Berdasarkan data Statistik Penduduk Lanjut Usia tahun 2023 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk lanjut usia (lansia) telah mencapai 11,75 persen dari total populasi. Ini menunjukkan bahwa Indonesia tengah memasuki fase penuaan penduduk (ageing population). Transformasi demografis ini akan menjadi tantangan besar terutama bagi 44,65 persen dari total lansia yang tinggal di wilayah pedesaan, yang menggantungkan hidup di tengah keterbatasan dukungan fasilitas, aksesibilitas, dan perlindungan hari tua.
Kehidupan lansia di pedesaan Indonesia menyimpan ironi. Alih-alih menikmati masa tua dengan ketenangan, banyak lansia di desa masih harus tetap aktif bekerja untuk menyambung hidup dari hari ke hari. Fenomena bekerja untuk bertahan hidup (working for survival) ini terjadi akibat absennya jaring pengaman sosial (social security) yang memadai serta belum terbangunnya ekosistem ekonomi perawatan (care economy) yang ramah terhadap lansia. Komunitas pedesaan yang dahulu dikenal memiliki solidaritas sosial tinggi kini mulai mengalami pergeseran struktural akibat migrasi kaum muda ke perkotaan, meninggalkan orang tua mereka dalam kerentanan ekonomi dan sosial.
Sistem jaring pengaman sosial (social security) yang ada makin terbatas dan kurang efektif lagi dalam mendukung kebutuhan lansia di pedesaan secara komprehensif. Program bantuan finansial seringkali terlambat, tidak konsisten, dan tidak tepat sasaran, atau jumlahnya tidak mampu menutupi biaya hidup dan perawatan kesehatan yang terus meningkat. Perlindungan hari tua lewat dana pensiun jelas mustahil dinikmati lansia di desa, mengingat latar belakang pekerjaan mereka yang didominasi oleh sektor informal, petani gurem, dan buruh tani. Oleh karena itu, reformasi kebijakan jaring pengaman sosial perlu diarahkan pada penciptaan skema “pensiun” bagi lansia, khususnya mereka yang berada dalam kategori miskin di wilayah pedesaan. Jaminan pendapatan minimum dan kesehatan di hari tua akan memberikan dukungan yang pasti bagi terciptanya kesejahteraan lansia.
Namun, pemenuhan aspek finansial melalui social security saja tidak akan pernah cukup tanpa dibarengi oleh pembangunan sistem ekonomi perawatan (care economy). Sistem ini merujuk pada sektor yang menyediakan layanan pengasuhan, perawatan medis, dukungan emosional, dan pemenuhan kebutuhan dasar harian bagi kelompok lansia yang rentan. Para lansia di desa seringkali kehilangan pendukung utamanya ketika anak-anak mereka berurbanisasi ke kota. Mungkin sudah waktunya, ada bagian dari Dana Desa yang diperuntukkan untuk membangun Posyandu Lansia. Modal sosial berupa dukungan komunitas lokal perlu dikembangkan ke arah model ekonomi perawatan berbasis komunitas (community-based care economy). Pemerintah dapat mendukung pemberdayaan kelembagaan lokal, Karang Taruna, atau PKK agar dapat mendukung tumbuhnya care economy tersebut.
Mengintegrasikan social security dan care economy di pedesaan juga memerlukan pendekatan sosio-kultural yang peka terhadap kearifan lokal. Pembangunan pusat aktivitas lansia (daycare lansia) di pedesaan dapat menjadi solusi yang menjawab tantangan care economy. Di pusat aktivitas ini, para lansia tidak hanya mendapatkan pelayanan kesehatan berkala, asupan bergizi, tetapi juga ruang sosial untuk melakukan aktivitas rekreatif, menyalurkan keterampilan, agar mereka tetap merasa berdaya dan bermartabat.
Pendanaan untuk ekosistem ini dapat diintegrasikan melalui optimalisasi pemanfaatan dana-dana pembangunan desa, yang selama ini lebih didominasi oleh pembangunan infrastruktur fisik. Mengalihkan sebagian dana tersebut untuk investasi sosial pada kesejahteraan lansia merupakan langkah yang bukan hanya manusiawi, tetapi juga strategis dalam jangka panjang karena dapat menurunkan angka penderita sakit dan ketergantungan di kalangan lansia.
Isu penuaan penduduk (ageing population) tidak harus dilihat sebagai beban, melainkan sebuah realitas yang jika dikelola dengan kebijakan yang tepat, dapat bertransformasi menjadi modal sosial yang berharga. Melalui sinergi yang baik antara penyediaan jaring pengaman sosial yang inklusif dan pelembagaan ekonomi perawatan (care economy) yang humanis di pedesaan, kita mengupayakan kesejahteraan lansia sebagai investasi moral sekaligus struktural dalam membangun Indonesia yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga yang berperikemanusiaan dan berkeadilan bagi seluruh generasinya





