RW 7 Wonokromo Berbenah, Warga Kelola Sampah dari Rumah hingga Lingkungan Jadi Lebih Bersih

Surabaya, Krajan.id – Kawasan padat penduduk di RW 7 Wonokromo, Surabaya, yang dulu dikenal sebagai lingkungan kumuh dan kotor, kini berubah menjadi kampung dengan pengelolaan sampah mandiri berbasis rumah tangga. Perubahan tersebut lahir dari kesadaran kolektif warga yang perlahan membangun kebiasaan baru dalam mengelola sampah dari sumbernya.

Beberapa tahun lalu, persoalan sampah menjadi tantangan utama di wilayah tersebut. Tumpukan sampah di sudut gang, saluran air tersumbat, hingga kebiasaan membuang sampah sembarangan menjadi pemandangan sehari-hari. Kondisi itu membuat lingkungan terlihat semrawut dan kurang sehat.

Bacaan Lainnya

Namun, situasi perlahan berubah ketika warga mulai menerapkan kebiasaan memilah sampah langsung dari rumah masing-masing. Sampah organik dan anorganik dipisahkan sebelum dikumpulkan dan dikelola di tingkat lingkungan.

Transformasi itu tidak terjadi secara instan. Di balik perubahan RW 7 Wonokromo terdapat peran aktif pengurus lingkungan yang terus mendorong kesadaran warga melalui pendekatan persuasif dan konsisten.

“Saya tidak langsung memaksa warga. Saya mulai dari diri sendiri dulu, dari keluarga saya, dari rumah saya. Ketika tetangga melihat ada manfaatnya, barulah mereka tertarik ikut,” ujar Ketua RW 7 Wonokromo saat ditemui Surabaya Hijau di kediamannya.

Pendekatan sederhana tersebut terbukti efektif. Warga mulai tertarik mengikuti pola pengelolaan sampah yang diterapkan di lingkungan sekitar. Pertemuan rutin RT dan RW kemudian dimanfaatkan sebagai ruang edukasi mengenai pentingnya pemilahan sampah dan kebersihan lingkungan.

Seorang warga RW 7 Wonokromo menunjukkan proses pengolahan sampah organik rumah tangga menggunakan metode galon kura di lingkungan permukiman Surabaya, beberapa waktu lalu.(doc. pribadi)
Seorang warga RW 7 Wonokromo menunjukkan proses pengolahan sampah organik rumah tangga menggunakan metode galon kura di lingkungan permukiman Surabaya, beberapa waktu lalu.(doc. pribadi)

Perlahan, kesadaran kolektif tumbuh di tengah masyarakat. Kini, hampir setiap rumah tangga di RW 7 telah menerapkan sistem pemilahan sampah secara mandiri.

Program pengelolaan sampah rumah tangga di RW 7 Wonokromo dilakukan dengan memisahkan sampah menjadi dua kategori utama, yakni sampah organik dan anorganik. Sampah organik diolah menjadi kompos menggunakan metode galon kura, sedangkan sampah anorganik dipilah kembali sebelum dijual ke bank sampah maupun pelapak daur ulang.

Selain itu, pengurus RW juga membentuk bank sampah tingkat lingkungan sebagai pusat pengumpulan sampah anorganik warga. Melalui sistem tersebut, warga yang menyetorkan sampah terpilah memperoleh poin yang dapat ditukarkan dengan kebutuhan pokok.

Skema itu tidak hanya membantu mengurangi volume sampah rumah tangga, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Warga menjadi lebih disiplin memilah sampah karena merasakan dampak langsung dari program tersebut.

Upaya kolektif warga RW 7 Wonokromo juga berdampak signifikan terhadap penurunan timbulan sampah harian. Berdasarkan data lingkungan setempat, setiap rumah tangga kini menghasilkan kurang dari satu kilogram sampah per hari.

Seorang warga RW 7 Wonokromo memilah sampah organik rumah tangga ke dalam wadah pengolahan kompos di lingkungan permukiman Surabaya, beberapa waktu lalu. (doc. pribadi)
Seorang warga RW 7 Wonokromo memilah sampah organik rumah tangga ke dalam wadah pengolahan kompos di lingkungan permukiman Surabaya, beberapa waktu lalu. (doc. pribadi)

Sampah organik yang sebelumnya mendominasi volume buangan kini sebagian besar telah diolah menjadi kompos yang dapat dimanfaatkan kembali. Kondisi lingkungan pun berubah drastis dibanding beberapa tahun sebelumnya.

Keberhasilan tersebut tidak lepas dari keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat. Pengurus RT/RW, kelompok warga, ibu rumah tangga, hingga anak-anak terlibat dalam berbagai kegiatan edukasi dan kebersihan lingkungan.

Kegiatan kerja bakti rutin, sosialisasi pemilahan sampah, hingga pembiasaan hidup bersih menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan program. Kesadaran warga terhadap pentingnya lingkungan sehat juga terus meningkat.

Kini, wajah RW 7 Wonokromo terlihat jauh lebih tertata. Gang-gang permukiman tampak bersih, saluran air lebih terawat, dan area lingkungan menjadi lebih nyaman bagi warga.

Perubahan tersebut menjadi bukti bahwa persoalan sampah tidak hanya bergantung pada penanganan pemerintah, melainkan juga dapat diselesaikan melalui gotong royong masyarakat dan perubahan kebiasaan sehari-hari.

Transformasi RW 7 Wonokromo menunjukkan bahwa langkah sederhana seperti memilah sampah dari rumah dapat membawa dampak besar bagi kualitas lingkungan. Apa yang dilakukan warga setempat menjadi contoh bahwa kepedulian terhadap kebersihan dapat tumbuh dari kesadaran bersama dan diwujudkan melalui tindakan nyata.

Simak berita terbaru kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Krajan.id WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029VaAD5sdDOQIbeQkBct03 Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *