Takdir Bukan Alasan Berdiam Diri, Meluruskan Cara Pandang Jabariyah Melalui Hadis Nabi

Ilustrasi
Ilustrasi

Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, ungkapan “sudah takdir” kerap digunakan untuk menjelaskan berbagai peristiwa. Kalimat tersebut muncul ketika seseorang gagal menempuh pendidikan, kehilangan pekerjaan, mengalami musibah, bahkan saat melakukan kesalahan yang sebenarnya dapat dihindari. Tidak sedikit orang kemudian berkata, “Memang sudah takdir Allah.” Pernyataan itu memang mencerminkan keyakinan terhadap qadha dan qadar sebagai bagian dari rukun iman. Namun, apabila dipahami secara keliru, cara pandang tersebut dapat melahirkan sikap fatalistik, mengurangi semangat berusaha, dan mengaburkan tanggung jawab atas setiap tindakan. Pola pikir semacam ini memiliki kemiripan dengan ajaran Jabariyah dalam sejarah pemikiran Islam.

Dalam kajian ilmu kalam, Jabariyah berasal dari kata jabara yang berarti “memaksa”. Aliran ini berpandangan bahwa manusia tidak memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan maupun perbuatannya. Seluruh tindakan manusia dipahami sebagai ketetapan mutlak Allah sehingga manusia berada dalam keadaan majbur atau terpaksa. Tokoh-tokoh yang sering dikaitkan dengan penyebaran paham ini ialah Ja’d bin Dirham dan Jahm bin Shafwan. Menurut mereka, seluruh amal manusia, baik maupun buruk, sepenuhnya telah ditentukan oleh Allah sehingga manusia tidak memiliki pilihan yang hakiki.

Bacaan Lainnya

Pandangan tersebut tentu tidak lahir tanpa landasan. Jabariyah merujuk pada sejumlah ayat Al-Qur’an yang menegaskan kekuasaan Allah atas seluruh ciptaan-Nya. Salah satunya ialah firman Allah Swt., “Padahal Allahlah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu” (QS. Ash-Shaffat: 96). Akan tetapi, memahami persoalan takdir tidak dapat dilakukan hanya dengan bertumpu pada satu ayat atau satu sudut pandang. Ajaran Islam menghendaki pemahaman yang menyeluruh dengan memperhatikan ayat-ayat lain, hadis Nabi, serta prinsip tanggung jawab manusia dalam menjalankan kehidupannya.

Rasulullah ﷺ juga memberikan peringatan agar umat Islam tidak tenggelam dalam perdebatan mengenai takdir yang justru dapat memicu perselisihan. Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa ketika para sahabat memperdebatkan persoalan qadar, Rasulullah ﷺ melarang mereka meneruskan perdebatan tersebut. Sikap Nabi menunjukkan bahwa pembahasan mengenai takdir harus ditempatkan secara proporsional, bukan dijadikan alasan untuk menghilangkan kewajiban manusia dalam berikhtiar.

Hal itu semakin dipertegas melalui sabda Rasulullah ﷺ:

اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ

“Beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang telah ditetapkan baginya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut memberikan pesan yang sangat jelas bahwa keimanan kepada qadha dan qadar tidak pernah dimaksudkan untuk melemahkan semangat berusaha. Sebaliknya, Nabi Muhammad ﷺ memerintahkan umatnya agar terus beramal dan berikhtiar. Ketetapan Allah bukanlah penghalang bagi manusia untuk bekerja keras, melainkan sumber optimisme bahwa setiap usaha yang dilakukan berada dalam pengawasan dan pengetahuan-Nya.

Pemahaman inilah yang menjadi pembeda antara ajaran Islam yang utuh dengan cara pandang fatalistik. Seorang muslim diperintahkan untuk merencanakan kehidupan sebaik mungkin, bekerja dengan sungguh-sungguh, menuntut ilmu, memperbaiki kesalahan, dan terus berusaha mencapai kebaikan. Setelah seluruh ikhtiar dilakukan, barulah hasil akhirnya diserahkan kepada Allah dengan penuh keikhlasan. Sikap seperti ini mencerminkan keseimbangan antara tawakal dan usaha yang menjadi karakter ajaran Islam.

Fenomena penyalahgunaan istilah “sudah takdir” juga patut menjadi bahan refleksi. Tidak jarang kalimat tersebut dipakai untuk membenarkan kelalaian, menutupi kesalahan, atau menghindari tanggung jawab. Padahal, Islam tidak pernah mengajarkan bahwa takdir dapat dijadikan alasan untuk meninggalkan kewajiban ataupun membenarkan perbuatan yang keliru. Justru setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas pilihan dan amal yang dilakukannya selama hidup di dunia.

Mempelajari Jabariyah bukan semata-mata untuk mengenal salah satu aliran dalam sejarah teologi Islam, melainkan sebagai pengingat agar umat tidak terjebak dalam pemahaman yang mengikis semangat berikhtiar. Keimanan kepada takdir semestinya melahirkan pribadi yang lebih optimis, tangguh, dan bertanggung jawab. Ketika usaha telah dilakukan secara maksimal, seorang mukmin meyakini bahwa apa pun hasilnya merupakan ketentuan terbaik dari Allah. Dengan pemahaman yang utuh terhadap Al-Qur’an dan hadis Nabi, keyakinan kepada takdir tidak akan melahirkan kepasrahan yang keliru, melainkan menjadi kekuatan spiritual yang mendorong manusia untuk terus berbuat baik, bekerja keras, dan memperbaiki diri sepanjang hayat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *