Wukirsari, Krajan.id – Mahasiswa KKN Kelompok 95 Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) mengenalkan pembuatan silase kepada warga Dusun Rejosari, Kamis (13/8/2026). Kegiatan yang berlangsung di rumah Bapak Ariyanto Jokowidodo, Dusun Rejosari, Kelurahan Wukirsari, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, tersebut dilakukan untuk memperkenalkan alternatif penyimpanan pakan ternak yang dapat dimanfaatkan ketika ketersediaan hijauan berkurang, terutama saat musim kemarau.
Kegiatan tersebut menyasar warga yang sudah beternak, pernah beternak, maupun warga yang berencana beternak. Seluruh anggota KKN Kelompok 95 UMBY terlibat dalam pelaksanaan program yang berfokus pada praktik pembuatan silase menggunakan bahan dan peralatan sederhana.
Arif Eka Wahyudin dari Program Studi Peternakan, selaku pemberi informasi, mengatakan pemilihan program pembuatan silase berangkat dari kondisi ketersediaan hijauan yang dipengaruhi oleh musim. Saat musim kemarau, jumlah hijauan biasanya mulai berkurang sehingga peternak menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan pakan ternaknya.
“Ketika musim kemarau, hijauan biasanya mulai berkurang sehingga peternak cukup kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pakan ternaknya,” kata Arif.
Sebelum program dilaksanakan, mahasiswa juga mendapati adanya warga yang mengalami kesulitan memperoleh hijauan ketika musim kemarau. Beberapa warga menyampaikan bahwa mereka harus mencari hijauan ke tempat lain atau menyesuaikan jumlah pakan yang diberikan kepada ternak ketika ketersediaannya mulai berkurang.
Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan mahasiswa dalam memilih silase sebagai program kerja. Silase merupakan hijauan yang diawetkan melalui proses fermentasi sehingga dapat disimpan dan dimanfaatkan sebagai cadangan pakan.
Menurut Arif, silase dipilih karena proses pembuatannya cukup mudah dan bahan yang dibutuhkan relatif mudah diperoleh. Metode tersebut juga memungkinkan hijauan yang jumlahnya melimpah untuk dimanfaatkan sehingga tidak terbuang begitu saja.
“Silase dipilih karena bisa menjadi salah satu cara untuk menyimpan hijauan agar dapat digunakan dalam waktu yang lebih lama. Selain cara pembuatannya cukup mudah, bahan yang digunakan juga mudah didapat dan bisa memanfaatkan hijauan yang melimpah sebelum musim kemarau,” ujar Arif.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memperagakan proses pembuatan silase secara langsung. Bahan yang digunakan terdiri atas hijauan, molase, EM4, dan air.
Tahap pertama dilakukan dengan mencacah hijauan. Setelah itu, hijauan dicampur dengan larutan molase, EM4, dan air hingga merata. Campuran kemudian dimasukkan ke dalam drum atau plastik.
Bahan yang telah dimasukkan ke dalam wadah selanjutnya dipadatkan untuk mengurangi udara di dalamnya. Setelah dipadatkan, wadah ditutup rapat dan dibiarkan selama 21 hingga 30 hari untuk menjalani proses fermentasi.

Arif mengatakan pemadatan dan penutupan wadah menjadi bagian penting dalam proses pembuatan silase. Udara yang terlalu banyak masuk dapat mengganggu proses fermentasi dan meningkatkan risiko silase mengalami kegagalan atau ditumbuhi jamur.
“Hal yang paling penting dalam pembuatan silase adalah memastikan bahan dipadatkan dengan baik dan tidak banyak udara yang masuk. Wadah juga harus ditutup rapat agar proses fermentasi berjalan dengan baik dan silase tidak mudah berjamur atau mengalami kegagalan,” katanya.
Sebelum mengikuti praktik, sebagian warga telah mengetahui bahwa hijauan dapat diawetkan. Namun, belum banyak warga yang mengetahui tahapan pembuatan silase secara tepat. Sebagian lainnya bahkan belum pernah mencoba membuat silase secara langsung.

Praktik yang dilakukan mahasiswa membuat warga dapat melihat secara langsung setiap tahapan pembuatan. Mulai dari pencacahan hijauan, pencampuran bahan fermentasi, hingga proses penyimpanan.
Warga juga menunjukkan ketertarikan selama kegiatan berlangsung. Hal tersebut terlihat dari sejumlah pertanyaan yang disampaikan, antara lain mengenai lama penyimpanan silase, ciri-ciri silase yang berhasil, serta penggunaannya sebagai pakan ternak.
Sejumlah warga kemudian tertarik mencoba membuat silase secara mandiri. Ketertarikan tersebut muncul karena proses pembuatannya dinilai cukup mudah dan bahan yang digunakan dapat ditemukan di lingkungan sekitar.
Program tersebut dilaksanakan oleh seluruh anggota KKN Kelompok 95 UMBY, yakni Muhammad Tanu Wirajaya dari Manajemen, Arif Eka Wahyudin dari Peternakan, Ramadika Aprilliano dari Psikologi, Muhammad Mussalam Ombaier dari Psikologi, Latifah Kurnia Wahyuningsih dari Manajemen, Naifa Farkha Tanah dari Manajemen, Risma Rachma Dinna dari Psikologi, Astri Zaitun Amaroh dari Psikologi, Wahdah Isnah Fauziyah dari Psikologi, dan Rizka Amalia Fitri dari Psikologi.
Kegiatan tersebut didampingi Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Ratri Paramitalaksmi, SE, M.Ak, Ak, CA, CAP.
Hampir seluruh warga yang diundang hadir dalam kegiatan tersebut. Beberapa warga tidak dapat mengikuti kegiatan karena memiliki agenda lain.
Mahasiswa KKN Kelompok 95 UMBY berharap praktik tersebut dapat diteruskan oleh warga setelah program KKN berakhir. Pembuatan silase secara mandiri diharapkan dapat menjadi salah satu pilihan bagi peternak untuk menyediakan cadangan pakan ketika hijauan mulai sulit diperoleh.
“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya selesai setelah program KKN berakhir, tetapi bisa terus dilakukan oleh warga secara mandiri,” kata Arif.
Ia mengatakan keberlanjutan praktik pembuatan silase diharapkan dapat membantu peternak memenuhi kebutuhan pakan ternak ketika ketersediaan hijauan menurun, terutama pada musim kemarau.
Melalui kegiatan tersebut, KKN Kelompok 95 UMBY tidak hanya memberikan penjelasan mengenai silase, tetapi juga mengajak warga mempraktikkan langsung proses pembuatannya. Pemanfaatan hijauan yang tersedia di sekitar lingkungan menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut agar dapat digunakan sebagai cadangan pakan ketika kondisi musim menyebabkan ketersediaannya berkurang.





