Krajan.id – Pemerintah terus menekankan kebijakan efisiensi dalam pelaksanaan APBN 2026 guna menjaga stabilitas fiskal di tengah meningkatnya tekanan ekonomi global. Langkah tersebut dilakukan seiring besarnya kebutuhan pendanaan untuk sejumlah program prioritas nasional, mulai dari ketahanan pangan, energi, hingga program makan bergizi gratis.
Sorotan terhadap kondisi fiskal pemerintah menguat dalam beberapa pekan terakhir. Selain kenaikan harga energi global akibat konflik geopolitik, pemerintah juga menghadapi tantangan menjaga defisit anggaran tetap terkendali sambil mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi.
Bank Dunia dalam laporan terbarunya memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5 persen. Lembaga tersebut mengingatkan bahwa tekanan fiskal berpotensi meningkat akibat membengkaknya subsidi energi dan tingginya kebutuhan belanja pemerintah.
Di sisi lain, pemerintah menegaskan komitmennya menjaga disiplin fiskal melalui pengendalian belanja yang dinilai kurang produktif. Efisiensi diarahkan agar anggaran lebih banyak dialokasikan pada program yang memiliki dampak langsung terhadap masyarakat dan pertumbuhan ekonomi.
Dalam rancangan APBN 2026, pemerintah sebelumnya menetapkan belanja negara sebesar Rp3.786,5 triliun dengan target pendapatan negara Rp3.147,7 triliun. Defisit anggaran dirancang sebesar 2,48 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), masih berada di bawah batas maksimal 3 persen yang diatur undang-undang.
Presiden Prabowo Subianto dalam pidato pengantar RAPBN 2026 menegaskan bahwa efisiensi belanja menjadi salah satu prinsip utama pengelolaan keuangan negara.
“Kami akan terus melaksanakan efisiensi sehingga defisit ini kami ingin tekankan sekecil mungkin,” kata Prabowo saat menyampaikan RAPBN 2026.
Pemerintah mengarahkan APBN untuk memperkuat sektor pangan, energi, ekonomi, dan pertahanan. Selain itu, program makan bergizi gratis yang menjadi salah satu program unggulan pemerintah tetap memperoleh porsi anggaran besar dalam kebijakan fiskal tahun ini.
Namun, besarnya belanja negara juga memunculkan perdebatan di ruang publik. Sejumlah kelompok mahasiswa bahkan menggelar aksi demonstrasi di Jakarta pada Kamis (12/6), menyoroti kebijakan ekonomi pemerintah dan mempertanyakan efektivitas sejumlah program prioritas yang menyerap anggaran besar.
Pemerintah membantah anggapan bahwa kondisi fiskal berada dalam situasi mengkhawatirkan. Otoritas keuangan menilai percepatan belanja pada awal tahun justru diperlukan untuk menjaga aktivitas ekonomi domestik ketika ketidakpastian global meningkat.
Pengamat ekonomi menilai efisiensi APBN akan menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia. Selain menjaga defisit tetap terkendali, pemerintah juga dituntut memastikan setiap rupiah belanja negara menghasilkan manfaat yang terukur, baik melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan investasi, maupun penguatan daya beli masyarakat.
Di tengah tantangan global yang masih berlangsung, keberhasilan pemerintah menjalankan efisiensi anggaran diperkirakan akan menjadi salah satu indikator utama dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional sepanjang 2026.





