Memahami dan Menghadapi Bullying di Perguruan Tinggi
Sebut saja namanya Bunga. Setiap kali masuk ke grup kerja kelompok, ia selalu menjadi bahan lelucon. Gaya bicaranya ditiru-tiru, pendapatnya dipotong sebelum selesai, bahkan namanya kerap dijadikan bahan candaan di grup chat angkatan. Rapat-rapat penting sering berlangsung tanpa pemberitahuan kepadanya. Ia baru mengetahui hasilnya setelah keputusan dibuat.
Ada sesuatu yang terasa tidak beres. Namun, setiap kali ingin bicara, kalimat-kalimat berikut lebih dulu muncul di kepalanya:
“Kalau saya melapor, nanti dibilang tidak bisa bergaul.”
“Kalau saya menjauh, nanti dianggap sombong.”
“Bukankah ini memang bagian dari kehidupan kampus? Harus kuat mental dan menerima kalau sesekali menjadi bahan tawa?”
Pengalaman seperti yang dialami Bunga bukan perkara sepele dan bukan pula kejadian tunggal. Pola serupa dapat muncul dalam organisasi mahasiswa, forum diskusi kelas, relasi senior-junior saat orientasi atau praktikum, lini masa media sosial, bahkan ruang bimbingan skripsi.
Kita kerap menganggap bullying sebagai persoalan anak-anak sekolah, seperti ejekan di kantin atau perundungan di lorong kelas. Padahal, memasuki perguruan tinggi tidak otomatis mengakhiri risiko tersebut. Di kampus, mahasiswa justru berhadapan dengan jejaring sosial yang lebih kompleks, relasi kekuasaan yang beragam, serta pengawasan orang dewasa yang relatif lebih longgar. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa risiko bullying di perguruan tinggi tetap nyata (Chapell dkk., 2004; Lund & Ross, 2017).
Kapan Sesuatu Layak Disebut Bullying?
Tidak setiap pengalaman tidak menyenangkan di kampus dapat langsung disebut bullying. Psikolog Dan Olweus, salah satu tokoh utama dalam kajian bullying, mendefinisikannya sebagai perilaku agresif yang tidak diinginkan, berlangsung berulang, dan terjadi dalam relasi yang ditandai ketimpangan kekuatan.
Karena itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Apakah perilaku tersebut dimaksudkan untuk menyakiti? Apakah terjadi berulang, bukan sekadar satu kejadian? Apakah salah satu pihak memiliki kekuasaan lebih besar, baik karena senioritas, posisi dalam organisasi, maupun kendali terhadap nilai dan akses tertentu? Apakah orang yang mengalaminya kesulitan membela diri atau keluar dari situasi tersebut?
Jika pola-pola itu bertemu, persoalannya kemungkinan bukan lagi sekadar gesekan sosial biasa.
Tidak Semua Gesekan adalah Bullying
Perbedaan antara konflik dan bullying memang tidak selalu mudah dikenali. Konflik biasa dapat terjadi antara pihak yang relatif setara dan umumnya bersifat situasional. Bullying, sebaliknya, ditandai ketimpangan kekuasaan dan kecenderungan berlangsung sebagai pola.
Nilai C dari dosen atau teguran karena terlambat, misalnya, bukan bullying apabila diterapkan secara adil kepada semua mahasiswa. Persoalannya berubah ketika evaluasi akademik digunakan sebagai alasan untuk mempermalukan mahasiswa tertentu secara berulang.
Hal serupa berlaku pada senioritas. Mendampingi junior, berbagi pengalaman, atau mengajarkan keterampilan merupakan bentuk relasi yang sehat. Namun, memaksa junior melakukan sesuatu di luar kehendaknya dengan alasan “tradisi” menunjukkan adanya ketimpangan kekuasaan yang patut dipertanyakan.
Sementara itu, harassment biasanya memiliki sasaran yang lebih spesifik, seperti identitas gender, suku, disabilitas, orientasi seksual, atau dapat berbentuk pelecehan seksual. Dalam praktiknya, batas antara bullying, konflik, dan harassment dapat saling beririsan. Karena itu, yang penting bukan sekadar menemukan label yang paling tepat, melainkan mengenali pola perilakunya: berulang, timpang, merendahkan, dan sulit dihindari.
Wajah Bullying Bisa Beragam
Di lingkungan kampus, bullying dapat hadir dalam berbagai bentuk. Ia bisa berupa ejekan dan pemberian julukan yang merusak kepercayaan diri, sengaja mengeluarkan seseorang dari rapat atau lingkaran pertemanan, menyebarkan gosip yang merusak reputasi, hingga melakukan cyberbullying melalui grup percakapan dan media sosial.
Dampaknya tidak berhenti pada ruang digital. Penelitian menunjukkan bahwa cyberbullying berkaitan dengan gejala depresi dan kecemasan yang lebih tinggi pada korban (Schenk & Fremouw, 2012).
Bullying juga dapat muncul melalui tindakan mempermalukan seseorang secara berlebihan saat presentasi, mengucilkan mahasiswa dari kegiatan akademik atau organisasi, hingga intimidasi yang mengaitkan ancaman dengan posisi seseorang dalam organisasi maupun kelancaran studinya.
Mengapa Banyak yang Memilih Diam?
Diam tidak selalu berarti seseorang tidak berani. Ada banyak alasan yang membuat korban memilih tidak berbicara. Mereka mungkin takut dikucilkan lebih jauh, dicap terlalu sensitif, tidak dipercaya, atau khawatir laporan justru memperbesar persoalan.
Dalam kehidupan kampus, seseorang juga dapat bergantung pada kelompok tertentu untuk urusan akademik, organisasi, informasi, bahkan jaringan pertemanan. Ketergantungan itu membuat keputusan untuk melawan atau melapor terasa jauh lebih berisiko.
Sebaliknya, dukungan sosial dapat menjadi faktor penting. Semakin seseorang merasa memiliki teman, keluarga, atau pihak kampus yang dapat diandalkan, semakin besar peluangnya mencari bantuan dan menghadapi tekanan dengan lebih baik (Demaray & Malecki, 2002). Tanpa dukungan tersebut, korban dapat merasa harus menanggung semuanya sendirian.
Jika Ini Terjadi Padamu
Tidak ada satu langkah yang cocok untuk semua situasi. Namun, ada beberapa hal yang dapat dilakukan.
Pertama, kenali polanya. Catat kapan kejadian berlangsung, siapa yang terlibat, dan dalam konteks apa perilaku tersebut terjadi. Kedua, simpan bukti, mulai dari tangkapan layar percakapan hingga catatan mengenai waktu dan bentuk kejadian.
Ketiga, bicaralah dengan orang yang dipercaya. Mencari dukungan merupakan salah satu strategi penting dalam menghadapi tekanan psikologis (Lazarus & Folkman, 1984).
Jika memungkinkan, tetapkan batasan dengan tenang. Gunakan pula mekanisme pelaporan resmi yang tersedia di kampus, seperti unit konseling, dekanat, atau satuan tugas terkait. Jika dampaknya mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, bantuan psikolog atau konselor dapat menjadi pilihan.
Yang penting diingat, korban tidak harus menghadapi situasi tersebut sendirian. Bullying bukan semata-mata persoalan ketahanan mental individu, melainkan persoalan relasi dan lingkungan.
Teman di Sekitar Punya Peran
Bullying tidak hanya melibatkan pelaku dan korban. Orang-orang yang berada di sekitar kejadian juga dapat menentukan apakah perilaku tersebut terus berlangsung atau berhenti. Riset tentang bullying sebagai proses kelompok menunjukkan bahwa peran orang sekitar sangat penting dalam mempertahankan maupun menghentikan perilaku tersebut (Salmivalli, 2014).
Karena itu, ketika menyaksikan sesuatu yang janggal terjadi pada teman, kita perlu bertanya: apakah kita ikut tertawa, memilih diam, atau benar-benar mendampingi?
Menjadi upstander tidak selalu berarti melakukan konfrontasi secara langsung. Kita dapat memulainya dengan menemani korban, tidak menyebarkan konten yang mempermalukannya, tidak ikut menormalisasi penghinaan melalui tanda suka atau komentar bercanda, serta membantu menghubungkannya dengan dukungan yang tepat.
Kampus Punya Tanggung Jawab
Upaya individu saja tidak cukup. Kampus memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang aman secara sosial dan psikologis.
Konsep psychological safety, sebagaimana dijelaskan Edmondson (1999), merujuk pada kondisi ketika seseorang merasa aman untuk berbicara, bertanya, menyampaikan kesalahan, atau mengemukakan persoalan tanpa takut dipermalukan atau dihukum.
Dalam konteks perguruan tinggi, prinsip itu perlu diterjemahkan ke dalam kebijakan yang nyata. Kampus membutuhkan aturan tertulis mengenai kekerasan dan perundungan, mekanisme pelaporan yang mudah diakses dan menjaga kerahasiaan, perlindungan bagi pelapor dari tindakan balasan, edukasi sejak masa orientasi, serta respons yang konsisten terhadap setiap laporan.
Kampus tidak cukup hanya memiliki aturan. Mahasiswa harus mengetahui aturan tersebut dan percaya bahwa mekanismenya benar-benar bekerja.
Kapan Perlu Mencari Bantuan Psikologis?
Bullying secara konsisten dikaitkan dengan meningkatnya risiko kecemasan dan gejala depresi (Låftman & Modin, 2017). Karena itu, perubahan pada kondisi diri tidak sebaiknya diabaikan.
Sulit tidur, konsentrasi yang menurun drastis, keengganan pergi ke kampus, merasa tidak aman bahkan ketika berada di luar situasi pemicu, atau menarik diri dari relasi yang sebelumnya penting dapat menjadi tanda bahwa seseorang membutuhkan bantuan profesional.
Berkonsultasi dengan psikolog atau konselor kampus bukan tanda kegagalan. Sebaliknya, mencari pertolongan merupakan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.
Kampus semestinya menjadi ruang untuk bertumbuh, mengembangkan pengetahuan, membangun jejaring, dan menemukan jati diri. Ia tidak seharusnya menjadi tempat mahasiswa belajar bagaimana bertahan dari perlakuan yang merendahkan.
Menghadapi bullying bukan hanya tanggung jawab korban untuk menjadi “lebih kuat” atau “lebih pandai bergaul”. Tanggung jawab itu juga berada pada teman, organisasi mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan institusi kampus.
Sebab, rasa aman di kampus tidak lahir dari kemampuan seseorang untuk menahan semuanya sendirian. Rasa aman tumbuh ketika lingkungan di sekitarnya bersedia mendengar, melindungi, dan bertindak.
Jika kisah Bunga terasa dekat dengan pengalaman seseorang yang kita kenal, atau bahkan dengan pengalaman kita sendiri, mungkin sudah waktunya berhenti menganggapnya sebagai candaan biasa. Berani bicara bukan berarti lemah. Dalam lingkungan akademik yang sehat, suara seseorang seharusnya tidak perlu hilang hanya agar kelompok tetap merasa nyaman.





