Pemuda Desa Berjo Dibekali Keterampilan Pertolongan Pertama Cedera melalui Pelatihan Metode PRICE

Dokumentasi Tim KKN UNS Kelompok 298 bersama Peserta Kegiatan Pelatihan Penanganan Cedera. (Dok. Pribadi/KKN 298 UNS)
Dokumentasi Tim KKN UNS Kelompok 298 bersama Peserta Kegiatan Pelatihan Penanganan Cedera. (Dok. Pribadi/KKN 298 UNS)

Berjo, Krajan.id – Pengetahuan mengenai pertolongan pertama menjadi bekal penting bagi masyarakat yang memiliki aktivitas fisik tinggi. Hal tersebut mendorong Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 298 Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar pelatihan penanganan cedera bagi pemuda Karang Taruna Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Sebanyak 26 pemuda mengikuti kegiatan yang berlangsung di Aula Pertemuan Dusun Gero, Rabu (22/7/2026). Pelatihan tersebut berfokus pada pengenalan cedera olahraga dan cedera akibat aktivitas sehari-hari, serta edukasi mengenai metode PRICE (Protect, Rest, Ice, Compression, Elevation) sebagai bagian dari penanganan awal cedera.

Bacaan Lainnya

Pemilihan pemuda Karang Taruna sebagai peserta didasarkan pada aktivitas masyarakat Desa Berjo yang cukup beragam. Selain rutin mengikuti kegiatan olahraga di tingkat dusun, seperti sepak bola, bola voli, dan senam, sebagian warga juga menjalani pekerjaan yang membutuhkan aktivitas fisik, termasuk bekerja di sawah dan ladang.

Kondisi tersebut menjadi perhatian mahasiswa KKN Kelompok 298 UNS ketika melakukan observasi dan penjajakan kebutuhan masyarakat pada awal masa penempatan. Tim menemukan adanya kebutuhan edukasi mengenai cara mengenali cedera serta langkah pertolongan pertama yang tepat sebelum seseorang memperoleh pemeriksaan lebih lanjut dari tenaga medis.

Berangkat dari Kebutuhan Masyarakat

Cedera seperti keseleo, memar, dan gangguan akibat aktivitas fisik dapat terjadi dalam kegiatan olahraga maupun pekerjaan sehari-hari. Tanpa pengetahuan yang memadai, tindakan pertolongan pertama yang dilakukan secara keliru berpotensi memperburuk kondisi korban.

Atas dasar itu, mahasiswa KKN Kelompok 298 UNS menjadikan edukasi penanganan cedera sebagai salah satu program kerja unggulan selama menjalankan pengabdian di Desa Berjo. Program tersebut dirancang untuk memberikan pemahaman dasar sekaligus pengalaman praktik kepada peserta agar mereka dapat mengenali kondisi cedera dan mengetahui tindakan awal yang sesuai.

Pelatihan tidak hanya membahas teori, tetapi juga mengajak peserta mengikuti demonstrasi teknik penanganan cedera. Rangkaian kegiatan disusun dalam tiga tahap, yaitu edukasi, praktik, dan evaluasi.

Tahap edukasi dilaksanakan melalui ceramah dan diskusi interaktif. Materi yang disampaikan mencakup jenis-jenis cedera, tanda dan gejala cedera akut, serta kondisi yang memerlukan rujukan segera ke fasilitas kesehatan.

Peserta juga diperkenalkan pada metode RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation) yang dikembangkan menjadi PRICE dengan penambahan unsur Protect atau perlindungan terhadap bagian tubuh yang mengalami cedera. Dalam sesi tersebut, mahasiswa dan narasumber menjelaskan teknik penanganan awal yang menjadi materi pelatihan, termasuk pembebatan dan penggunaan kompres dingin.

Tahap berikutnya berupa praktik langsung. Peserta memperoleh kesempatan untuk mengamati demonstrasi serta mempelajari teknik yang diperagakan selama kegiatan. Sementara itu, evaluasi dilakukan melalui pengisian kuesioner pretest dan posttest untuk mengukur perubahan pemahaman peserta sebelum dan setelah pelatihan.

Peserta Dikenalkan pada Batasan Penanganan Cedera

Praktik Teknik Penanganan Cedera oleh Narasumber dan Ketua Tim KKN UNS Kelompok 298. (Dok. Pribadi/KKN 298 UNS)
Praktik Teknik Penanganan Cedera oleh Narasumber dan Ketua Tim KKN UNS Kelompok 298. (Dok. Pribadi/KKN 298 UNS)

Untuk mendukung sesi praktik, panitia menghadirkan Alwan Rifky Santoso, praktisi dari San.Dhayu Massage, Surakarta. Ia memiliki pengalaman menangani cedera di lapangan dan turut memandu materi praktik yang berkaitan dengan teknik pemijatan menggunakan cream massage.

Salah satu materi yang ditekankan dalam kegiatan tersebut adalah pentingnya mengenali jenis cedera sebelum menentukan tindakan. Peserta diberikan pemahaman bahwa tidak semua kondisi cedera dapat ditangani dengan pemijatan secara langsung.

Alwan menjelaskan bahwa pemijatan yang dilakukan tanpa mengenali kondisi cedera dapat menimbulkan risiko, terutama pada cedera tertentu yang membutuhkan pemeriksaan dan penanganan medis.

“Tidak semua cedera boleh langsung dipijat. Ada jenis-jenis cedera tertentu, seperti patah tulang atau cedera dengan pembengkakan hebat, yang justru bisa bertambah parah kalau langsung dipijat. Masyarakat perlu tahu dulu tanda-tandanya sebelum mengambil tindakan,” jelas Alwan.

Ia juga mendorong masyarakat untuk memahami dan mempraktikkan metode PRICE sebagai langkah pertolongan pertama yang aman sesuai kondisi cedera, sembari menunggu penanganan dari tenaga medis.

Melalui penyampaian materi tersebut, pelatihan tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan keterampilan teknis peserta, tetapi juga membangun kesadaran mengenai batasan pertolongan pertama. Pemahaman terhadap tanda-tanda cedera yang membutuhkan pemeriksaan medis menjadi bagian penting agar tindakan yang diberikan tidak menimbulkan risiko tambahan.

Tim KKN Dorong Keberlanjutan Edukasi

Demonstrasi Penanganan Cedera Secara Langsung kepada Salah Satu Peserta dalam Kegiatan Pelatihan KKN Kelompok 298 UNS di Desa Berjo. (Dok. Pribadi/KKN 298 UNS)
Demonstrasi Penanganan Cedera Secara Langsung kepada Salah Satu Peserta dalam Kegiatan Pelatihan KKN Kelompok 298 UNS di Desa Berjo. (Dok. Pribadi/KKN 298 UNS)

Ketua Tim KKN Kelompok 298 UNS, Abdussalal Ridwan, menyampaikan bahwa peserta menunjukkan antusiasme selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Menurut dia, keterlibatan peserta menjadi salah satu hal yang diamati tim selama pelaksanaan program.

“Dari hasil kegiatan tersebut, kami mengamati bahwa peserta begitu antusias dan memperhatikan. Semoga dengan diadakannya kegiatan ini, masyarakat Desa Berjo mampu menangani cedera dengan tepat sesuai standar operasional pertolongan pertama,” ujar Abdussalal.

Apresiasi juga disampaikan Suratno, Ketua Karang Taruna Dusun Gero RT 02/RW 10 yang mewakili peserta kegiatan. Ia menilai pelatihan tersebut memberikan tambahan wawasan dan pengalaman bagi pemuda di wilayahnya.

“Kami mengucapkan terima kasih atas adanya kegiatan ini. Kegiatan ini sangat menambah wawasan dan pengalaman bagi pemuda Karang Taruna di tempat kami. Semoga ilmu yang bermanfaat ini bisa menjadi pengalaman baru dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Tim KKN Kelompok 298 UNS berharap edukasi mengenai penanganan cedera dapat dilanjutkan secara berkala setelah masa pengabdian mahasiswa berakhir. Keberlanjutan program tersebut diharapkan dapat dilakukan melalui pendampingan kader kesehatan desa, kerja sama dengan puskesmas setempat, maupun pengembangan kegiatan serupa di dusun-dusun lain.

Rencana tersebut diarahkan untuk memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan pertolongan pertama, terutama bagi warga yang aktif berolahraga dan melakukan pekerjaan fisik. Dengan adanya edukasi yang berkelanjutan, pemahaman mengenai pengenalan cedera, tindakan awal, serta kebutuhan rujukan medis dapat diperkuat di lingkungan masyarakat Desa Berjo.

Kegiatan pelatihan ini merupakan bagian dari program kerja Tim KKN Kelompok 298 UNS yang beranggotakan Abdussalal Ridwan, Elisa Lintang Nasrani, Marsha Ramadhanti Fatima, Balqis Salma Salsabila, Lina Setyawati, Valentina Reva Kusumadewi, Irsyad Ibadurrahman, Alyssa Chalondra Adimulyo, dan Annisa Waffiq Azizah. Tim berada di bawah bimbingan Dr. Ir. Fakhrina Fahma, S.T.P., M.T.

Dalam pelaksanaan program, tim menyampaikan terima kasih kepada Universitas Sebelas Maret, Pemerintah Desa Berjo, narasumber Alwan Rifky Santoso dari San.Dhayu Massage, serta seluruh warga dan peserta yang telah mendukung dan berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *