Mahasiswa KKN UNS Hadirkan Sistem Prediksi Panen dan Teknologi Pengering untuk Petani Kopi Nglurah

Tangkapan layar tampilan website SIMPRO (Simulasi Produksi) yang digunakan untuk menghitung estimasi jadwal dan durasi produksi kopi secara otomatis. (doc. pribadi)
Tangkapan layar tampilan website SIMPRO (Simulasi Produksi) yang digunakan untuk menghitung estimasi jadwal dan durasi produksi kopi secara otomatis. (doc. pribadi)

Nglurah, Krajan.id – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 41 Universitas Sebelas Maret (UNS) menghadirkan dua inovasi untuk mendukung peningkatan produktivitas dan kualitas kopi di Desa Nglurah, Kelurahan Tawangmangu, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Inovasi tersebut berupa sistem simulasi produksi berbasis digital dan alat pengering kopi hybrid modular.

Desa Nglurah dikenal sebagai salah satu sentra kopi lereng Gunung Lawu dengan komoditas utama Arabika dan Robusta. Aktivitas produksi dikelola oleh tiga kelompok tani, yakni Kopi Ngancar, Kopi Omah Lawu, dan Kopi Wangsul. Namun, dalam praktiknya, para petani masih menghadapi kendala pada tahap pascapanen, khususnya proses pengeringan biji kopi.

Bacaan Lainnya

Tingginya curah hujan dan cuaca yang tidak menentu di kawasan dataran tinggi membuat metode penjemuran manual kerap tidak optimal. Akibatnya, biji kopi berisiko mengalami pengeringan tidak merata, bahkan berjamur karena kelembapan yang tinggi.

Menjawab persoalan tersebut, mahasiswa KKN UNS mengembangkan SIMPRO (Simulasi Produksi), sebuah sistem berbasis web yang dirancang untuk membantu petani merencanakan alur produksi secara lebih terstruktur. Program ini disosialisasikan kepada petani kopi pada 15 Februari 2026.

SIMPRO dapat diakses melalui telepon pintar maupun komputer jinjing. Melalui sistem ini, pengguna dapat memasukkan sejumlah variabel produksi, seperti jumlah bahan baku, tahapan proses, hingga metode pengeringan yang digunakan. Selanjutnya, sistem akan menghitung estimasi waktu setiap tahapan produksi menggunakan pendekatan matematis aljabar max-plus.

Dengan fitur tersebut, petani dapat memperoleh gambaran durasi produksi secara lebih akurat. Selain itu, SIMPRO juga menyajikan skema alur kerja dan perbandingan waktu berdasarkan metode pengolahan yang dipilih.

Kelompok KKN 41 UNS menjelaskan, sistem ini dirancang sederhana agar mudah digunakan oleh petani.

“Kami ingin menghadirkan alat bantu yang praktis. Petani cukup memasukkan data, lalu sistem akan memberikan estimasi waktu produksi secara otomatis,” tulis dalam keterangan yang diberikan.

Mahasiswa KKN Universitas Sebelas Maret Kelompok 41 memaparkan mekanisme kerja alat pengering kopi hybrid modular saat kegiatan sosialisasi dan demonstrasi kepada kelompok tani di Desa Nglurah, Jumat (30/1/2026). (doc. pribadi)
Mahasiswa KKN Universitas Sebelas Maret Kelompok 41 memaparkan mekanisme kerja alat pengering kopi hybrid modular saat kegiatan sosialisasi dan demonstrasi kepada kelompok tani di Desa Nglurah, Jumat (30/1/2026). (doc. pribadi)

Meski masih dalam tahap pengembangan, SIMPRO dinilai mampu menjadi solusi awal dalam membantu petani menghadapi ketidakpastian cuaca, terutama dalam menentukan waktu panen dan pengolahan.

Selain inovasi digital, mahasiswa KKN juga membangun alat pengering kopi hybrid modular yang telah didemonstrasikan kepada warga pada 30 Januari 2026. Alat ini mengombinasikan energi panas matahari dengan sumber panas buatan berupa lampu dalam satu ruang pengering tertutup.

Bagian dalam alat dilapisi aluminium foil yang berfungsi memantulkan panas agar suhu lebih stabil dan merata. Sistem ini juga dilengkapi exhaust fan untuk mengatur sirkulasi udara, sehingga kelembapan dapat dikendalikan selama proses pengeringan berlangsung.

Desain modular menjadi keunggulan lain dari alat ini. Petani dapat menyesuaikan kapasitas pengeringan sesuai kebutuhan produksi, tanpa harus mengganti keseluruhan perangkat.

Ketua Kelompok Tani Omah Kopi Lawu, Giyanto, menyambut baik inovasi tersebut. Ia mengungkapkan bahwa sebelumnya kelompok tani telah memiliki alat pengering serupa, namun belum dilengkapi sistem sirkulasi udara yang memadai.

“Dulu kami punya alat yang mirip, tapi tidak ada pembuangan udara. Panasnya menumpuk di satu sisi. Ada biji yang gosong, tapi ada juga yang masih basah bahkan berjamur,” kata Giyanto.

Menurut dia, penambahan exhaust fan menjadi pembaruan penting karena membantu distribusi panas lebih merata. Dengan demikian, kualitas biji kopi dapat lebih terjaga dan risiko kerusakan dapat ditekan.

Melalui kombinasi inovasi digital dan teknologi tepat guna ini, mahasiswa KKN UNS berupaya menghadirkan solusi yang aplikatif bagi petani kopi di Desa Nglurah. SIMPRO berperan dalam membantu perencanaan produksi berbasis data, sementara alat pengering hybrid mendukung proses pascapanen agar lebih efisien dan konsisten.

Upaya ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas hasil panen, tetapi juga memperkuat daya saing kopi lokal di tengah tantangan perubahan cuaca yang semakin tidak menentu.

Simak berita terbaru kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Krajan.id WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029VaAD5sdDOQIbeQkBct03 Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *