Penguatan GMP Dorong Mutu dan Daya Saing UMKM Keripik Tette Pamekasan

Tim pengabdian menyampaikan materi mengenai penerapan Good Manufacturing Practices (GMP) kepada pelaku UMKM Keripik Tette di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan. (Dok. Tim KKN Universitas Trunodjoyo Madura)
Tim pengabdian menyampaikan materi mengenai penerapan Good Manufacturing Practices (GMP) kepada pelaku UMKM Keripik Tette di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan. (Dok. Tim KKN Universitas Trunodjoyo Madura)

Blumbungan, Krajan.id – Penerapan standar produksi pangan yang baik menjadi salah satu tantangan yang perlu diperhatikan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pangan. Hal itu pula yang menjadi perhatian tim dosen dan mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) bersama Universitas Islam Madura (UIM) dalam mendampingi pelaku UMKM Keripik Tette di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan.

Pendampingan penerapan Good Manufacturing Practices (GMP) tersebut dilaksanakan pada 9 Juli 2026. Kegiatan diarahkan untuk meningkatkan pemahaman pelaku usaha mengenai higiene, sanitasi, dan praktik produksi yang baik sehingga mutu serta keamanan pangan dapat lebih terjamin.

Bacaan Lainnya

Keripik Tette merupakan salah satu pangan khas Madura berbahan dasar singkong. Produk tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari ekonomi berbasis potensi lokal. Namun, peningkatan kualitas produk tidak hanya bergantung pada cita rasa dan proses pengolahan, tetapi juga pada konsistensi penerapan kebersihan dan keamanan pangan.

Program pendampingan ini merupakan bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang didanai melalui Program BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Kegiatan tersebut sekaligus terintegrasi dengan program konversi Kuliah Kerja Nyata (KKN) UTM.

Melalui program itu, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman pembelajaran di luar kampus. Mereka juga terlibat langsung dalam proses pendampingan UMKM dan melihat persoalan yang dihadapi pelaku usaha dalam menjalankan produksi sehari-hari.

Tim pengabdian diketuai Dita Megasari, S.P., M.Si., dengan anggota Ifan Rizky, S.P., M.Si., dan Dr. Iswahyudi, S.TP., M.Si. Pelaksanaan kegiatan turut melibatkan mahasiswa UTM, yakni Zainul Arifin, Nur Milatul Khalishah, Sevira Zhyrahmadhanu, dan Ariyo Ade Pangestu.

Mahasiswa berperan dalam pelaksanaan pelatihan, pendampingan lapangan, hingga evaluasi. Keterlibatan tersebut menjadi bagian penting karena proses pendampingan tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi dilanjutkan dengan pengamatan terhadap praktik produksi yang dilakukan pelaku UMKM.

Mengukur Pemahaman Pelaku UMKM

Kegiatan diawali dengan registrasi peserta dan pre-test untuk mengetahui tingkat pemahaman awal peserta mengenai penerapan GMP. Evaluasi awal menunjukkan masih terdapat peserta yang belum memahami secara utuh pentingnya penerapan higiene dalam proses produksi pangan.

Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah penggunaan alat pelindung diri (APD). Penggunaan APD dalam kegiatan produksi pangan menjadi bagian dari upaya menjaga kebersihan serta mengurangi risiko kontaminasi terhadap produk.

Setelah pre-test, tim pengabdian memberikan pelatihan mengenai prinsip-prinsip GMP. Materi mencakup kebersihan lingkungan produksi, sanitasi peralatan, serta penggunaan APD selama proses pengolahan pangan.

Peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai penggunaan penutup kepala, masker, celemek, dan sarung tangan. Perlengkapan tersebut diperkenalkan sebagai bagian dari praktik produksi yang lebih higienis.

Setelah pelatihan selesai, peserta mengikuti post-test. Evaluasi tersebut digunakan untuk melihat perubahan pemahaman setelah peserta memperoleh materi dan pendampingan.

Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta mengenai penerapan GMP. Peningkatan terutama terlihat pada pemahaman mengenai penggunaan APD dan praktik produksi yang higienis untuk menghasilkan pangan yang aman dan bermutu.

Pendampingan tidak hanya dilakukan melalui kegiatan di ruang pelatihan. Tim dosen dan mahasiswa juga mendatangi rumah produksi UMKM Keripik Tette milik Ibu Ais untuk melihat secara langsung proses pengolahan produk.

Kunjungan tersebut digunakan untuk mengamati tahapan produksi sekaligus berdiskusi dengan pelaku usaha. Dari proses tersebut, tim memperoleh gambaran mengenai kondisi nyata yang dihadapi UMKM dalam menerapkan prinsip keamanan pangan.

Hasil observasi menunjukkan masih terdapat sejumlah aspek yang dapat diperbaiki, terutama konsistensi penerapan sanitasi dan penggunaan APD selama proses produksi. Temuan tersebut kemudian menjadi dasar pemberian rekomendasi kepada pelaku usaha.

Rekomendasi disusun dengan mempertimbangkan kondisi dan kemampuan UMKM. Pendekatan tersebut diperlukan agar perbaikan yang dilakukan tidak hanya bersifat sesaat, tetapi dapat diterapkan secara konsisten dalam kegiatan produksi sehari-hari.

Tim pengabdian melakukan kunjungan dan pendampingan di rumah produksi UMKM Keripik Tette milik Ibu Ais. (Dok. Tim KKN Universitas Trunodjoyo Madura)
Tim pengabdian melakukan kunjungan dan pendampingan di rumah produksi UMKM Keripik Tette milik Ibu Ais. (Dok. Tim KKN Universitas Trunodjoyo Madura)

Ketua tim pengabdian, Dita Megasari, mengatakan penerapan GMP menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan kualitas produk pangan lokal.

“Penerapan GMP menjadi fondasi penting bagi UMKM pangan untuk menghasilkan produk yang aman, higienis, dan berkualitas. Kami berharap pendampingan ini dapat meningkatkan kepercayaan konsumen sekaligus memperluas peluang pasar bagi Keripik Tette sebagai salah satu produk unggulan khas Madura,” ujar Dita Megasari.

Dari Kebiasaan Menuju Standar Produksi

Pemilik UMKM Keripik Tette, Ibu Ais, mengatakan pendampingan tersebut memberikan pemahaman baru mengenai pentingnya kebersihan dalam proses produksi.

“Selama ini kami memproduksi berdasarkan kebiasaan yang sudah dilakukan bertahun-tahun. Setelah mendapatkan pendampingan, kami menjadi lebih memahami pentingnya kebersihan selama proses produksi dan penggunaan APD agar produk yang dihasilkan lebih aman dan dipercaya konsumen,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penerapan standar produksi pada UMKM tidak semata-mata berkaitan dengan penambahan peralatan. Perubahan juga membutuhkan peningkatan pemahaman dan kebiasaan kerja yang dilakukan secara konsisten.

Bagi pelaku usaha pangan skala kecil, penerapan GMP dapat menjadi bagian dari proses pembenahan produksi. Kebersihan lingkungan kerja, sanitasi peralatan, dan penggunaan APD menjadi sejumlah aspek yang dapat diperkuat secara bertahap sesuai kondisi usaha.

Dari sisi mahasiswa, kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan persoalan di lapangan. Zainul Arifin, salah seorang mahasiswa yang terlibat, mengatakan pengalaman tersebut memberikan pembelajaran yang berbeda dari kegiatan perkuliahan.

“Kami belajar bagaimana menerapkan ilmu yang diperoleh di perkuliahan secara langsung kepada masyarakat. Kegiatan ini juga memberikan pengalaman berharga dalam memahami kondisi nyata UMKM serta pentingnya pendampingan yang berkelanjutan,” katanya.

Pendampingan GMP bagi UMKM Keripik Tette memperlihatkan bahwa peningkatan daya saing produk lokal dapat dimulai dari aspek mendasar, yakni proses produksi yang bersih dan aman. Bagi produk pangan tradisional seperti Keripik Tette, kualitas proses menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya mempertahankan sekaligus memperluas pasar.

Kolaborasi UTM dan UIM melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat juga mempertemukan kebutuhan UMKM dengan pengetahuan perguruan tinggi. Pendampingan menjadi sarana untuk mengidentifikasi persoalan produksi sekaligus menyusun perbaikan yang sesuai dengan kondisi pelaku usaha.

Penerapan GMP selanjutnya membutuhkan konsistensi dari pelaku UMKM. Jika praktik higiene, sanitasi, dan penggunaan APD dapat dipertahankan dalam kegiatan produksi sehari-hari, kualitas serta keamanan produk Keripik Tette diharapkan semakin baik.

Langkah tersebut dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat UMKM pangan lokal sekaligus menjaga keberadaan Keripik Tette sebagai produk khas Pamekasan yang memiliki potensi untuk berkembang di pasar yang lebih luas.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *