Mahasiswa KKN 64 UMBY Dorong Petani Dusun Banter Manfaatkan Marketplace untuk Perluas Pasar

Mahasiswa KKN 64 UMBY bersama ibu-ibu Dusun Banter dalam kegiatan Pelatihan Digital Marketing pada Selasa (11/8/2026). (Doc. Pribadi)
Mahasiswa KKN 64 UMBY bersama ibu-ibu Dusun Banter dalam kegiatan Pelatihan Digital Marketing pada Selasa (11/8/2026). (Doc. Pribadi)

Dusun Banter, Krajan.id – Ketergantungan petani terhadap pengepul menjadi salah satu persoalan dalam pemasaran hasil pertanian, terutama ketika produksi meningkat pada masa panen. Kondisi tersebut dapat membuat harga jual di tingkat petani tertekan karena hasil panen harus segera terserap pasar.

Persoalan itu menjadi perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 64 Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY). Mereka menggelar pelatihan digital marketing bagi warga Dusun Banter, Desa Gumelem, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, pada 11 Agustus 2026.

Bacaan Lainnya

Pelatihan yang diikuti ibu-ibu warga Dusun Banter tersebut tidak hanya memperkenalkan pemasaran melalui internet. Mahasiswa juga memberikan pendampingan praktik agar peserta dapat mengenal tahapan pemasaran produk pertanian melalui marketplace.

Mahasiswa KKN 64 UMBY memberikan pendampingan secara langsung kepada peserta dalam praktik pemasaran hasil pertanian melalui media digital pada Selasa (11/8/2026). (Doc. Pribadi)
Mahasiswa KKN 64 UMBY memberikan pendampingan secara langsung kepada peserta dalam praktik pemasaran hasil pertanian melalui media digital pada Selasa (11/8/2026). (Doc. Pribadi)

Program tersebut diarahkan untuk membuka alternatif pemasaran bagi petani. Dengan memanfaatkan media digital, hasil pertanian diharapkan dapat ditawarkan secara langsung kepada konsumen di luar wilayah sekitar, sehingga petani memiliki pilihan selain mengandalkan pemasaran melalui pengepul.

Penanggung jawab kegiatan sekaligus pemateri, Bintang, mengatakan pemilihan materi digital marketing berkaitan dengan kondisi ekonomi masyarakat Dusun Banter yang mayoritas bekerja sebagai petani.

“Karena kami melihat mata pencaharian masyarakat Dusun Banter ini adalah petani dan permasalahan yang sering dialami oleh masyarakat adalah anjloknya harga di pasar ketika terjadi panen besar yang merugikan petani. Oleh karena itu, kami memilih memberikan pelatihan digital marketing kepada masyarakat Banter agar mereka dapat memasarkan sendiri hasil pertanian dan tidak sepenuhnya bergantung dengan harga dari pengepul sayur,” ujar Bintang.

Persoalan harga ketika panen melimpah menjadi salah satu alasan mahasiswa memilih pendekatan pemasaran digital. Pelatihan tersebut diharapkan dapat memberikan pemahaman awal kepada masyarakat mengenai cara memanfaatkan teknologi untuk memperluas jangkauan penjualan.

Materi pelatihan diawali dengan pengenalan konsep digital marketing. Peserta kemudian diperkenalkan dengan sejumlah strategi pemasaran melalui media digital, termasuk penggunaan Shopee sebagai salah satu marketplace yang dapat dimanfaatkan untuk menawarkan produk.

Dalam sesi tersebut, peserta diperkenalkan pada cara menampilkan produk secara daring. Informasi yang perlu dicantumkan antara lain foto produk, harga, stok, dan deskripsi. Kelengkapan informasi tersebut diperlukan agar calon pembeli dapat mengetahui produk tanpa harus datang langsung ke lokasi penjual.

Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan ice breaking yang dipandu Dea. Sesi tersebut dilakukan sebelum peserta menyaksikan video tutorial mengenai pembuatan akun Shopee.

Tahap berikutnya adalah demonstrasi dan pendampingan. Bintang memandu peserta untuk mempraktikkan secara langsung tahapan pemasaran hasil pertanian melalui marketplace.

Peserta dibagi menjadi dua kelompok. Dalam kelompok tersebut, peserta mencoba mengunggah produk sekaligus mempelajari berbagai hal teknis yang berkaitan dengan pemasaran secara daring.

Pendampingan mencakup cara mengambil foto sayuran agar produk dapat ditampilkan dengan baik, menambahkan produk ke marketplace, menentukan informasi yang perlu dicantumkan, hingga memahami langkah-langkah sebelum produk diunggah.

Mahasiswa mendatangi setiap kelompok selama praktik berlangsung. Pola pendampingan tersebut memungkinkan peserta bertanya secara langsung ketika mengalami kesulitan. Dengan pendekatan praktik, materi yang sebelumnya disampaikan secara teori dapat langsung dicoba oleh peserta.

Erlangga, selaku penanggung jawab kegiatan, mengatakan program tersebut diharapkan dapat membantu warga memanfaatkan hasil panen, termasuk ketika produksi sayuran melimpah.

“Saya berharap dalam program ini saya dan rekan saya dapat menyampaikan informasi kepada ibu-ibu di Dusun Banter tentang cara memanfaatkan sayuran yang tersisa dari panen yang melimpah. Untuk itu, kami sebagai penanggung jawab, memberikan materi dan langkah-langkah untuk membuat akun agar para ibu petani di Dusun Banter bisa belajar tentang digital marketing dan memasarkan hasil panen mereka secara online,” kata Erlangga.

Menurut dia, pengenalan pemasaran digital tidak hanya berkaitan dengan penggunaan marketplace. Program tersebut juga diarahkan untuk mendorong masyarakat agar memiliki kemampuan memasarkan hasil pertanian secara lebih mandiri.

Bagi petani, kemampuan memasarkan produk menjadi bagian penting ketika menghadapi hasil panen yang melimpah. Selain produksi, kemampuan memperkenalkan produk kepada calon konsumen juga menentukan peluang produk terserap pasar.

Respons positif datang dari peserta pelatihan, salah satunya Ibu Yamtimnah. Ia mengatakan materi yang diberikan membuatnya memperoleh pengetahuan baru mengenai penggunaan Shopee dan cara menyiapkan hasil pertanian untuk dipasarkan secara daring.

“Dari yang disampaikan, saya jadi mengenal Shopee, cara membuat akun Shopee, dan cara packing sayur. Itu yang menambah pengetahuan saya. Manfaat yang saya dapat adalah mendapat ilmu. Saya sebagai petani, insyaAllah kalau bisa berjalan, ini dapat menambah penghasilan petani dan membuat jual beli hasil pertanian meningkat,” ujar Ibu Yamtimnah.

Ia berharap penggunaan digital marketing tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dapat dilanjutkan dan memberikan manfaat ekonomi bagi warga.

“Harapan kami kalau kami bisa melakukan program ini, semoga bisa lancar, ada pembeli-pembeli, dan dapat menambah ekonomi,” lanjutnya.

Pelatihan tersebut menunjukkan bahwa persoalan pemasaran hasil pertanian dapat direspons dengan memperkenalkan pilihan kanal penjualan yang lebih beragam. Marketplace menjadi salah satu sarana yang dikenalkan kepada warga untuk mempertemukan produk pertanian dengan calon konsumen secara lebih luas.

Namun, pelatihan itu juga menjadi tahap awal. Kemampuan membuat akun, mengambil foto produk, menulis informasi barang, menentukan harga, serta mengemas sayuran perlu dipraktikkan secara berkelanjutan agar pemasaran digital dapat berjalan.

Bagi mahasiswa KKN Kelompok 64 UMBY, pengenalan teknologi kepada masyarakat menjadi bagian dari upaya membantu warga menghadapi persoalan pemasaran yang mereka alami. Fokus kegiatan bukan sekadar memperkenalkan platform digital, tetapi memberikan keterampilan dasar yang dapat digunakan untuk menawarkan hasil pertanian secara mandiri.

Melalui kegiatan tersebut, warga Dusun Banter diharapkan memiliki alternatif dalam memasarkan hasil pertanian. Pengetahuan mengenai marketplace, foto produk, informasi produk, dan pengemasan menjadi bekal awal bagi masyarakat untuk mencoba menjangkau konsumen di luar wilayah mereka.

Kegiatan pelatihan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama mahasiswa KKN Kelompok 64 UMBY dan peserta. Bagi warga, kegiatan tersebut menjadi pengenalan awal terhadap pola pemasaran hasil pertanian melalui media digital.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *