Srowolan, Krajan.id – Kegiatan psikoedukasi pengenalan emosi melalui film Inside Out yang dilakukan mahasiswa KKN-PPM 107 Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) di SD Negeri Srowolan, Rabu (12/8/2026), menemukan pengalaman emosional yang lebih dalam dari sekadar mengenalkan emosi dasar kepada siswa.
Keterangan mengenai pelaksanaan dan temuan kegiatan disampaikan enam mahasiswa KKN-PPM 107 UMBY dari Program Studi Psikologi, yakni Aswangga Dewa Putra Pradana, Dilla Salma Alfira, Gini Nurul Fadhila, Y. Kingkin Mayang Chirstya Devi, Muhammad Yurcel Adiatama, dan Nabila Desti Nur Aisah.
Melalui kegiatan bertajuk “Hari Ini Aku Merasa?” dan “Pohon Luapan Emosi”, sejumlah siswa kelas 4 dan 5 mulai berani mengungkapkan perasaan yang sebelumnya belum pernah mereka sampaikan kepada orang lain. Bahkan, dua siswa membutuhkan pendampingan lebih lanjut setelah menuliskan perasaan yang selama ini belum tersampaikan.
Salah seorang siswa kemudian mengatakan kepada mahasiswa KKN, “Ka tau ga, aku baru bisa terbuka dan cerita sama kakak, sebelumnya aku pendam sendiri.” Pernyataan tersebut menjadi salah satu temuan yang paling berkesan bagi mahasiswa selama kegiatan berlangsung.

Suasana interaktif mewarnai kegiatan psikoedukasi KKN-PPM 107 UMBY di SD Negeri Srowolan. Siswa antusias mengikuti kegiatan sambil belajar mengenali dan mengungkapkan emosi mereka. (Doc. Pribadi)
Kegiatan ini dilaksanakan karena mahasiswa menemukan bahwa anak-anak kelas 4 dan 5 masih cukup kesulitan mengenali dan mengekspresikan emosi yang mereka rasakan. Dalam sejumlah situasi, anak belum mampu menyampaikan apakah sedang merasa sedih, marah, takut, atau kecewa serta bagaimana mengungkapkannya dengan tepat.
Temuan tersebut menjadi alasan mahasiswa menjadikan pengenalan emosi sebagai materi psikoedukasi. Menurut keterangan tim mahasiswa KKN-PPM 107 UMBY, anak perlu dibantu agar lebih memahami perasaan sendiri dan belajar mengekspresikannya dengan cara yang lebih positif.
Film Inside Out kemudian dipilih sebagai media penyampaian materi. Mahasiswa menilai film lebih menarik dan mudah diterima anak dibandingkan materi yang hanya disampaikan secara langsung.
Melalui karakter dan cerita dalam film, siswa dapat melihat contoh berbagai emosi dalam situasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Film juga memberikan gambaran bagaimana emosi muncul dan memengaruhi perilaku seseorang.
“Melalui karakter dan cerita di dalam film, anak dapat melihat contoh berbagai emosi dalam situasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari,” demikian keterangan tim mahasiswa KKN-PPM 107 UMBY mengenai alasan pemilihan film tersebut.
Setelah menonton film, siswa mengikuti diskusi singkat mengenai berbagai emosi yang muncul. Mereka kemudian diminta menggambar emoji sesuai dengan perasaan yang sedang dirasakan saat itu.
Respons siswa disebut cukup antusias. Mereka juga relatif mudah menghubungkan emosi yang dialami karakter dalam film dengan perasaan yang pernah mereka alami sendiri. Melalui kegiatan menggambar tersebut, mahasiswa melihat siswa mulai mampu mengenali dan mengungkapkan perasaan melalui gambar serta lebih terbuka membicarakan emosi yang mereka rasakan.
Namun, mahasiswa tidak menemukan satu jenis emosi tertentu yang paling sulit dipahami siswa. Tantangan justru terletak pada kemampuan siswa dalam mengenali dan mengungkapkan perasaan mereka sendiri.
Beberapa siswa masih bingung menentukan emosi yang sesuai dengan perasaan mereka ketika mengikuti kegiatan menggambar emoji. Mereka membutuhkan arahan dari mahasiswa untuk memahami perasaan yang sedang dialami.
Kondisi tersebut terlihat pada kegiatan pertama, “Hari Ini Aku Merasa?”. Siswa diminta menggambar emoticon yang menggambarkan perasaan mereka saat itu dan menuliskan alasan memilih emoticon tersebut.
Pada awalnya, beberapa siswa masih kesulitan menentukan serta menjelaskan emosi yang sedang mereka rasakan. Setelah menyelesaikan gambar dan menuliskan alasannya, tiga siswa diminta maju untuk menceritakan gambar yang dibuat.
Dari proses tersebut, mahasiswa melihat siswa mulai lebih berani mengenali dan mengungkapkan perasaannya.
Rangkaian kemudian dilanjutkan melalui kegiatan “Pohon Luapan Emosi”. Dalam kegiatan ini, siswa diberikan kertas kecil untuk menuliskan emosi atau perasaan yang belum tersampaikan. Perasaan tersebut dapat berasal dari kondisi yang sedang mereka alami maupun pengalaman masa lalu.
Respons siswa beragam. Ada siswa yang menuliskan perasaannya dengan antusias. Namun, ada pula yang menangis ketika menuliskan perasaan yang selama ini belum sempat disampaikan.
Tulisan tersebut kemudian ditempelkan pada “Pohon Luapan Emosi” sebagai simbol bahwa perasaan yang sebelumnya dipendam mulai berani diungkapkan. Mahasiswa menilai kedua kegiatan tersebut membuat siswa lebih terbuka dan berani mengenali serta menyampaikan perasaan mereka.
Temuan itu kemudian berlanjut pada proses pendampingan. Dua siswa membutuhkan pendampingan lebih setelah menuliskan perasaannya. Keduanya kemudian didampingi mahasiswa KKN di luar kelas agar dapat berbicara dengan lebih tenang.
Dalam proses tersebut, salah seorang siswa menyampaikan bahwa dirinya baru dapat terbuka dan bercerita kepada mahasiswa, sementara sebelumnya perasaan tersebut dipendam sendiri. Mahasiswa kemudian memberikan ruang kepada siswa untuk bercerita serta memberikan arahan sesuai situasi yang disampaikan.
Bagi mahasiswa KKN, pengalaman itu menjadi temuan yang tidak diperkirakan sebelumnya. Kegiatan yang semula dirancang untuk mengenalkan emosi melalui film ternyata juga memberikan ruang kepada siswa untuk mengungkapkan perasaan yang belum pernah disampaikan kepada orang lain.
Mahasiswa menilai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa setiap anak memiliki cara dan kesiapan berbeda dalam mengenali serta mengungkapkan emosi. Karena itu, pendampingan menjadi bagian penting dalam proses kegiatan.
Suasana yang nyaman juga menjadi faktor yang diperhatikan mahasiswa. Pada awal kegiatan, siswa masih terlihat canggung dan malu-malu ketika berinteraksi dengan mahasiswa KKN. Untuk mencairkan suasana, mahasiswa kemudian berbaur dan duduk bersama siswa selama kegiatan.
Perlahan, siswa menjadi lebih santai dan aktif berinteraksi. Mahasiswa melihat siswa lebih menikmati kegiatan setelah suasana mulai mencair.
Pihak SD Negeri Srowolan sendiri disebut terbuka dan mendukung kegiatan tersebut. Sebelum kegiatan berlangsung, mahasiswa berdiskusi dengan kepala sekolah mengenai program kerja yang akan dilakukan. Saat kegiatan dimulai, guru turut mendampingi siswa sebelum kemudian memberikan kesempatan kepada mahasiswa KKN melanjutkan kegiatan bersama siswa di kelas.
Setelah kegiatan, perubahan yang terlihat terutama berkaitan dengan pengenalan emosi dan keberanian siswa mengungkapkan perasaan. Pada awal kegiatan, beberapa siswa masih membutuhkan pendampingan untuk menentukan dan menjelaskan emosi yang dirasakan.
Setelah mengikuti diskusi serta kegiatan “Hari Ini Aku Merasa?” dan “Pohon Luapan Emosi”, siswa mulai lebih terbuka menyampaikan perasaannya. Meski demikian, mahasiswa menegaskan bahwa hasil kegiatan tersebut belum dapat menggambarkan perubahan perilaku siswa dalam jangka panjang.
Mahasiswa berharap siswa dapat lebih mengenali emosi yang mereka rasakan, baik marah, sedih, takut, senang maupun emosi lainnya. Mereka juga diharapkan tidak menganggap emosi sebagai sesuatu yang harus selalu dipendam atau disembunyikan.
Menurut mahasiswa, setiap emosi merupakan hal yang wajar untuk dirasakan. Namun, emosi tetap perlu dikelola agar tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Kegiatan tersebut pada akhirnya memperlihatkan bahwa pengenalan emosi kepada anak tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menyebutkan nama emosi. Ketika diberikan media yang mudah dipahami, ruang untuk mengekspresikan perasaan, serta pendampingan yang membuat mereka merasa nyaman, sebagian siswa mulai berani mengungkapkan pengalaman emosionalnya.
Bagi KKN-PPM 107 UMBY, kegiatan tersebut diharapkan menjadi langkah sederhana untuk membantu siswa memahami dirinya sendiri. Mahasiswa juga berharap kemampuan mengenali perasaan dapat menjadi bagian dari proses siswa dalam memahami diri dan berinteraksi dengan orang lain.
KKN-PPM 107 UMBY yang terlibat dalam kegiatan tersebut terdiri atas Adrian Pascal Sebayang dari Program Studi Agroteknologi; Daffa Nauvan Pramudya dari Sistem Informasi; Dila Shinta Dewi dan Elsa Ermayani dari Manajemen; serta Nabila Desti Nur Aisah, Dilla Salma Alfira, Gini Nurul Fadhila, Y. Kingkin Mayang Chirstya Devi, Muhammad Yurcel Adiatama, dan Aswangga Dewa Putra Pradana dari Psikologi. Kegiatan tersebut didampingi Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Dr. Ir. Putri Taqwa Prasetyanigrum, S.T., M.T., M.CE., M.CF.





