *