Kenali Emosi Sejak Dini, Mahasiswa KKN UMBY Ajak Siswa SDN Tawangharjo Belajar Mengelola Perasaan

Foto bersama anak-anak SDN Tawangharjo kelas 3,4,5. (Dok. Pribadi/Kelompok 103 KKN-PPM UMBY)
Foto bersama anak-anak SDN Tawangharjo kelas 3,4,5. (Dok. Pribadi/Kelompok 103 KKN-PPM UMBY)

Kalurahan Purwobinangun, Krajan.id – Mengenali emosi menjadi salah satu kemampuan penting yang perlu dikenalkan kepada anak sejak dini. Kemampuan tersebut membantu anak memahami apa yang sedang dirasakan sekaligus menentukan cara yang tepat untuk merespons berbagai situasi dalam kehidupan sehari-hari.

Hal itu menjadi perhatian Kelompok 103 Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) XLIX. Mahasiswa menggelar kegiatan psikoedukasi bertema pengenalan dan pengelolaan emosi bagi siswa SDN Tawangharjo, Kalurahan Purwobinangun, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (5/8/2026).

Bacaan Lainnya

Kegiatan tersebut diikuti 25 siswa kelas III, IV, dan V. Alih-alih hanya memberikan materi secara satu arah, mahasiswa mengemas pembelajaran melalui permainan ekspresi, penggunaan gambar emoji, diskusi kelompok, serta contoh situasi yang dekat dengan keseharian anak.

Pendekatan itu dipilih agar siswa tidak sekadar mengetahui nama-nama emosi, tetapi juga mampu mengenali perasaan yang muncul dalam dirinya. Anak-anak diperkenalkan pada sejumlah emosi dasar, seperti senang, sedih, marah, takut, terkejut, dan jijik.

Mahasiswa Kelompok 103 menyederhanakan materi agar lebih mudah dipahami siswa sekolah dasar. Contoh-contoh yang digunakan juga diambil dari pengalaman yang kemungkinan mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satunya melalui pertanyaan mengenai perasaan ketika memperoleh hadiah, dimarahi, atau melihat sesuatu yang menakutkan. Dari situ, siswa diajak menebak emosi yang mungkin muncul dan memahami bagaimana emosi tersebut dapat diekspresikan.

Kegiatan diawali dengan perkenalan dan boarding raport untuk membangun suasana yang nyaman. Setelah interaksi mulai terbentuk, mahasiswa mengajak siswa berdiskusi mengenai perasaan dan emosi yang mereka alami dalam keseharian.

Selanjutnya, siswa diperkenalkan dengan sejumlah gambar emoji yang menggambarkan ekspresi wajah berbeda. Emoji tersebut digunakan sebagai media untuk membantu anak menghubungkan ekspresi wajah dengan jenis emosi yang dirasakan.

Metode pembelajaran kemudian dikembangkan melalui permainan menggunakan stiker ekspresi. Siswa diajak mengidentifikasi emosi berdasarkan ekspresi yang ditampilkan. Aktivitas tersebut membuat anak terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran.

Siswa juga dibagi ke dalam beberapa kelompok. Mereka berdiskusi dan bekerja sama untuk menyelesaikan aktivitas yang diberikan mahasiswa. Selain membantu pemahaman mengenai emosi, pembagian kelompok menjadi ruang bagi siswa untuk berinteraksi dan membangun kekompakan dengan teman sebaya.

Mengenalkan Cara Mengendalikan Reaksi

Psikoedukasi tersebut tidak berhenti pada pengenalan berbagai jenis emosi. Mahasiswa juga memperkenalkan cara menghadapi emosi agar tidak berkembang menjadi reaksi yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Salah satu metode yang diperkenalkan adalah STOP, yang terdiri atas empat tahapan, yaitu Stop, Tarik napas, Observasi, dan Pilih.

Pada tahap Stop, anak diajak berhenti sejenak ketika emosi mulai muncul. Mereka tidak langsung berteriak, marah, atau melakukan tindakan secara spontan.

Mahasiswa kelompok 103 KKN-PPM saat penyampaian materi emosi, dan berdiskusi bersama. (Dok. Pribadi/Kelompok 103 KKN-PPM UMBY)
Mahasiswa kelompok 103 KKN-PPM saat penyampaian materi emosi, dan berdiskusi bersama. (Dok. Pribadi/Kelompok 103 KKN-PPM UMBY)

Tahap berikutnya adalah Tarik napas. Mahasiswa mengajarkan anak untuk menarik napas selama sekitar tiga detik sebagai upaya menenangkan diri sebelum mengambil tindakan.

Setelah itu, anak diajak melakukan Observasi. Pada tahap ini, mereka perlu bertanya kepada diri sendiri mengenai apa yang sedang dirasakan dan apa yang menjadi penyebab munculnya emosi tersebut.

Tahap terakhir adalah Pilih. Anak diajak menentukan tindakan atau respons yang paling tepat setelah memahami perasaannya. Pilihan tersebut diharapkan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap diri sendiri maupun orang-orang di sekitarnya.

Metode tersebut memberikan pemahaman sederhana bahwa emosi tidak harus ditekan atau diabaikan. Anak justru perlu mengenalinya terlebih dahulu, kemudian belajar menentukan cara mengekspresikannya secara lebih tepat.

Bagi mahasiswa, pengenalan pengelolaan emosi pada anak merupakan bagian dari upaya membangun pemahaman psikologis sejak usia sekolah. Anak yang mampu mengenali perasaannya diharapkan memiliki ruang yang lebih baik untuk mengungkapkan apa yang dialami tanpa harus melampiaskannya melalui perilaku negatif.

Kelompok 103 KKN-PPM UMBY berharap kegiatan tersebut dapat memberikan pengalaman positif bagi siswa SDN Tawangharjo. Program itu juga diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran mengenai pentingnya mengenali dan mengelola emosi sejak dini.

Melalui kegiatan tersebut, anak diharapkan semakin mampu memahami dirinya, berani mengungkapkan perasaan, serta belajar memilih respons yang lebih positif ketika menghadapi berbagai keadaan.

Kegiatan psikoedukasi ini merupakan salah satu program kerja mahasiswa Kelompok 103 KKN-PPM UMBY XLIX yang ditempatkan di Dusun Sudimoro, Padukuhan Wringin, Kalurahan Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman. Kelompok tersebut berada di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Valentina Dyah Arum Sari, S.Pd., M.Hum.

Kelompok 103 dipimpin Deny Darmawan dari Program Studi Ilmu Komunikasi. Sementara itu, penanggung jawab kegiatan psikoedukasi terdiri atas Jihan Azizah Deskia Washila, Arnita Tri Syahriyani, Cahya Putri Kamila, dan Ferli Nur Hariyati. Pelaksanaan kegiatan didukung oleh seluruh anggota KKN Kelompok 103.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *