Di tengah derasnya arus kehidupan perkotaan, pekerjaan sering dipandang sebagai sarana utama untuk memenuhi kebutuhan hidup. Banyak orang rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kenyamanan demi memperoleh penghasilan yang layak. Namun, bagaimana jika pekerjaan yang menjadi sumber nafkah justru menghadirkan kegelisahan batin? Pertanyaan inilah yang menjadi inti refleksi dalam cerpen Di Jakarta karya Ahmad Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus.
Cerpen tersebut menghadirkan persoalan yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan masyarakat modern. Melalui kisah seorang tukang pijat bernama Markum Zarqoni, Gus Mus mengajak pembaca menelusuri hubungan yang tidak selalu mudah antara pekerjaan, rezeki, moralitas, dan ketenangan hati.
Jakarta dan Pergulatan Mencari Nafkah
Gus Mus membuka cerpen dengan menggambarkan Jakarta sebagai kota yang bergerak tanpa jeda. Kota ini menjadi simbol ruang tempat manusia berlomba mengejar keberhasilan ekonomi. Kesibukan, persaingan, dan tuntutan hidup membentuk suasana yang akrab bagi banyak orang yang hidup di perkotaan.
Di tengah lanskap tersebut, tokoh “aku” bertemu dengan Markum Zarqoni, seorang tukang pijat yang menggunakan nama profesional “Mr. Z. Qoney”. Penggunaan nama tersebut menunjukkan upaya Zarqoni menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja yang menuntut citra profesional. Ia bekerja melayani pelanggan hotel dan memperoleh penghasilan yang cukup untuk menghidupi keluarganya.
Sekilas, tidak ada persoalan berarti dalam profesi yang dijalaninya. Zarqoni bekerja dengan mengandalkan tenaga dan keterampilannya sendiri. Ia tidak mencuri, tidak merugikan orang lain, dan memperoleh bayaran dari jasa yang diberikan. Namun, di balik rutinitas itu, tersimpan kegelisahan yang terus tumbuh dalam dirinya.
Ketika Rezeki Menjadi Pertanyaan
Puncak konflik dalam cerpen muncul ketika Zarqoni mulai mempertanyakan sumber penghasilannya. Kegelisahan itu bukan muncul karena besarnya pendapatan atau beratnya pekerjaan, melainkan karena kondisi-kondisi tertentu yang ia hadapi saat menjalankan profesinya.
Pada halaman 115, Zarqoni mengungkapkan:
“Namun yang mengusik batin saya sampai saat ini justru rezeki yang saya peroleh dengan cara seperti ini. Mula-mula saya berpikir rezeki ini halal, karena saya menggunakan tenaga dan keringat saya sendiri. Tidak nyolong atau mengambil hak orang lain. Tapi dengan adanya hal-hal seperti yang saya ceritakan tadi, saya jadi ragu dan bahkan resah.”
Kutipan tersebut menjadi titik penting dalam cerpen. Gus Mus menggeser perhatian pembaca dari persoalan ekonomi menuju wilayah yang lebih mendalam, yakni persoalan nurani. Zarqoni tidak sedang mengalami kesulitan mencari nafkah. Ia justru sedang berhadapan dengan pertanyaan moral mengenai keberkahan dari pekerjaan yang dijalaninya.
Di sinilah kekuatan utama cerpen Di Jakarta. Gus Mus tidak menawarkan jawaban yang sederhana. Ia tidak menempatkan tokohnya dalam kategori benar atau salah secara mutlak. Sebaliknya, ia menghadirkan ruang refleksi yang membuat pembaca ikut memikirkan persoalan yang sama.
Dilema yang Dekat dengan Kehidupan Modern
Apa yang dialami Zarqoni sesungguhnya bukan persoalan pribadi semata. Banyak orang pada masa kini menghadapi situasi yang serupa dalam bentuk yang berbeda-beda.
Ada yang bekerja di lingkungan yang bertentangan dengan nilai-nilai yang diyakininya. Ada yang memperoleh penghasilan dari pekerjaan yang menimbulkan keraguan etis. Tidak sedikit pula yang bertahan dalam pekerjaan yang secara materi menguntungkan, tetapi membuat hati mereka terus-menerus gelisah.
Fenomena tersebut semakin relevan di tengah perubahan dunia kerja yang begitu cepat. Standar kesuksesan sering diukur melalui besarnya penghasilan, jabatan, atau pencapaian material. Akibatnya, pertanyaan mengenai makna pekerjaan kerap tersisih oleh tuntutan ekonomi.
Melalui tokoh Zarqoni, Gus Mus mengingatkan bahwa manusia bukan hanya makhluk ekonomi. Kebutuhan hidup memang penting, tetapi manusia juga memiliki kebutuhan spiritual dan moral yang tidak kalah mendasar. Ketika keduanya tidak berjalan seiring, kegelisahan sering kali muncul sebagai konsekuensinya.
Kritik Sosial yang Disampaikan Secara Halus
Selain mengangkat pergulatan batin individu, cerpen ini juga menyimpan kritik sosial yang tajam. Jakarta digambarkan sebagai ruang yang menawarkan kesempatan ekonomi sekaligus menghadirkan berbagai godaan dan kompromi moral.
Dalam kehidupan perkotaan, seseorang sering dipaksa membuat pilihan yang tidak mudah. Keputusan-keputusan tersebut tidak selalu berkaitan dengan kemampuan profesional, tetapi juga menyangkut integritas pribadi. Di tengah tekanan untuk bertahan hidup, suara hati kerap menjadi sesuatu yang sulit didengar.
Menariknya, Gus Mus tidak menyampaikan kritik tersebut melalui narasi yang menghakimi. Ia memilih pendekatan yang lembut dan reflektif. Pembaca diajak melihat realitas sosial melalui pengalaman tokohnya, bukan melalui ceramah yang memaksakan kesimpulan tertentu.
Pendekatan semacam ini membuat pesan yang disampaikan terasa lebih kuat. Pembaca diberi ruang untuk menafsirkan sendiri persoalan yang muncul dan menghubungkannya dengan pengalaman hidup masing-masing.
Refleksi yang Tetap Relevan
Dari sisi penyajian, Di Jakarta memperlihatkan kekuatan Gus Mus sebagai pencerita. Bahasa yang digunakan sederhana, komunikatif, dan dekat dengan keseharian. Dialog-dialog antartokoh mengalir secara alami sehingga pesan moral yang terkandung di dalamnya tidak terasa menggurui.
Nilai-nilai religius memang hadir dalam cerpen ini, tetapi disampaikan melalui refleksi kemanusiaan yang universal. Karena itu, pembaca dari berbagai latar belakang tetap dapat menikmati dan memahami kegelisahan yang dialami Zarqoni.
Keputusan Gus Mus untuk membiarkan pertanyaan Zarqoni tetap terbuka juga menjadi salah satu kelebihan cerpen ini. Tidak ada jawaban final yang diberikan kepada pembaca. Justru dari ketidakpastian itulah muncul ruang perenungan yang lebih luas.
Pertanyaan yang diajukan cerpen ini masih sangat relevan hingga hari ini: ketika pekerjaan mulai mengusik nurani, manakah yang lebih penting untuk dipertahankan, penghasilan atau ketenangan batin?
Melalui kisah sederhana seorang tukang pijat di Jakarta, Gus Mus menunjukkan bahwa tantangan terbesar manusia modern tidak selalu terletak pada sulitnya mencari pekerjaan. Tantangan yang lebih rumit justru muncul ketika pekerjaan yang dimiliki mulai berbenturan dengan nilai-nilai yang diyakini. Pada titik itulah seseorang dituntut untuk menimbang kembali arti rezeki, keberkahan, dan tujuan hidup yang sesungguhnya.





