Trimurti, Krajan.id – Di tengah derasnya arus modernisasi dan menjamurnya berbagai makanan kekinian, kuliner tradisional terus menghadapi tantangan untuk bertahan. Namun, di Dusun Mangiran, Kalurahan Trimurti, Kapanewon Srandakan, Kabupaten Bantul, salah satu warisan kuliner khas masih tetap lestari berkat ketekunan pelaku usaha lokal, yakni Kethak Bu Sulastri.
Kethak merupakan makanan tradisional khas Bantul yang dibuat dari blondo, yaitu ampas hasil pengolahan santan menjadi minyak kelapa, yang kemudian dipadukan dengan gula jawa hingga menghasilkan cita rasa manis dengan aroma kelapa yang khas. Proses pembuatannya masih dilakukan secara tradisional sehingga menjadikan kethak bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari warisan budaya yang mencerminkan kearifan lokal masyarakat Bantul.
Keberadaan kethak kini semakin sulit dijumpai. Perubahan pola konsumsi masyarakat dan berkembangnya produk makanan modern membuat jumlah perajin kethak terus berkurang. Di antara sedikit produsen yang masih bertahan, usaha milik Bu Sulastri menjadi salah satu yang konsisten mempertahankan cita rasa dan teknik produksi tradisional. Sejak dirintis pada 1980, usaha tersebut tidak hanya menjadi sumber mata pencaharian keluarga, tetapi juga berkontribusi menjaga keberlangsungan kuliner khas daerah agar tidak hilang ditelan zaman.
Nilai budaya yang melekat pada proses produksi kethak kemudian menarik perhatian Alya Rifqi Alfaiz, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi AMIKOM Yogyakarta angkatan 2022. Di bawah bimbingan Sheila Lestari Giza Pudrianisa, M.I.Kom., Alya mendokumentasikan proses pembuatan Kethak Bu Sulastri melalui sebuah karya photo story yang mengangkat perjalanan kuliner tradisional tersebut dari dekat.
Dalam proses penyusunan karya, Alya menggunakan metode EDFAT (Entire, Detail, Frame, Angle, dan Time), yaitu pendekatan yang umum diterapkan dalam fotografi jurnalistik untuk membangun rangkaian visual yang sistematis, informatif, dan memiliki alur cerita yang kuat. Metode ini memungkinkan setiap foto saling melengkapi sehingga mampu menyampaikan informasi secara utuh kepada audiens.
Pembuatan photo story diawali dengan observasi lapangan serta pengumpulan data melalui wawancara bersama pemilik usaha. Selanjutnya, proses pemotretan dilakukan dengan mendokumentasikan setiap tahapan produksi secara berurutan, mulai dari pembelahan kelapa, penyungkilan daging kelapa, pemarutan, pemerasan santan, pemasakan santan hingga menghasilkan blondo, sampai tahap akhir pengolahan blondo menjadi kethak siap konsumsi.
Rangkaian foto tersebut tidak hanya menampilkan proses produksi secara teknis, tetapi juga memperlihatkan ketelitian, kesabaran, serta kerja keras yang menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari para pembuat kethak. Melalui pendekatan visual tersebut, hubungan masyarakat dengan sumber daya alam, khususnya kelapa sebagai bahan utama, tergambar sebagai bagian dari tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode EDFAT mampu diterapkan secara efektif dalam menghasilkan photo story yang runtut, komunikatif, dan memiliki nilai dokumentasi yang tinggi. Dokumentasi visual tersebut tidak hanya merekam tahapan produksi, tetapi juga mampu menghadirkan pesan mengenai pentingnya menjaga identitas budaya lokal melalui karya fotografi jurnalistik.
Lebih jauh, karya ini diharapkan dapat menjadi media edukasi sekaligus sarana promosi bagi pelaku UMKM yang masih mempertahankan kuliner tradisional. Dokumentasi yang baik dapat membantu memperkenalkan kembali kethak kepada generasi muda sekaligus meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap produk berbasis kearifan lokal.
Di era digital, pelestarian budaya tidak lagi terbatas pada cerita lisan maupun tulisan. Melalui karya visual yang kuat, nilai-nilai budaya dapat disampaikan kepada masyarakat yang lebih luas. Kisah sederhana tentang proses pembuatan Kethak Bu Sulastri menjadi bukti bahwa warisan kuliner tradisional akan tetap hidup selama masih ada masyarakat yang menjaga, mendokumentasikan, dan memperkenalkannya kepada generasi berikutnya.





