Yogyakarta, Krajan.id – Pelatihan Business Model Canvas (BMC) tidak hanya membantu pelaku usaha memahami model bisnisnya secara lebih sistematis, tetapi juga berkaitan dengan penguatan mindset kewirausahaan. Temuan tersebut menjadi salah satu hasil penelitian yang dilakukan tim dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UPN “Veteran” Yogyakarta terhadap ratusan pelaku UMKM di Kota Yogyakarta.
Penelitian ini berangkat dari pelaksanaan program pelatihan yang diselenggarakan FEB UPN “Veteran” Yogyakarta bekerja sama dengan Dinas Koperasi dan UMKM Kota Yogyakarta pada 2023. Program tersebut dirancang sebagai upaya meningkatkan kapasitas pelaku usaha melalui pendekatan Business Model Canvas, sebuah kerangka yang membantu pengusaha memetakan model bisnis secara sederhana, visual, dan terstruktur.
Selain materi mengenai BMC, peserta juga memperoleh pembelajaran tentang strategi promosi, pengelolaan keuangan dasar, operasional usaha, hingga kemampuan beradaptasi menghadapi perubahan kondisi bisnis pascapandemi. Pendekatan tersebut diharapkan tidak hanya memperkaya pengetahuan peserta, tetapi juga mendukung pengambilan keputusan dalam menjalankan usaha.
Pelaksanaan pelatihan berlangsung selama delapan sesi tatap muka dengan total 32 jam pembelajaran. Setelah seluruh materi selesai diberikan, peserta masih memperoleh pendampingan melalui inkubator bisnis dan mentor dari komunitas. Skema tersebut diterapkan agar materi yang diperoleh selama pelatihan dapat diimplementasikan secara berkelanjutan dalam aktivitas usaha sehari-hari.
Sebagai bagian dari evaluasi program, tim peneliti melibatkan 452 pemilik UMKM yang mengikuti pelatihan. Seluruh peserta mengisi survei pascapelatihan untuk mengukur tingkat keterlibatan mereka selama mengikuti kegiatan.
Dalam penelitian tersebut, tingkat paparan peserta terhadap pelatihan tidak hanya diukur berdasarkan kehadiran. Peneliti juga mempertimbangkan keterlibatan aktif selama proses pembelajaran serta kualitas penyusunan kanvas bisnis yang menjadi salah satu indikator utama dalam metode Business Model Canvas.
Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif antara tingkat keterlibatan peserta dalam pelatihan dengan penguatan entrepreneurial mindset atau pola pikir kewirausahaan. Semakin tinggi tingkat partisipasi peserta, semakin kuat pula kecenderungan mereka dalam mengembangkan karakter kewirausahaan.
Karakter tersebut meliputi kemampuan mengenali peluang usaha, keberanian menghadapi ketidakpastian, kemauan melakukan eksperimen bisnis, sikap proaktif dalam menyelesaikan persoalan, hingga ketekunan menghadapi tantangan dalam menjalankan usaha.
Rolan Mart Sasongko, S.E., M.M., CISDV., dosen Program Studi Manajemen FEB UPN “Veteran” Yogyakarta sekaligus anggota tim peneliti, mengatakan pendekatan Business Model Canvas memberikan kemudahan bagi pelaku usaha dalam memahami bisnis mereka secara menyeluruh.
“Pelatihan BMC membantu pelaku UMKM memetakan usahanya secara lebih sederhana, visual, dan terarah. Temuan kami menunjukkan bahwa keterlibatan yang lebih kuat dalam pelatihan berkaitan dengan penguatan mindset kewirausahaan, terutama dalam mengenali peluang dan mengambil keputusan bisnis,” ujar Rolan Mart Sasongko.
Temuan penelitian juga memperlihatkan bahwa setiap kenaikan 10 poin pada indeks paparan pelatihan berkaitan dengan peningkatan sekitar 0,30 poin pada skala entrepreneurial mindset. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa kualitas keterlibatan peserta selama mengikuti pelatihan menjadi faktor yang lebih penting dibanding sekadar tingkat kehadiran.
Menurut tim peneliti, Business Model Canvas dinilai relevan diterapkan pada sektor UMKM karena mampu menyederhanakan proses perencanaan bisnis ke dalam satu lembar kerja yang mudah dipahami. Melalui pendekatan visual tersebut, pelaku usaha dapat melihat keterkaitan antara segmen pelanggan, nilai produk yang ditawarkan, saluran distribusi, sumber pendapatan, struktur biaya, hingga aktivitas utama yang mendukung operasional bisnis.
Bagi pelaku UMKM yang umumnya memiliki keterbatasan sumber daya, model tersebut dinilai mampu membantu proses penyusunan strategi bisnis secara lebih terarah dan efisien. Dengan demikian, pelaku usaha memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai arah pengembangan usahanya.
Selain menyoroti efektivitas pelatihan, penelitian ini juga menunjukkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam memperkuat ekosistem pemberdayaan UMKM. Kerja sama antara FEB UPN “Veteran” Yogyakarta dengan Dinas Koperasi dan UMKM Kota Yogyakarta dinilai menjadi contoh sinergi yang mendukung peningkatan kapasitas pelaku usaha melalui pelatihan, pendampingan, serta penguatan jejaring.
Meski demikian, tim peneliti mengingatkan agar hasil penelitian ini dipahami secara proporsional. Penelitian menggunakan pendekatan evaluasi pascapelatihan sehingga temuan yang diperoleh menunjukkan adanya hubungan positif antara tingkat paparan pelatihan dan penguatan pola pikir kewirausahaan, bukan sebagai bukti hubungan sebab-akibat secara mutlak.
Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan program pemberdayaan UMKM di masa mendatang. Program pelatihan yang memadukan penggunaan alat visual seperti Business Model Canvas, pendampingan secara berkelanjutan, serta evaluasi terhadap hasil pembelajaran dinilai berpotensi menjadi model pengembangan kapasitas usaha yang lebih efektif bagi pelaku UMKM di Kota Yogyakarta maupun daerah lainnya.





