Matrix Revolution, Riset Tools Matriks Bisnis untuk Bantu UMKM Yogyakarta Susun Strategi Usaha

Sesi dokumentasi pemateri bersama peserta pelatihan dan pendampingan Tools Matriks Bisnis bagi pelaku UMKM yang tergabung dalam Karang Mitra Usaha (KaMU) di Kota Yogyakarta.
Sesi dokumentasi pemateri bersama peserta pelatihan dan pendampingan Tools Matriks Bisnis bagi pelaku UMKM yang tergabung dalam Karang Mitra Usaha (KaMU) di Kota Yogyakarta.

Yogyakarta, Krajan.id – Banyak pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki produk yang kompetitif, tetapi belum didukung perencanaan bisnis yang terstruktur. Berangkat dari kondisi tersebut, tim peneliti UPN “Veteran” Yogyakarta mengembangkan Tools Matriks Bisnis, sebuah instrumen visual yang dirancang untuk membantu pelaku usaha memetakan kondisi bisnis sekaligus menyusun strategi pengembangan secara lebih sistematis.

Inovasi tersebut lahir melalui penelitian bertajuk “Matrix Revolution: Transformasi Inovasi UMKM dengan Visualisasi Bisnis Penelitian Mixed Methods ‘Tools Matriks Bisnis’ sebagai Instrumen Penunjang dan Pedoman Strategi Bisnis pada UMKM di Kota Yogyakarta”. Penelitian dilaksanakan selama April hingga November 2024 dengan melibatkan sekitar 400 pelaku UMKM yang tergabung dalam Karang Mitra Usaha (KaMU) binaan Dinas Perindustrian Koperasi UKM Kota Yogyakarta.

Bacaan Lainnya

Tidak sekadar melakukan pengumpulan data, penelitian ini juga dikemas dalam bentuk pelatihan dan pendampingan. Para peserta diperkenalkan pada konsep penyusunan strategi bisnis melalui pendekatan visual yang lebih sederhana sehingga mudah diterapkan dalam aktivitas usaha sehari-hari.

Melalui metode tersebut, pelaku UMKM diajak memetakan berbagai aspek penting usahanya, mulai dari produk yang ditawarkan, segmentasi pasar, karakteristik pelanggan, saluran pemasaran, hingga peluang inovasi yang masih dapat dikembangkan.

Ketua tim peneliti, Rolan Mart Sasongko, S.E., M.M., CISDV., mengatakan, penelitian ini berangkat dari kebutuhan pelaku UMKM terhadap alat bantu yang praktis untuk memahami kondisi bisnis mereka secara menyeluruh.

Menurutnya, masih banyak pelaku usaha yang memiliki produk berkualitas, namun belum mempunyai peta strategi yang jelas untuk menentukan arah pertumbuhan usaha, mengenali kekuatan bisnis, maupun membaca tantangan yang dihadapi.

“Melalui Tools Matriks Bisnis ini, kami ingin membantu UMKM melihat usahanya secara lebih jernih. Strategi tidak cukup hanya dipikirkan, tetapi perlu divisualisasikan agar pelaku usaha dapat memahami posisi bisnisnya, menentukan prioritas, dan mengambil langkah pengembangan yang lebih terarah,” ujar Rolan.

Tim penelitian ini juga melibatkan Dedy Sunaryo Nainggolan, S.E., M.E., dan Hafidh Rifky Adiyatna, S.Si., M.B.A.. Ketiganya mengembangkan gagasan bahwa strategi bisnis tidak harus disusun dalam bentuk yang kompleks. Sebaliknya, strategi perlu diterjemahkan menjadi instrumen yang sederhana, mudah dipahami, dan dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan oleh pelaku usaha.

Dalam proses pendampingan, peserta diperkenalkan pada konsep visualisasi bisnis sebagai cara sederhana untuk memahami persoalan usaha yang sering kali saling berkaitan. Pendekatan ini dinilai relevan karena UMKM umumnya menghadapi berbagai tantangan secara bersamaan, seperti pemasaran, pengelolaan pelanggan, inovasi produk, efisiensi biaya operasional, hingga perubahan perilaku konsumen.

Melalui Tools Matriks Bisnis, para pelaku usaha didorong untuk menyusun gambaran bisnis secara lebih terstruktur. Dengan demikian, mereka dapat mengidentifikasi aspek usaha yang telah berjalan baik, mengetahui bagian yang masih membutuhkan perbaikan, sekaligus melihat peluang pengembangan yang dapat segera direalisasikan.

Pendekatan tersebut diharapkan membuat strategi bisnis tidak berhenti sebagai konsep teoritis, melainkan menjadi panduan praktis yang dapat digunakan dalam pengelolaan usaha sehari-hari.

Dari sisi metodologi, penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods, yaitu menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif. Kombinasi kedua pendekatan tersebut memungkinkan peneliti memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai kebutuhan, karakteristik, serta dinamika yang dihadapi pelaku UMKM di Kota Yogyakarta.

Data kuantitatif memberikan gambaran mengenai kondisi usaha secara terukur, sedangkan data kualitatif diperoleh melalui proses pendampingan sehingga mampu merekam pengalaman langsung para pelaku usaha selama mengikuti kegiatan penelitian.

Selain menghasilkan manfaat praktis bagi peserta, penelitian tersebut juga melahirkan sejumlah luaran akademik. Salah satunya berupa buku berjudul “Visualisasi Strategi Bisnis Dengan BMC” yang diterbitkan oleh PAHIN MEDIA KREASI. Buku tersebut disusun sebagai referensi bagi pelaku usaha maupun kalangan akademisi untuk memahami penyusunan strategi bisnis menggunakan pendekatan Business Model Canvas (BMC).

Penelitian ini juga menghasilkan pencatatan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dengan nomor EC00202501524 yang tercatat pada 6 Januari 2025. Di samping itu, hasil riset dipublikasikan dalam prosiding internasional 1st International Conference on Sustainable Research and Development (ICSRD-24).

Melalui hasil penelitian tersebut, tim peneliti berharap Tools Matriks Bisnis dapat menjadi alternatif instrumen pendampingan bagi pelaku UMKM, tidak hanya di Kota Yogyakarta, tetapi juga di berbagai daerah lainnya.

Pendekatan visual dinilai mampu menjembatani kebutuhan praktis pelaku usaha dengan konsep-konsep strategi bisnis yang selama ini lebih banyak berkembang di lingkungan akademik. Dengan alat bantu yang mudah dipahami, pelaku usaha diharapkan lebih percaya diri dalam mengambil keputusan, menentukan prioritas pengembangan, serta menyusun langkah bisnis yang lebih terencana.

Ke depan, hasil penelitian Matrix Revolution juga diharapkan dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak, mulai dari komunitas usaha, perguruan tinggi, hingga pemerintah daerah sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas UMKM. Melalui strategi yang lebih adaptif, terukur, dan berbasis visual, pelaku usaha diharapkan tidak hanya mampu mempertahankan keberlangsungan bisnisnya, tetapi juga meningkatkan daya saing dan berkembang secara berkelanjutan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *