KKN Undip Dampingi Penanganan Anak Tidak Sekolah di Desa Karangpelem

Di balik pendataan, ada cerita dan harapan yang perlu didengar. Mahasiswa KKN Undip berdialog langsung dengan warga Desa Karangpelem dalam upaya mendampingi persoalan Anak Tidak Sekolah (ATS). Pendekatan dari rumah ke rumah menjadi langkah untuk memahami kondisi keluarga sekaligus membuka kembali ruang bagi anak untuk melanjutkan pendidikan. (Doc. Pribadi)
Di balik pendataan, ada cerita dan harapan yang perlu didengar. Mahasiswa KKN Undip berdialog langsung dengan warga Desa Karangpelem dalam upaya mendampingi persoalan Anak Tidak Sekolah (ATS). Pendekatan dari rumah ke rumah menjadi langkah untuk memahami kondisi keluarga sekaligus membuka kembali ruang bagi anak untuk melanjutkan pendidikan. (Doc. Pribadi)

Karangpelem, Krajan.id – Persoalan Anak Tidak Sekolah (ATS) menjadi perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim 2 Universitas Diponegoro (Undip) di Desa Karangpelem, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen. Melalui program kerja sosial masyarakat yang berkaitan dengan program BAPPERIDA Sragen, mahasiswa melakukan pendampingan dan sosialisasi secara door to door kepada keluarga yang masuk dalam pendataan ATS.

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada 21 Juli 2026 di Desa Karangpelem. Program ini diarahkan untuk mendukung upaya pemerintah daerah dalam memahami persoalan anak yang tidak melanjutkan pendidikan sekaligus mendorong keluarga agar kembali memperhatikan keberlanjutan pendidikan anak.

Bacaan Lainnya

Ketua KKN Tim 2 Desa Karangpelem, Muhammad Raihan Zaky, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari pengabdian mahasiswa kepada masyarakat, khususnya dalam bidang pendidikan.

“Kami melihat salah satu permasalahan untuk anak remaja di Desa Karangpelem ini merupakan pendidikan sekolah yang terhambat oleh beberapa faktor dari anak dan keluarga. Oleh karena itu, melalui program kerja BAPPERIDA Sragen yaitu Anak Tidak Sekolah (ATS) ini, kami mendampingi warga untuk memberikan motivasi dan gambaran terkait pendidikan berupa sosialisasi melalui pendekatan door to door,” ujarnya saat diwawancarai di sela-sela kegiatan sosialisasi pendampingan.

Menurut Raihan, pendekatan langsung kepada keluarga diperlukan agar mahasiswa dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi anak dan faktor yang menyebabkan mereka tidak bersekolah. Pendampingan juga diharapkan tidak berhenti pada penyampaian informasi, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya mendorong kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan.

Pelaksanaan kegiatan diawali dengan penerimaan data mengenai jumlah Anak Tidak Sekolah di Desa Karangpelem dari BAPPERIDA Sragen. Data tersebut kemudian divalidasi melalui wawancara dengan kepala desa, bayan, serta ketua RT setempat.

Mahasiswa KKN melakukan pendataan dan wawancara secara langsung kepada keluarga yang menjadi sasaran program. Proses tersebut dilakukan untuk memastikan kesesuaian data sekaligus memahami kondisi yang melatarbelakangi anak tidak melanjutkan pendidikan.

Dalam pelaksanaannya, keluarga dan anak mengikuti proses wawancara hingga selesai. Interaksi langsung tersebut menjadi bagian penting dari pendekatan mahasiswa untuk memahami persoalan pendidikan di tingkat keluarga dan lingkungan tempat tinggal.

Mendengar, memahami, dan mendampingi. Mahasiswa KKN Undip berdialog bersama warga Desa Karangpelem untuk menggali kondisi serta persoalan pendidikan dalam program Anak Tidak Sekolah (ATS). Dari percakapan sederhana di rumah, tumbuh kepedulian dan harapan untuk membuka kembali jalan pendidikan bagi generasi muda. (Doc. Pribadi)
Mendengar, memahami, dan mendampingi. Mahasiswa KKN Undip berdialog bersama warga Desa Karangpelem untuk menggali kondisi serta persoalan pendidikan dalam program Anak Tidak Sekolah (ATS). Dari percakapan sederhana di rumah, tumbuh kepedulian dan harapan untuk membuka kembali jalan pendidikan bagi generasi muda. (Doc. Pribadi)

Ketua RT 17 Desa Karangpelem turut mengapresiasi kegiatan pendampingan yang dilakukan mahasiswa KKN Undip. Ia menilai keterlibatan mahasiswa dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama dalam meningkatkan perhatian terhadap persoalan pendidikan.

“Saya sangat berterima kasih atas kehadiran adik-adik mahasiswa KKN di sela-sela kami sebagai bentuk pengabdian kepada Desa Karangpelem. Program ini bermanfaat bagi warga Desa Karangpelem khususnya di bidang pendidikan. Kami berharap apa yang dibawakan dalam Program Kerja ini dapat diterapkan dan dipahami secara seksama di setiap RT/RW di Desa Karangpelem ini,” ujarnya.

Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa penanganan ATS membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, pemerintah desa, keluarga, hingga masyarakat. Kehadiran mahasiswa KKN menjadi salah satu bentuk dukungan melalui edukasi dan pendampingan langsung kepada warga.

Bagi Desa Karangpelem, pendataan dan komunikasi dengan keluarga menjadi langkah awal untuk memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai persoalan anak tidak sekolah. Sementara bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi bagian dari proses pengabdian sekaligus pembelajaran untuk melihat persoalan pendidikan secara langsung di tengah masyarakat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *