Mahasiswa AMIKOM Yogyakarta Dokumentasikan Proses Produksi Keris Empu Sungkowo Harumbrodjo melalui Photo Story dengan Metode EDFAT

Yoyakarta, Krajan.id – Upaya pelestarian warisan budaya tidak selalu dilakukan melalui pementasan seni atau penelitian sejarah. Di lingkungan akademik, dokumentasi visual juga menjadi salah satu cara untuk merekam sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat.

Berangkat dari semangat tersebut, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas AMIKOM Yogyakarta, Fauzi Annas Nurrohman, mendokumentasikan proses pembuatan keris tradisional melalui karya fotografi berbentuk photo story. Dokumentasi tersebut mengangkat aktivitas Empu Sungkowo Harumbrodjo, seorang pembuat keris yang hingga kini masih mempertahankan teknik tempa tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.

Bacaan Lainnya

Karya tersebut disusun sebagai tugas akhir di bawah bimbingan dosen pembimbing Sheila Lestari Giza Pudrianisa, M.I.Kom. Melalui pendekatan visual, Fauzi berupaya menghadirkan rangkaian cerita mengenai proses lahirnya sebilah keris sekaligus memperlihatkan nilai budaya yang melekat di dalamnya.

Keris sendiri merupakan salah satu peninggalan budaya Indonesia yang memiliki nilai sejarah, filosofi, sekaligus estetika. UNESCO telah mengakui keris sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity, sehingga keberadaannya tidak hanya dipandang sebagai senjata tradisional, tetapi juga simbol identitas budaya masyarakat Nusantara.

Di tengah perkembangan teknologi dan modernisasi, keberadaan para empu menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan tradisi tersebut. Mereka tidak hanya membuat keris, tetapi juga mempertahankan pengetahuan, teknik, dan filosofi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Fauzi mengatakan, karya yang dibuatnya tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi visual, tetapi juga menjadi media edukasi bagi masyarakat, terutama generasi muda.

“Melalui karya ini, penulis bertujuan untuk mendokumentasikan proses produksi keris secara visual serta meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap profesi empu sebagai penjaga warisan budaya bangsa yang masih bertahan hingga saat ini,” kata pembuat karya.

Melalui dokumentasi tersebut, masyarakat diharapkan dapat melihat bahwa proses pembuatan keris bukan sekadar kegiatan menempa logam, melainkan rangkaian pekerjaan yang memerlukan ketelitian, keterampilan, dan pemahaman terhadap nilai-nilai budaya yang menyertainya.

Tokoh yang menjadi objek dalam karya ini adalah Empu Sungkowo Harumbrodjo, pengrajin keris yang berdomisili di Moyudan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia merupakan putra dari Empu Djeno Harumbrodjo sekaligus penerus garis keturunan empu yang telah lama dikenal dalam tradisi perkerisan Jawa.

Hingga kini, Empu Sungkowo masih mempertahankan teknik pembuatan keris tradisional secara manual. Keahliannya diwariskan secara turun-temurun dan terus dipraktikkan dalam setiap tahapan produksi, mulai dari pengolahan bahan hingga penyelesaian akhir.

Dalam proses penyusunan karya, Fauzi menerapkan metode EDFAT yang terdiri atas tahapan Entire, Detail, Frame, Angle, dan Time. Metode tersebut digunakan untuk membantu fotografer menentukan keseluruhan adegan, menangkap detail penting, menyusun komposisi visual, memilih sudut pengambilan gambar, hingga merekam momen yang memiliki nilai cerita.

Pendekatan tersebut memungkinkan setiap foto tidak hanya berdiri sebagai gambar tunggal, tetapi saling terhubung membentuk alur narasi yang utuh mengenai proses pembuatan keris. Selain mendokumentasikan aktivitas produksi, karya ini juga memperkenalkan sosok Empu Sungkowo Harumbrodjo sebagai pengrajin keris generasi ke-17 yang masih aktif melestarikan tradisi perkerisan Jawa di Yogyakarta.

Pengerjaan karya dimulai dari tahap pra-produksi yang meliputi studi literatur, observasi lapangan, serta wawancara langsung dengan Empu Sungkowo Harumbrodjo. Tahapan tersebut dilakukan untuk memperoleh pemahaman mengenai proses produksi sekaligus nilai filosofis yang terkandung dalam setiap keris.

Selanjutnya, pada tahap produksi, seluruh proses pemotretan dilakukan secara langsung di tempat pembuatan keris milik Empu Sungkowo. Berbagai tahapan produksi didokumentasikan secara berurutan agar menghasilkan alur visual yang mudah dipahami oleh penikmat karya.

Setelah seluruh dokumentasi selesai dilakukan, proses berlanjut ke tahap pasca-produksi. Pada tahap ini dilakukan seleksi foto, penyuntingan warna dan pencahayaan, serta penyusunan foto sesuai alur cerita yang telah dirancang sebelumnya.

Hasil akhirnya berupa sembilan foto yang membentuk satu rangkaian photo story. Kesembilan foto tersebut menggambarkan tahapan pembuatan keris secara berurutan sehingga mampu menghadirkan dokumentasi visual yang informatif sekaligus komunikatif.

Melalui karya tersebut, Fauzi berharap masyarakat dapat lebih memahami proses panjang di balik terciptanya sebilah keris serta semakin menghargai peran para empu dalam menjaga keberlangsungan salah satu warisan budaya Indonesia yang telah mendapat pengakuan dunia. Dokumentasi visual semacam ini diharapkan tidak hanya menjadi arsip budaya, tetapi juga menjadi media edukasi yang dapat memperkenalkan nilai-nilai tradisi kepada generasi mendatang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *