KKN-PPM 18 UMBY Ajak Anak Dusun Bono Menumbuhkan Mimpi melalui Pohon Harapan

Mahasiswa KKN-PPM UMBY Kelompok 18 bersama anak-anak Dusun Bono berfoto bersama setelah mengikuti kegiatan psikoedukasi “Pohon Harapan”. Kegiatan ini menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengenali harapan, cita-cita, dan keinginan mereka melalui aktivitas yang menyenangkan dan interaktif. Melalui setiap harapan yang dituliskan dan digantung pada pohon, anak-anak diajak untuk berani bermimpi serta percaya bahwa setiap harapan dapat menjadi langkah awal untuk meraih cita-cita. ( Doc. Pribadi)
Mahasiswa KKN-PPM UMBY Kelompok 18 bersama anak-anak Dusun Bono berfoto bersama setelah mengikuti kegiatan psikoedukasi “Pohon Harapan”. Kegiatan ini menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengenali harapan, cita-cita, dan keinginan mereka melalui aktivitas yang menyenangkan dan interaktif. Melalui setiap harapan yang dituliskan dan digantung pada pohon, anak-anak diajak untuk berani bermimpi serta percaya bahwa setiap harapan dapat menjadi langkah awal untuk meraih cita-cita. ( Doc. Pribadi)

Kajangkoso, Krajan.id – Mahasiswa KKN-PPM 18 Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) menggelar psikoedukasi pengembangan diri dan motivasi anak melalui program “Pohon Harapan: Tumbuhkan Mimpi, Wujudkan Cita-Cita” di Dusun Bono, Desa Kajangkoso, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Senin (11/8/2026). Kegiatan tersebut dirancang untuk membantu anak-anak mengenali cita-cita, membangun kepercayaan diri, serta memahami bahwa kesulitan dan kegagalan merupakan bagian dari proses belajar.

Kegiatan yang berlangsung pukul 16.30-17.30 WIB itu menggunakan pendekatan interaktif dengan permainan, storytelling, diskusi, hingga aktivitas kreatif. Anak-anak tidak hanya diajak membicarakan cita-cita, tetapi juga menentukan langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mendukung harapan mereka.

Bacaan Lainnya

Program tersebut dilaksanakan oleh kelompok KKN-PPM 18 UMBY di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Astri Fatwasari, M.Psi., Psikolog. Anggota kelompok yang terlibat dalam kegiatan ini yakni Victorianus Febrini Yeremi Ndona Peco, Dewa Ayu Sri Natalia Wulandari, Novita R. Laode Mido, Chika Elenna Putri, Renada Eliza, Durrotun Nafisah, Nabila Cahaya Ramadhani Puteri, Desy Amilda Fitriyani, Kalvin Philipus Fasse, dan Wahyudi Syaputra.

Ketua kelompok, Renada Eliza, mengatakan program tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan menuliskan cita-cita. Ia berharap anak-anak dapat memiliki motivasi belajar yang lebih kuat sekaligus keberanian untuk mengejar apa yang mereka inginkan.

“Harapan saya untuk program kerja Pohon Harapan ini tentunya, semoga setelah kegiatan ini anak-anak bisa lebih termotivasi untuk belajar dengan lebih giat dan tidak mudah menyerah dalam mencapai cita-citanya. Karena anak-anak di sini juga sering merasa malu dan kurang percaya diri, saya berharap mereka bisa lebih percaya diri lagi untuk meraih apa yang mereka inginkan di masa depan,” ujar Renada.

Konsep Pohon Harapan menjadi media utama dalam kegiatan tersebut. Anak-anak diminta menuliskan atau menggambarkan cita-cita maupun harapan mereka pada kertas berbentuk daun. Daun tersebut kemudian digantungkan pada pohon yang telah disiapkan.

Bagi anak yang belum lancar menulis, harapan dapat dituangkan dalam bentuk gambar atau dengan bantuan pendamping. Cara tersebut digunakan agar setiap anak tetap dapat mengekspresikan keinginan dan cita-citanya.

Penanggung jawab kegiatan, Desy Amilda Fitriyani, mengatakan program tersebut memberikan pengenalan mengenai berbagai pilihan cita-cita sekaligus diarahkan untuk membangun motivasi anak.

“Untuk dampaknya sendiri, yang pertama, anak-anak menjadi lebih mengenal berbagai macam cita-cita yang kami perkenalkan melalui games. Kemudian, kegiatan ini juga diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar anak-anak. Selain itu, kami berharap kegiatan ini dapat mendorong mereka untuk memiliki cita-cita yang lebih tinggi dan semakin percaya diri dalam mengejar apa yang mereka inginkan di masa depan,” kata Desy.

Mahasiswa KKN-PPM UMBY Kelompok 18 bersama anak-anak Dusun Bono berdiskusi dan membuat Pohon Harapan. Anak-anak diajak menyampaikan keinginan serta cita-cita mereka melalui daun-daun yang nantinya menjadi bagian dari pohon harapan.(Doc.Pribadi)
Mahasiswa KKN-PPM UMBY Kelompok 18 bersama anak-anak Dusun Bono berdiskusi dan membuat Pohon Harapan. Anak-anak diajak menyampaikan keinginan serta cita-cita mereka melalui daun-daun yang nantinya menjadi bagian dari pohon harapan.(Doc.Pribadi)

Rangkaian kegiatan diawali dengan konsep “Misi Pohon Harapan”. Anak-anak diperkenalkan pada sebuah pohon yang masih kosong. Dalam alur kegiatan, moderator menemukan sebuah surat dari Pohon Harapan yang berisi misi bagi anak-anak.

Anak-anak kemudian diajak menjadi “Pemburu Mimpi” yang harus menyelesaikan sejumlah tantangan agar Pohon Harapan dapat tumbuh kembali. Konsep tersebut menjadi penghubung dari satu kegiatan ke kegiatan berikutnya.

Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan ice breaking bertajuk “Mengenal Mimpi”. Anak-anak mengikuti permainan yang berkaitan dengan cita-cita dan profesi. Melalui permainan tersebut, mereka diperkenalkan pada berbagai pilihan cita-cita sekaligus diajak mulai memikirkan harapan masing-masing.

Materi kemudian disampaikan melalui storytelling berjudul “Nopnop dan Pohon Harapan” dengan menggunakan boneka tangan. Cerita tersebut mengangkat tokoh Nopnop yang kehilangan semangat belajar dan mulai merasa dirinya tidak pintar ketika menghadapi kesulitan.

Dalam cerita, Nopnop berinteraksi dengan Bombom dan Pohon Harapan hingga memahami bahwa ketidakmampuan melakukan sesuatu saat ini bukan berarti dirinya tidak akan pernah mampu. Anak-anak kemudian diperkenalkan pada gagasan “Aku belum bisa” sebagai pola pikir untuk terus belajar dan mencoba.

Pesan dalam cerita juga diarahkan pada kemampuan anak menghadapi kesulitan. Anak-anak diajak memahami pentingnya meminta bantuan ketika mengalami kesulitan, beristirahat ketika lelah, kemudian mencoba kembali setelah mengalami kegagalan.

Setelah storytelling, mahasiswa KKN mengajak anak-anak berdiskusi mengenai persoalan yang dialami Nopnop. Diskusi kemudian dikaitkan dengan pengalaman anak-anak sendiri, termasuk mengenai cita-cita dan langkah yang dapat dilakukan untuk mencapainya.

Pada sesi psikoedukasi, anak-anak mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya mengenali kelebihan diri dan meyakini bahwa kemampuan dapat berkembang melalui proses belajar. Mereka juga diajak memahami bahwa cita-cita membutuhkan usaha dan tidak cukup hanya dibayangkan.

Antusiasme nak-anak Dusun Bono sedang menghias Pohon Harapan dengan menggantung daun berisi harapan dan cita-cita mereka. ( Doc.Pribadi)
Antusiasme nak-anak Dusun Bono sedang menghias Pohon Harapan dengan menggantung daun berisi harapan dan cita-cita mereka. ( Doc.Pribadi)

Langkah sederhana menjadi salah satu pesan penting dalam kegiatan tersebut. Anak yang bercita-cita menjadi dokter, misalnya, dapat memulainya dengan rajin belajar. Anak yang ingin menjadi atlet dapat mulai dengan berlatih. Sementara itu, anak yang ingin menjadi guru dapat membangun kebiasaan membaca dan berani berbicara.

Pendekatan tersebut membuat aktivitas Pohon Harapan tidak sekadar menjadi kegiatan simbolis. Setelah menuliskan cita-cita, anak-anak diminta menentukan satu langkah kecil yang dapat dilakukan untuk mendekati harapan tersebut.

Daun-daun berisi harapan kemudian digantungkan pada Pohon Harapan. Aktivitas itu menjadi simbol bahwa setiap anak memiliki mimpi yang berharga dan memiliki ruang untuk berharap terhadap masa depannya.

Salah satu peserta, Najwa Sabila Karomah, 12 tahun, menilai kegiatan tersebut memberikan pengalaman yang menyenangkan sekaligus bermanfaat.

“Menurut saya, kegiatan psikoedukasi Pohon Harapan kemarin seru dan banyak manfaatnya. Dari kegiatan ini, saya jadi lebih mengenal cita-cita, lebih termotivasi untuk belajar, dan belajar untuk tidak mudah menyerah dalam menggapai cita-cita,” ujar Najwa.

Kegiatan kemudian ditutup dengan refleksi. Anak-anak diajak mengingat kembali pesan yang diperoleh selama kegiatan dan menentukan satu komitmen sederhana yang dapat dilakukan untuk mendukung cita-cita mereka.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN-PPM 18 UMBY menempatkan pengembangan diri sebagai bagian dari proses anak mengenali masa depannya. Pesan yang dibangun bukan sekadar tentang berani bermimpi, tetapi juga memahami bahwa harapan perlu diikuti usaha, proses belajar, keberanian meminta bantuan, dan kemauan untuk mencoba kembali ketika menghadapi kegagalan.

Kegiatan ditutup dengan seruan bersama, “Pohon Harapan!” dan “Tumbuhkan Mimpi, Wujudkan Cita-Cita!”

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *