Dari Tengik ke Tahan Lama: Tim UNS Bantu Petani Kopi Boyolali Kuasai Teknologi Vakum dan

Tim UNS bersama Kelompok Tani Sumber Agung 1, Desa Banyuanyar, Boyolali, dalam kegiatan sosialisasi dan perancangan program pengabdian untuk meningkatkan daya simpan dan branding produk kopi. (Dok. Tim Pengabdian Masyarakat UNS)
Tim UNS bersama Kelompok Tani Sumber Agung 1, Desa Banyuanyar, Boyolali, dalam kegiatan sosialisasi dan perancangan program pengabdian untuk meningkatkan daya simpan dan branding produk kopi. (Dok. Tim Pengabdian Masyarakat UNS)

Boyolali, Krajan.id – Persoalan kemasan menjadi salah satu tantangan yang dihadapi Kelompok Tani Sumber Agung 1 di Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Dua produk kopi yang mereka produksi, Kopi Barendo dan Kopi Rodjo, sebelumnya hanya mampu bertahan sekitar dua pekan sebelum mengalami penurunan mutu dan menjadi tengik.

Kondisi itu tidak hanya berpengaruh terhadap kualitas produk, tetapi juga berdampak pada pemasaran. Pengembalian produk atau retur dari pembeli disebut mencapai 50 persen. Persoalan tersebut kemudian menjadi perhatian tim dosen Universitas Sebelas Maret (UNS) melalui program pengabdian masyarakat yang menggabungkan perbaikan teknologi pengemasan, identitas produk, hingga pemasaran digital.

Bacaan Lainnya

Pendampingan tersebut diarahkan untuk menjawab persoalan yang selama ini menghambat produk kopi lokal Banyuanyar memasuki pasar yang lebih luas.

Kelompok Tani Sumber Agung 1 sebelumnya menggunakan plastik polypropylene (PP) dan hand sealer sederhana. Sistem tersebut belum mampu mengeluarkan udara secara optimal dari dalam kemasan. Kondisi itu membuat kopi lebih mudah terpapar oksigen dan kelembapan sehingga kualitasnya lebih cepat menurun.

Dengan kapasitas produksi rata-rata 20 bungkus per minggu dan omzet sekitar Rp10 juta per bulan, persoalan pengemasan menjadi cukup penting. Produk yang seharusnya dapat memberikan nilai ekonomi lebih besar justru menghadapi risiko retur karena daya simpannya terbatas.

Tim UNS kemudian membawa pendekatan teknologi yang relatif sederhana, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan kelompok tani. Tim tersebut dipimpin Muhammad Bagus Sistriatmaja, S.E., M.E. dari Program Studi Ekonomi Pembangunan, bersama Novedi Risanti Langgi, S.Pd., M.Pd. dan Alpha Liana Yuvita Rahma, S.Hut., MBA.

Program Pengabdian Masyarakat Pemula (PMP) itu didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dengan anggaran Rp21.870.000.

Teknologi Vakum Perpanjang Daya Simpan

Salah satu perubahan utama dilakukan pada sistem pengemasan. Tim UNS memperkenalkan penggunaan mesin vacuum sealer dengan teknologi nitrogen flush yang dipadukan dengan kemasan aluminium foil dan one-way valve.

Teknologi tersebut digunakan untuk mengurangi oksigen di dalam kemasan sebelum produk ditutup. Pengurangan paparan oksigen diharapkan dapat memperlambat proses oksidasi yang memengaruhi mutu kopi.

Berdasarkan hasil uji yang dilakukan dalam program tersebut, daya simpan kopi meningkat dari sekitar dua pekan menjadi 21 hingga 30 hari. Artinya, masa simpan produk dapat bertambah sekitar tiga sampai empat kali dibandingkan kondisi sebelumnya.

Perubahan itu menjadi bagian penting dari upaya mengurangi tingkat retur. Sebab, masalah yang dihadapi kelompok tani bukan semata soal produksi, melainkan kemampuan mempertahankan mutu produk setelah kopi meninggalkan tempat produksi.

Selain teknologi pengemasan, tim juga memberikan pendampingan terkait branding dan pelabelan produk. Kopi Barendo dan Kopi Rodjo mendapatkan rancangan label dengan identitas visual yang lebih terstruktur.

Informasi pada label mencakup nama produk, komposisi, tanggal kedaluwarsa, berat bersih, dan informasi produsen. Pendekatan tersebut diharapkan membuat produk lebih siap ketika dipasarkan di luar lingkungan desa.

Aspek lain yang diperkuat adalah tata kelola produksi. Tim menyusun sejumlah Standar Operasional Prosedur (SOP) yang mengacu pada prinsip Good Manufacturing Practice (GMP) dan pedoman Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).’

Tim UNS mendampingi Kelompok Tani Sumber Agung 1, Boyolali, dalam penerapan teknologi pengolahan kopi untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi. (Dok. Tim Pengabdian Masyarakat UNS)
Tim UNS mendampingi Kelompok Tani Sumber Agung 1, Boyolali, dalam penerapan teknologi pengolahan kopi untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi. (Dok. Tim Pengabdian Masyarakat UNS)

SOP tersebut mencakup prosedur pengemasan, pelabelan, dan proses produksi yang higienis. Dokumen ditempatkan di ruang produksi agar dapat menjadi pedoman bagi anggota kelompok dalam menjalankan proses produksi.

Ketua Tim Pengabdian UNS Muhammad Bagus Sistriatmaja mengatakan perbaikan produk tidak berhenti pada persoalan teknis pengemasan.

“Kami ingin produk kopi petani Banyuanyar tidak hanya laku di pasar desa, tapi juga bisa bersaing di toko oleh-oleh, minimarket, hingga marketplace digital. Kuncinya ada di kemasan dan branding, dua hal yang selama ini sering diabaikan UMKM pangan.”

Dari Produksi ke Pemasaran Digital

Pendampingan juga menyentuh sisi pemasaran. Sebanyak 20 anggota kelompok tani mendapatkan pelatihan untuk memanfaatkan sejumlah platform digital, termasuk WhatsApp Business, Instagram, dan Facebook Marketplace.

Pelatihan tidak hanya membahas cara mengunggah produk. Anggota kelompok juga diperkenalkan pada teknik mengambil foto produk menggunakan telepon pintar, menyusun keterangan produk, serta menghitung harga jual berdasarkan biaya produksi atau costing.

Langkah tersebut penting karena perluasan pasar membutuhkan kemampuan lain di luar produksi. Produk dengan kemasan yang lebih baik tetap membutuhkan strategi pemasaran agar dapat ditemukan calon konsumen.

Program ini memiliki sejumlah target yang telah ditetapkan. Omzet ditargetkan meningkat 30 persen, sedangkan tingkat retur diharapkan turun dari 50 persen menjadi kurang dari 15 persen.

Kopi Barendo dan Kopi Rodjo juga ditargetkan mulai dipasarkan sedikitnya di dua kabupaten di luar Boyolali. Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan selama enam bulan dengan sedikitnya delapan kali kunjungan lapangan.

Membuka Ruang Ekonomi bagi Perempuan Desa

Program tersebut juga memiliki dimensi pemberdayaan ekonomi masyarakat. Sebagian anggota yang terlibat dalam produksi kopi merupakan ibu rumah tangga.

Perbaikan kualitas produk dan perluasan pemasaran diharapkan dapat membuka peluang peningkatan pendapatan bagi keluarga anggota kelompok. Dengan begitu, kegiatan produksi kopi tidak hanya dipandang sebagai aktivitas ekonomi kelompok, tetapi juga sebagai ruang untuk memperkuat kemandirian ekonomi perempuan desa.

Bagi Kelompok Tani Sumber Agung 1, perubahan teknologi pengemasan menjadi bagian dari proses yang lebih luas. Produk kopi lokal tidak cukup hanya memiliki cita rasa dan bahan baku yang baik. Kemampuan menjaga mutu, menyampaikan identitas produk, serta menjangkau konsumen juga menentukan daya saing.

Tim Universitas Sebelas Maret (UNS) menyerahkan dan memperkenalkan mesin pengemasan kepada Kelompok Tani Sumber Agung 1 di Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali. (Dok. Tim Pengabdian Masyarakat UNS)
Tim Universitas Sebelas Maret (UNS) menyerahkan dan memperkenalkan mesin pengemasan kepada Kelompok Tani Sumber Agung 1 di Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali. (Dok. Tim Pengabdian Masyarakat UNS)

Program UNS tersebut merupakan bagian dari roadmap penelitian Grup Riset Ekonomi Kerakyatan UNS dalam fase Social Marketing 2022-2026. Fokusnya adalah memperkuat nilai tawar produk lokal melalui pemanfaatan teknologi dan inovasi tepat guna.

Pendekatan itu menempatkan teknologi bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai alat untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi pelaku usaha di tingkat lokal. Dalam kasus Kelompok Tani Sumber Agung 1, persoalan tersebut bermula dari kopi yang cepat mengalami penurunan mutu, kemudian merembet pada tingginya retur dan terbatasnya jangkauan pasar.

Dengan pengemasan yang lebih sesuai, identitas produk yang lebih jelas, standar produksi yang terdokumentasi, serta kemampuan pemasaran digital, Kopi Barendo dan Kopi Rodjo kini memiliki bekal untuk memperluas pasar.

Tim UNS berharap kedua produk tersebut dapat berkembang sebagai produk kopi dari Desa Banyuanyar yang memiliki daya saing lebih kuat dan mampu menjangkau konsumen di luar Boyolali.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *