Saat Lele Berubah Menjadi Harapan Balita, Mahasiswa KKN UINSA Dorong Pencegahan Stunting dan Penguatan UMKM di Desa Pelang Lor

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 29 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya bersama kader Posyandu, pemerintah desa, dan warga berfoto usai kegiatan pembagian Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita di Desa Pelang Lor, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian program pencegahan stunting yang kemudian dikembangkan melalui inovasi pengolahan ikan lele menjadi kerupuk dan nugget sebagai upaya meningkatkan gizi balita sekaligus mendorong pertumbuhan UMKM berbasis potensi lokal. (Dok. KKN 29 UINSA Surabaya)
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 29 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya bersama kader Posyandu, pemerintah desa, dan warga berfoto usai kegiatan pembagian Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita di Desa Pelang Lor, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian program pencegahan stunting yang kemudian dikembangkan melalui inovasi pengolahan ikan lele menjadi kerupuk dan nugget sebagai upaya meningkatkan gizi balita sekaligus mendorong pertumbuhan UMKM berbasis potensi lokal. (Dok. KKN 29 UINSA Surabaya)

Ngawi, Krajan.id – Potensi budidaya ikan lele di Desa Pelang Lor, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, tidak lagi hanya dipandang sebagai komoditas konsumsi harian. Melalui inovasi yang digagas Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 29 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, ikan lele diolah menjadi kerupuk dan nugget sebagai upaya mendukung pencegahan stunting sekaligus membuka peluang pengembangan UMKM berbasis potensi lokal.

Program KKN yang berlangsung pada 22 Juni hingga 15 Juli 2026 tersebut melibatkan 17 mahasiswa dengan menggandeng Pemerintah Desa Pelang Lor, kader Posyandu, bidan desa, serta ahli gizi Puskesmas Gemarang. Kolaborasi lintas sektor itu dilakukan agar program yang dijalankan tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga memiliki manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Bacaan Lainnya

Gagasan mengolah ikan lele menjadi produk pangan bernilai tambah lahir setelah mahasiswa melakukan pendampingan dalam berbagai kegiatan kesehatan masyarakat di desa. Dari hasil observasi serta diskusi bersama tenaga kesehatan, mereka menemukan bahwa Desa Pelang Lor memiliki potensi budidaya lele yang cukup besar, namun belum dimanfaatkan secara optimal sebagai produk olahan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Ketua Kelompok KKN 29 UINSA Surabaya mengatakan, pemilihan ikan lele didasarkan pada potensi lokal yang dimiliki desa. Menurutnya, pengembangan produk olahan dapat memberikan manfaat ganda, baik dari sisi peningkatan gizi masyarakat maupun penguatan ekonomi warga.

“Kami memilih ikan lele karena merupakan salah satu potensi terbesar yang dimiliki Desa Pelang Lor. Selama ini lele lebih banyak dijual dalam bentuk segar, padahal jika diolah menjadi produk seperti kerupuk dan nugget, nilainya bisa meningkat sekaligus menjadi alternatif pangan bergizi bagi masyarakat,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan diawali pada 22 Juni 2026 melalui edukasi mengenai pentingnya pencegahan stunting kepada wali murid SDN Pelang Lor 2. Setelah itu, mahasiswa turut mendampingi pelaksanaan pembagian Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita.

Kegiatan tersebut menjadi pintu masuk bagi mahasiswa untuk memahami kondisi kesehatan masyarakat secara lebih menyeluruh. Melalui interaksi langsung dengan warga, mahasiswa memperoleh gambaran mengenai kebutuhan gizi balita sekaligus berbagai tantangan yang dihadapi dalam upaya pencegahan stunting di tingkat desa.

Selanjutnya, mahasiswa mengadakan diskusi bersama kader Posyandu, bidan desa, serta ahli gizi Puskesmas Gemarang guna mengidentifikasi kebutuhan masyarakat dan menentukan bentuk intervensi yang tepat.

Di setiap dusun, terdapat lima kader Posyandu yang aktif memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Keberadaan para kader menjadi salah satu kekuatan utama dalam mendukung pelaksanaan program. Secara keseluruhan, kegiatan edukasi dan pendampingan tersebut menyasar sekitar 50 balita di Desa Pelang Lor.

Sebagai tindak lanjut dari hasil observasi, mahasiswa melakukan survei ke sejumlah lokasi budidaya ikan lele milik warga. Hasil survei menunjukkan bahwa produksi lele di desa memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk olahan yang lebih bernilai.

Berbekal temuan tersebut, mahasiswa mulai melakukan serangkaian uji coba pembuatan kerupuk dan nugget berbahan dasar ikan lele. Proses uji coba dilakukan untuk mendapatkan cita rasa, tekstur, dan kualitas produk yang sesuai sebelum diperkenalkan kepada masyarakat.

Sebelum pelaksanaan pelatihan, mahasiswa juga menggelar technical meeting bersama bidan desa dan ahli gizi Puskesmas Gemarang. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan proses pengolahan memenuhi aspek keamanan pangan sekaligus mempertimbangkan kandungan gizi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, khususnya balita.

Puncak kegiatan berlangsung pada 1 Juli 2026 melalui pelatihan dan demonstrasi memasak kerupuk serta nugget lele yang diikuti kader Posyandu, ibu-ibu PKK, dan masyarakat Desa Pelang Lor.

Dalam pelatihan tersebut, peserta tidak hanya mempraktikkan cara mengolah ikan lele menjadi makanan yang lebih menarik dan disukai anak-anak. Mereka juga mendapatkan edukasi mengenai teknik pengemasan produk, peluang pemasaran, hingga potensi pengembangan UMKM berbasis sumber daya lokal.

Ahli gizi Puskesmas Gemarang menjelaskan bahwa ikan lele merupakan salah satu sumber protein hewani yang baik untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi balita. Namun, ia menegaskan bahwa pemenuhan gizi setiap anak tetap harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

“Ikan lele merupakan sumber protein hewani yang baik sehingga dapat menjadi salah satu alternatif menu bergizi dalam upaya pencegahan stunting. Setiap balita memiliki kondisi yang berbeda, sehingga pemenuhan gizinya perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing,” jelasnya.

Selain fokus pada inovasi pangan, mahasiswa KKN juga mengajak masyarakat menerapkan pola hidup sehat melalui kegiatan senam bersama yang dilaksanakan secara berkala. Kegiatan tersebut menjadi ruang interaksi antara mahasiswa dan warga sekaligus mendorong masyarakat membiasakan aktivitas fisik dalam kehidupan sehari-hari.

Program kesehatan lainnya diwujudkan melalui kegiatan Subuh Bergerak yang digelar pada 9 Juli 2026 di Masjid Baitul Muslim, Dusun TambakSelo Selatan.

Kegiatan diawali dengan salat Subuh berjamaah, dilanjutkan sambutan dari pemerintah desa dan unsur Forkopimcam. Setelah itu, masyarakat memperoleh layanan pemeriksaan kesehatan gratis yang meliputi pengecekan tekanan darah, kadar gula darah, serta konsultasi kesehatan.

Sekitar 50 warga memanfaatkan layanan tersebut. Kehadiran pemeriksaan kesehatan gratis diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini kondisi kesehatan sekaligus mendorong penerapan pola hidup sehat.

Di bidang lingkungan, mahasiswa bersama Pemerintah Desa Pelang Lor melaksanakan program Ngawi Asri yang rutin digelar setiap Selasa dan Jumat. Kegiatan tersebut diwujudkan melalui gotong royong membersihkan masjid, mushala, kantor desa, serta berbagai fasilitas umum.

Sementara itu, pada sektor pelayanan publik, mahasiswa mengembangkan website administrasi surat-menyurat desa yang saat ini masih dalam tahap penyempurnaan. Pengembangan sistem tersebut diharapkan dapat mendukung digitalisasi pelayanan administrasi sehingga pelayanan kepada masyarakat menjadi lebih efektif dan efisien.

Berbagai program yang dijalankan selama pelaksanaan KKN dirancang saling melengkapi untuk mendukung terwujudnya Desa Pelang Lor yang lebih sehat, mandiri, dan berdaya saing.

Berawal dari edukasi pencegahan stunting dan pendampingan Posyandu, mahasiswa kemudian mengembangkan inovasi pengolahan ikan lele sebagai solusi yang tidak hanya mendukung pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga membuka peluang peningkatan pendapatan melalui pengembangan UMKM berbasis potensi lokal.

Kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader Posyandu, dan masyarakat menjadi fondasi utama dalam pelaksanaan program tersebut. Dengan memanfaatkan potensi yang telah dimiliki desa, inovasi kerupuk dan nugget lele diharapkan tidak berhenti sebagai program KKN semata, melainkan dapat berkembang menjadi produk unggulan Desa Pelang Lor yang memberi manfaat berkelanjutan bagi kesehatan masyarakat sekaligus memperkuat perekonomian warga.


Meta Description (150 karakter):
Mahasiswa KKN UINSA olah lele menjadi kerupuk dan nugget untuk mendukung pencegahan stunting sekaligus memperkuat UMKM Desa Pelang Lor, Ngawi.

Keyword SEO:

  • KKN UINSA
  • stunting
  • UMKM Desa Pelang Lor
  • olahan ikan lele
  • Kabupaten Ngawi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *