KKN Undip Dorong Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di Desa Karangpelem

Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro bersama warga dan Pemerintah Desa Karangpelem berfoto bersama di lokasi rocket stove sebagai bagian dari program edukasi pengelolaan sampah terintegrasi dan berkelanjutan di Desa Karangpelem, Sragen. (Doc. Pribadi)
Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro bersama warga dan Pemerintah Desa Karangpelem berfoto bersama di lokasi rocket stove sebagai bagian dari program edukasi pengelolaan sampah terintegrasi dan berkelanjutan di Desa Karangpelem, Sragen. (Doc. Pribadi)

Karangpelem, Krajan.id – Persoalan sampah rumah tangga dan dedaunan kering menjadi perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim 2 Universitas Diponegoro (Undip) di Desa Karangpelem, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.

Melalui program kerja multidisiplin bertajuk Pengelolaan Sampah Terintegrasi untuk Masa Depan Berkelanjutan, mahasiswa KKN berupaya mengenalkan alternatif pengelolaan sampah kepada masyarakat. Program tersebut dilaksanakan di area Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Karangpelem pada 29-31 Juli 2026.

Bacaan Lainnya

Program ini berangkat dari persoalan pengelolaan sampah yang masih dilakukan secara sederhana oleh sebagian warga. Sampah dedaunan kering dan limbah rumah tangga, berdasarkan hasil pengamatan mahasiswa, kerap dibakar di pekarangan rumah.

Kebiasaan tersebut tidak hanya berdampak terhadap kebersihan dan estetika lingkungan, tetapi juga berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan akibat asap pembakaran. Kondisi itu kemudian menjadi dasar bagi mahasiswa KKN untuk menghadirkan edukasi sekaligus pendampingan mengenai pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi.

Salah satu pendekatan yang diperkenalkan dalam program tersebut adalah penggunaan rocket stove, yakni tungku pembakaran yang dirancang untuk meminimalkan asap selama proses pembakaran. Mahasiswa tidak hanya memperkenalkan bentuk tungku, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai rancangan, material, penggunaan, perawatan, dan keselamatan kerja.

Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro menjelaskan penggunaan rocket stove sebagai alternatif pengelolaan sampah kepada warga Desa Karangpelem, Sragen. Inovasi ini diperkenalkan untuk mendorong pengelolaan sampah yang lebih terarah dan berkelanjutan. (Doc. Pribadi)
Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro menjelaskan penggunaan rocket stove sebagai alternatif pengelolaan sampah kepada warga Desa Karangpelem, Sragen. Inovasi ini diperkenalkan untuk mendorong pengelolaan sampah yang lebih terarah dan berkelanjutan. (Doc. Pribadi)

Ketua KKN Kelompok Desa Karangpelem, Muhammad Raihan Zaky, mengatakan program tersebut dirancang agar tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang bagi masyarakat.

“Kami melihat permasalahan utama di Desa Karangpelem ini merupakan pengelolaan sampah yang kurang bijak dan memicu dampak bagi kesehatan bagi warga Desa Karangpelem. Oleh karena itu, melalui program kerja Pengelolaan Sampah Terintegrasi untuk Masa Depan Berkelanjutan, kami mendampingi warga untuk mengelola sampah dedaunan kering dan sampah limbah rumah tangga dengan menggunakan rocket stove yaitu tungku pembakaran sampah yang ramah lingkungan dikarenakan dapat meminimalisir asap pembakaran,” ujar Muhammad Raihan Zaky saat diwawancarai di sela-sela kegiatan sosialisasi pendampingan.

Tidak hanya mengenalkan alat

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKN tidak sekadar memperkenalkan rocket stove sebagai perangkat pengelolaan sampah. Kegiatan juga disusun untuk memberikan gambaran kepada warga mengenai tahapan pembuatan dan penggunaannya.

Materi yang diberikan dimulai dari informasi mengenai lokasi pemanfaatan hingga ukuran lahan yang dibutuhkan. Mahasiswa kemudian memaparkan rancangan anggaran biaya untuk kebutuhan material serta proses pembuatan tungku.

Setelah penjelasan mengenai rancangan, warga mendapatkan demonstrasi melalui video mengenai cara penggunaan rocket stove. Materi tersebut menjadi bagian penting dalam kegiatan karena warga tidak hanya melihat bentuk alat, tetapi juga memperoleh gambaran mengenai penggunaannya.

Mahasiswa juga membagikan modul pemodelan rocket stove kepada warga Desa Karangpelem. Modul tersebut memuat sejumlah informasi teknis, mulai dari konsep rocket stove, komponen material, bentuk pemodelan tiga dimensi, cara penggunaan, perawatan, hingga keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

Pendekatan tersebut diharapkan membuat pengetahuan yang diperoleh warga tidak berhenti ketika kegiatan KKN selesai. Modul dapat digunakan kembali sebagai bahan rujukan ketika masyarakat ingin memahami atau menerapkan rancangan yang diperkenalkan mahasiswa.

Warga Desa Karangpelem terlihat antusias mengikuti rangkaian kegiatan. Antusiasme tersebut terlihat sejak kegiatan dimulai hingga sesi akhir sosialisasi dan pendampingan.

Bagi mahasiswa, keterlibatan warga menjadi bagian penting dari program karena perubahan pola pengelolaan sampah membutuhkan kebiasaan yang dilakukan secara konsisten. Edukasi menjadi langkah awal untuk mendorong masyarakat memahami persoalan sampah sekaligus mengenali alternatif pengelolaannya.

Diharapkan diterapkan di tingkat RT/RW

Dukungan terhadap program tersebut juga disampaikan Pemerintah Desa Karangpelem. Sekretaris Desa Karangpelem, Jaka Santosa, mengapresiasi gagasan yang dibawa mahasiswa KKN Undip.

“Kami sangat berterima kasih atas kehadiran adik-adik mahasiswa KKN. Program ini bermanfaat bagi warga Desa Karangpelem untuk Pengelolaan Sampah Terintegrasi untuk Masa Depan Berkelanjutan. Kami berharap apa yang dibawakan dalam Program Kerja ini dapat diterapkan secara berkelanjutan di setiap RT/RW di Desa Karangpelem ini,” kata Jaka Santosa.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa program mahasiswa tidak hanya dipandang sebagai kegiatan pendampingan selama masa KKN. Pemerintah desa berharap gagasan pengelolaan sampah yang diperkenalkan dapat dikembangkan lebih luas dan diterapkan secara berkelanjutan di lingkungan masyarakat.

Jika diterapkan secara konsisten, edukasi pengelolaan sampah dapat menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan baru di tingkat rumah tangga. Terlebih, persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan kebersihan lingkungan, tetapi juga berhubungan dengan kenyamanan dan kesehatan masyarakat.

Program KKN tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana mahasiswa dapat mengambil peran dalam merespons persoalan yang ditemukan di lingkungan desa. Pendekatan multidisiplin yang digunakan menggabungkan edukasi, perancangan teknis, demonstrasi, serta penyediaan modul agar masyarakat memperoleh pengetahuan yang lebih utuh.

Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama antara mahasiswa KKN dan pihak terkait. Mahasiswa juga menyerahkan sertifikat kepada Pemerintah Desa Karangpelem sebagai bagian dari penutupan rangkaian kegiatan.

Melalui program Pengelolaan Sampah Terintegrasi untuk Masa Depan Berkelanjutan, mahasiswa KKN Undip berharap pengetahuan mengenai pengelolaan sampah dapat terus dimanfaatkan masyarakat setelah program berakhir. Keberlanjutan program selanjutnya bergantung pada penerapan dan pengembangan di tingkat warga serta dukungan pemerintah desa.

foto bersama, penyerahan sertifikat kepada pihak pemerintah desa. (Doc. Pribadi)
foto bersama, penyerahan sertifikat kepada pihak pemerintah desa. (Doc. Pribadi)

Dengan demikian, persoalan sampah di Desa Karangpelem tidak hanya ditempatkan sebagai persoalan teknis mengenai pembuangan atau pembakaran. Edukasi dan keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting untuk membangun pola pengelolaan sampah yang lebih terarah dan berkelanjutan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *