Dusun Banter, Krajan.id – Penguatan kapasitas pemuda menjadi salah satu perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 64 Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) selama menjalankan program di Dusun Banter, Desa Gumelem, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Salah satunya dilakukan melalui pelatihan manajemen organisasi, kepemimpinan, kerja sama tim, dan public speaking bagi anggota Karang Taruna dan warga setempat.
Pelatihan tersebut digelar pada Minggu (9/8/2026). Kegiatan dirancang tidak hanya berupa penyampaian materi, tetapi juga dilengkapi dengan studi kasus dan praktik berbicara di depan peserta. Cara tersebut digunakan untuk memberikan pengalaman langsung kepada peserta dalam menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan.
Mahasiswa KKN Kelompok 64 melihat kemampuan mengelola organisasi dan berkomunikasi sebagai bagian penting dalam mendukung kegiatan kepemudaan di tingkat dusun. Karang Taruna membutuhkan kemampuan tersebut agar dapat menjalankan kegiatan secara terarah sekaligus membangun kerja sama dengan masyarakat.
Selain anggota Karang Taruna, sejumlah warga Dusun Banter turut mengikuti kegiatan. Kehadiran warga membuat pelatihan tidak hanya berfokus pada kebutuhan organisasi kepemudaan, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama dalam kehidupan bermasyarakat.
Kegiatan dipandu oleh Dea dan Savitri selaku penanggung jawab. Acara diawali dengan pembukaan oleh Dea. Selanjutnya, Savitri menyampaikan materi mengenai manajemen organisasi dan kepemimpinan.
Materi tersebut mencakup pengertian organisasi dan manajemen, fungsi manajemen dalam membantu organisasi mencapai tujuan bersama, pengertian kepemimpinan, sikap yang diperlukan seorang pemimpin efektif, serta berbagai gaya kepemimpinan dalam organisasi.
Materi kemudian berlanjut pada public speaking yang disampaikan Dea. Peserta diperkenalkan pada pentingnya kemampuan berbicara di depan umum, khususnya ketika menyampaikan gagasan dalam organisasi maupun lingkungan masyarakat.
Kemampuan berbicara di depan umum juga dikaitkan dengan kepercayaan diri. Peserta didorong agar mampu menyampaikan pendapat secara lebih terstruktur ketika mengikuti kegiatan organisasi atau berkomunikasi dengan warga lainnya.
Agar pelatihan berlangsung interaktif, mahasiswa KKN menyisipkan kegiatan ice breaking di sela-sela penyampaian materi. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keterlibatan peserta sekaligus menciptakan suasana pelatihan yang tidak terlalu formal.
Setelah materi selesai, peserta mengikuti studi kasus yang dipandu Savitri. Peserta dibagi menjadi tiga kelompok. Masing-masing kelompok memperoleh waktu lima menit untuk mendiskusikan kasus yang diberikan.
Setiap kelompok kemudian memilih satu perwakilan untuk menyampaikan hasil pembahasan di hadapan peserta lainnya. Sesi tersebut menjadi bagian penting dalam pelatihan karena peserta tidak hanya diminta memahami materi, tetapi juga menggunakannya dalam situasi yang disimulasikan.
Melalui studi kasus, peserta berlatih mengambil keputusan bersama, membagi peran, menyampaikan pendapat, serta mendengarkan pandangan anggota kelompok. Pada saat yang sama, perwakilan kelompok mendapat kesempatan mempraktikkan public speaking dengan menyampaikan hasil diskusi di depan forum.
Mahasiswa KKN Kelompok 64 memberikan hadiah kepada masing-masing kelompok sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka. Setelah itu, Dea dan Savitri meminta perwakilan kelompok menyampaikan kesan dan pesan mengenai pelatihan yang telah diikuti.
Salah satu perwakilan kelompok mengatakan kegiatan tersebut memberikan pengetahuan baru mengenai organisasi dan kehidupan bermasyarakat. Ia juga menilai materi kepemimpinan relevan bagi warga, terutama pemuda yang terlibat dalam kegiatan Karang Taruna.
“Saya sangat berterima kasih karena kegiatan ini menambah wawasan. Kami sebagai warga desa yang sebagian besar bekerja sebagai petani sebelumnya belum banyak mengetahui tentang kepemimpinan. Kegiatan ini sangat berharga dan mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi pemuda-pemudi Dusun Banter.”
Tanggapan serupa disampaikan Mas Cipul, salah satu perwakilan anggota Karang Taruna. Menurut dia, pelatihan tersebut memberikan pemahaman baru mengenai teknik berorganisasi dan berbicara di depan umum.
“Menurut saya, karena kami dari kampung dan sama sekali belum tahu tentang public speaking, organisasi, dan kepemimpinan, dari adanya KKN UMBY ini akhirnya kami tahu bahwa dalam organisasi dan public speaking ternyata ada tekniknya. Kami jadi lebih paham apa yang harus dilakukan agar lebih baik dalam berorganisasi.”
Menurut Mas Cipul, kemampuan kepemimpinan juga menjadi salah satu faktor penting dalam keberlangsungan organisasi, termasuk Karang Taruna. Pemimpin dinilai memiliki peran dalam menentukan arah dan kelancaran organisasi.
“Sangat penting, karena sebuah organisasi bisa berjalan lancar dan itu berhubungan erat dengan pemimpinnya. Kalau pemimpinnya bagus, pasti hasilnya juga bagus.”
Setelah sesi kesan dan pesan, kegiatan ditutup dengan foto bersama mahasiswa KKN Kelompok 64, anggota Karang Taruna, dan warga yang hadir. Peserta kemudian masih berkumpul dan berbincang dalam suasana yang lebih santai.
Pelatihan tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa KKN Kelompok 64 UMBY dalam mendukung penguatan kapasitas masyarakat di Dusun Banter. Fokus kegiatan tidak hanya pada pemberian pengetahuan, tetapi juga pada praktik yang memungkinkan peserta mencoba langsung cara bekerja dalam kelompok, mengambil keputusan, serta menyampaikan gagasan.
Bagi Karang Taruna, kemampuan tersebut dapat menjadi bekal dalam menjalankan kegiatan kepemudaan dan kemasyarakatan. Sementara bagi mahasiswa KKN, kegiatan ini menjadi bagian dari proses berbagi pengetahuan sekaligus membangun interaksi dengan masyarakat selama menjalankan pengabdian di Dusun Banter.
Mahasiswa KKN Kelompok 64 berharap pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta dapat diterapkan dalam kegiatan Karang Taruna maupun aktivitas masyarakat sehari-hari. Penguatan kemampuan kepemimpinan, manajemen organisasi, kerja sama tim, dan komunikasi diharapkan dapat mendukung keterlibatan pemuda dalam mengelola berbagai kegiatan di lingkungan mereka.





