Dari Buruh Proyek Bangunan hingga Insan Berprestasi UGM, Perjuangan AlFath Menembus Batas Keterbatasan

Alfath mendapatkan piagam penghargaan sebagai “Insan UGM Berprestasi”
Alfath mendapatkan piagam penghargaan sebagai “Insan UGM Berprestasi”

Di balik capaian akademik dan deretan prestasi yang diraih AlFath Qornain Isnan Yuliadi, tersimpan perjalanan panjang yang tidak dibangun dengan kemudahan. Sebelum dikenal sebagai mahasiswa berprestasi di Universitas Gadjah Mada (UGM), AlFath lebih dulu akrab dengan debu proyek bangunan, mengangkat material, menggali pondasi, hingga bekerja di bawah terik matahari bersama sang ayah.

Bagi sebagian orang, proyek bangunan mungkin hanya menjadi tempat mencari nafkah. Namun, bagi AlFath, tempat itu justru menjadi ruang pertama untuk merawat mimpi melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sejak masih menempuh pendidikan di bangku SMK, ia telah terbiasa membantu ayahnya bekerja sebagai buruh proyek.

Bacaan Lainnya

Dari upah harian yang diterimanya, AlFath tidak menghabiskan hasil jerih payahnya untuk kebutuhan pribadi. Ia menyisihkan sekitar Rp50 ribu setiap hari untuk ditabung sebagai bekal membayar biaya Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK). Tabungan itu menjadi simbol tekadnya untuk membuka jalan menuju pendidikan yang lebih tinggi.

Keinginan melanjutkan kuliah bukanlah keputusan yang mudah. Kondisi ekonomi keluarga membuat harapan tersebut sempat dipenuhi keraguan. Sejak awal, pendidikan di SMK dipilih agar ia dapat segera bekerja membantu perekonomian keluarga setelah lulus.

“Awalnya memang tarik ulur, karena dari awal saya dimasukkan ke SMK itu supaya setelah lulus bisa langsung bantu kerja,” tutur AlFath.

Meski demikian, ia memilih menyampaikan keinginannya kepada sang ayah. Baginya, pendidikan tinggi merupakan kesempatan untuk memperluas peluang dan meningkatkan kualitas hidup.

“Saya bilang ke ayah, kalau saya mentok di SMK saja, kemungkinan berkembangnya lebih sulit. Saya ingin berkembang lebih jauh, saya ingin kuliah,” tuturnya.

Tekad tersebut kemudian diwujudkan melalui kerja keras. Siang hari ia bekerja di proyek bangunan, sedangkan malam harinya digunakan untuk belajar mempersiapkan diri menghadapi UTBK. Rutinitas itu dijalani tanpa mengeluh, meski rasa lelah menjadi bagian dari kesehariannya.

Perjalanan menuju bangku kuliah tidak selalu berjalan mulus. Menjelang pelaksanaan ujian, AlFath mengalami kecelakaan saat bekerja. Ia terjatuh dari lantai dua proyek bangunan. Peristiwa itu sempat membuatnya diliputi rasa cemas karena khawatir tidak dapat melanjutkan perjuangannya.

“Saya sempat overthinking, takut nggak bisa lanjut. Tapi alhamdulillah diberi kesempatan sampai di titik ini,” ujarnya.

Beruntung, ia masih diberi kesempatan untuk mengikuti proses seleksi. Semua perjuangan yang telah dilaluinya akhirnya mencapai titik penentuan ketika pengumuman hasil UTBK diumumkan.

AlFath memilih melihat hasil tersebut seorang diri di dalam kamarnya. Saat mengetahui dirinya dinyatakan lolos, seluruh kerja keras, rasa lelah, dan pengorbanan yang telah ia jalani seolah terbayar dalam sekejap.

Alfath semasa di proyek.
 (Foto: Instagram Alfath Qornain Isnan Yuliadi/UGM)
Alfath semasa di proyek.
(Foto: Instagram Alfath Qornain Isnan Yuliadi/UGM)

Momen itu menjadi salah satu kenangan yang paling membekas dalam hidupnya. Orang pertama yang ia temui setelah mengetahui hasil tersebut adalah sang kakek.

“Saya ingat banget, saya lari nyamperin kakek saya, langsung saya peluk dan bilang, saya jadi kuliah,” kenangnya.

Keberhasilan tersebut tidak hanya menjadi pencapaian pribadi. AlFath menjadi anggota pertama dalam keluarganya yang berhasil mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Kebahagiaan pun dirasakan seluruh keluarga yang selama ini mendukung perjuangannya.

Namun, perjuangan AlFath tidak berhenti setelah diterima di UGM. Memasuki dunia perkuliahan, ia mengaku belum langsung aktif mengikuti berbagai kegiatan mahasiswa. Pada tahun pertama, fokus utamanya adalah beradaptasi dengan lingkungan akademik dan menjaga prestasi belajar.

Kepribadiannya yang cenderung pendiam membuatnya belum percaya diri mengikuti organisasi maupun kompetisi. Seiring waktu, pandangannya mulai berubah. Ia menyadari bahwa pengalaman di luar ruang kuliah memiliki peran penting dalam membentuk kemampuan dan memperluas wawasan.

“Saya dulu bahkan diajak lomba nggak mau. Tapi di UGM saya sadar itu penting, dan mulai aktif sejak semester tiga,” ujarnya.

Sejak semester tiga, AlFath mulai membuka diri terhadap berbagai kesempatan. Ia aktif mengikuti organisasi kemahasiswaan sekaligus berpartisipasi dalam berbagai kompetisi, baik tingkat nasional maupun internasional.

Selama menjalani perkuliahan, ia tercatat mengikuti sedikitnya 15 kompetisi. Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika berhasil menjadi finalis dalam ajang yang diselenggarakan oleh Nanyang Technological University di Singapura. Pengalaman tersebut memperluas perspektifnya sekaligus menguatkan keyakinan bahwa mahasiswa Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional.

Konsistensi dalam mengembangkan diri akhirnya membuahkan hasil. Pada 2025, AlFath memperoleh penghargaan sebagai Insan Berprestasi UGM 2025. Penghargaan itu menjadi pengakuan atas dedikasi, kerja keras, dan proses panjang yang telah ia jalani sejak masih menjadi buruh proyek bangunan.

Menurutnya, penghargaan tersebut juga menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kedua orang tuanya.

“Orang tua saya senang banget. Mereka nggak menyangka anaknya bisa sampai dapet penghargaan dari UGM,” ujarnya.

Bagi AlFath, setiap pencapaian bukan sekadar soal penghargaan atau prestasi. Yang terpenting adalah keberanian untuk mengambil kesempatan dan terus berkembang, meski berasal dari latar belakang yang penuh keterbatasan.

Ia meyakini bahwa masa depan tidak ditentukan oleh seberapa sempurna kondisi seseorang saat ini, melainkan oleh kesungguhan dalam memanfaatkan setiap kesempatan yang ada.

“Tugas kita bukan menerka masa depan, tapi memaksimalkan apa yang bisa kita lakukan sekarang, supaya nanti kita tidak menyesal,” tuturnya.

Perjalanan AlFath menjadi gambaran bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk menggapai pendidikan dan prestasi. Dari proyek bangunan hingga ruang-ruang kompetisi, ia membuktikan bahwa mimpi dapat dicapai melalui kerja keras, ketekunan, dan keberanian untuk terus melangkah.

Kisahnya juga menjadi pengingat bahwa setiap proses memiliki nilai. Debu proyek yang dahulu menempel di pakaian kerjanya kini telah berganti menjadi jejak perjuangan yang mengantarkannya berdiri sebagai salah satu mahasiswa berprestasi di UGM. Bukan karena jalan yang ia tempuh lebih mudah, melainkan karena ia memilih untuk tidak berhenti berjalan ketika keadaan memaksanya berjuang lebih keras daripada kebanyakan orang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *